Hubungan Antara Regulasi Emosi dan Kehadiran Sosial terhadap Perilaku Pembelian Impulsif pada Generasi Z

Illustrasion by Ai

FORMOSA NEWS- Surabaya

Regulasi Emosi dan Pengaruh Sosial Picu Belanja Impulsif Gen Z di Era E-Commerce

Perilaku belanja impulsif di kalangan Generasi Z (Gen Z) semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia. Penelitian terbaru oleh Yan Tamara Rosyida bersama IGAA Noviekayati dan Dyan Evita Santi dari University of 17 August 1945 Surabaya pada 2026 mengungkap bahwa kemampuan mengelola emosi dan pengaruh sosial menjadi faktor kunci yang menentukan kecenderungan belanja spontan generasi ini. Temuan ini penting karena memberikan gambaran bagaimana perilaku konsumsi Gen Z terbentuk di tengah tekanan sosial dan digitalisasi.

Perubahan gaya hidup akibat modernisasi dan teknologi telah menggeser kebiasaan belanja masyarakat dari offline ke online. Platform seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kini menjadi pilihan utama, didorong oleh berbagai promosi seperti diskon, gratis ongkir, dan cashback. Data menunjukkan jumlah pengguna e-commerce di Indonesia mencapai ratusan juta dengan nilai transaksi yang terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi munculnya perilaku konsumtif, termasuk impulsive buying atau pembelian tanpa perencanaan.

Fenomena ini semakin kuat pada Gen Z, kelompok yang lahir antara 1997 hingga 2012 dan dikenal sebagai digital native. Mereka tumbuh bersama internet, terbiasa dengan informasi instan, serta memiliki kecenderungan emosi yang lebih fluktuatif. Kombinasi ini membuat mereka lebih rentan terhadap godaan belanja spontan, terutama saat terpapar promosi atau pengaruh sosial di platform digital.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 121 responden Gen Z di Surabaya. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur tiga variabel utama: regulasi emosi, social presence (kehadiran sosial), dan perilaku belanja impulsif. Analisis dilakukan menggunakan metode statistik untuk melihat hubungan antar variabel.

Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, regulasi emosi dan social presence secara bersama-sama memiliki hubungan signifikan dengan perilaku impulsive buying. Nilai uji statistik menunjukkan hubungan yang kuat dan bermakna secara ilmiah.

Kedua, regulasi emosi memiliki hubungan negatif dengan belanja impulsif. Artinya, semakin baik seseorang mengelola emosinya, semakin rendah kecenderungan untuk membeli secara impulsif. Sebaliknya, individu dengan kontrol emosi yang rendah cenderung menggunakan belanja sebagai pelarian dari stres atau tekanan emosional.

Ketiga, social presence memiliki hubungan positif dengan perilaku impulsif. Semakin tinggi pengaruh sosial—baik dari teman, keluarga, ulasan produk, maupun interaksi di media sosial—semakin besar kemungkinan seseorang melakukan pembelian spontan. Interaksi langsung dengan penjual, live streaming, serta testimoni pengguna lain terbukti memperkuat dorongan tersebut.

Yan Tamara Rosyida dari University of 17 August 1945 Surabaya menjelaskan bahwa belanja impulsif sering muncul sebagai respons emosional. “Individu yang tidak mampu mengelola emosi dengan baik cenderung menjadikan belanja sebagai mekanisme coping untuk meredakan stres,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran sosial di platform digital menciptakan rasa kedekatan dan kepercayaan yang mendorong keputusan pembelian secara cepat.

Penelitian ini juga menemukan bahwa mayoritas responden adalah perempuan, yang secara psikologis cenderung lebih emosional dalam pengambilan keputusan belanja. Selain itu, sebagian besar responden menggunakan Shopee sebagai platform utama, menunjukkan dominasi platform tersebut dalam membentuk perilaku konsumsi Gen Z.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Bagi masyarakat, khususnya Gen Z, penting untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap kondisi emosional sebelum melakukan pembelian. Strategi sederhana seperti mencatat emosi, menunda keputusan membeli, atau mengevaluasi kebutuhan dapat membantu mengurangi perilaku impulsif.

Bagi pelaku e-commerce, temuan ini membuka peluang untuk merancang fitur yang lebih bertanggung jawab. Misalnya, fitur pengingat sebelum checkout atau desain antarmuka yang mendorong refleksi sebelum membeli. Bahkan, pendekatan inovatif seperti menukar poin belanja dengan layanan konseling dapat menjadi solusi untuk membantu pengguna mengelola emosi mereka.

Di sisi kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi edukasi literasi keuangan dan digital, terutama bagi generasi muda. Pemahaman tentang hubungan antara emosi, lingkungan sosial, dan perilaku konsumsi menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang lebih bijak dalam berbelanja.

Profil Penulis
Yan Tamara Rosyida adalah peneliti dari University of 17 August 1945 Surabaya yang fokus pada psikologi konsumen dan perilaku generasi muda. Penelitian ini juga melibatkan IGAA Noviekayati dan Dyan Evita Santi, akademisi di bidang psikologi yang memiliki keahlian dalam regulasi emosi dan perilaku sosial.

Sumber Penelitian
Rosyida, Y. T., Noviekayati, I. G. A. A., & Santi, D. E. (2026). The Relationship Between Emotional Regulation and Social Presence on Impulsive Buying Behavior in Gen Z. MADANI Multidisciplinary Journal (MUDIMA), Vol. 6 No. 4, halaman 370–383.

Posting Komentar

0 Komentar