Hubungan Antara Paritas Ibu dan Insiden Plasenta Previa di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III, Kendari

Gambar Ilustrasi AI

Ibu dengan Banyak Kehamilan Lebih Berisiko Mengalami Plasenta Previa

Penelitian terbaru dari Dian Rosmala Lestari bersama Ano Luthfa dan Zakiyah mengungkap bahwa ibu dengan riwayat melahirkan empat kali atau lebih memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami plasenta previa, salah satu komplikasi kehamilan paling berbahaya yang dapat menyebabkan perdarahan hebat saat persalinan. Penelitian yang dilakukan di STIKes Pelita Ibu dan dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan penguatan program keluarga berencana untuk menekan risiko kematian ibu dan bayi.

Temuan tersebut menjadi penting karena plasenta previa masih menjadi salah satu penyebab utama perdarahan obstetri di negara berkembang. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir sehingga meningkatkan risiko perdarahan berat, persalinan prematur, hingga kematian ibu dan bayi jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Ancaman Serius

Menurut data kesehatan global yang dikutip dalam penelitian, perdarahan saat kehamilan dan persalinan masih menjadi penyebab utama kematian ibu di banyak negara berkembang. Salah satu penyebab perdarahan paling berbahaya adalah plasenta previa.

Pada kondisi ini, posisi plasenta berada terlalu rendah di dalam rahim dan menutupi jalan lahir. Akibatnya, ibu hamil berisiko mengalami perdarahan hebat, terutama pada trimester akhir kehamilan atau saat proses persalinan berlangsung.

Penelitian menjelaskan bahwa risiko plasenta previa meningkat pada ibu dengan paritas tinggi atau jumlah persalinan yang banyak. Semakin sering seorang perempuan melahirkan, semakin besar kemungkinan terjadi perubahan pada lapisan rahim yang memengaruhi posisi implantasi plasenta pada kehamilan berikutnya.

Selain faktor biologis, penelitian juga menyoroti adanya pengaruh faktor sosial dan layanan kesehatan, seperti keterbatasan akses keluarga berencana, rendahnya edukasi kesehatan reproduksi, serta keterlambatan penanganan kegawatdaruratan obstetri.

Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Level III Kendari dengan menggunakan pendekatan kuantitatif analitik.

Tim peneliti menganalisis data rekam medis ibu bersalin untuk melihat hubungan antara jumlah persalinan sebelumnya dengan kejadian plasenta previa.

Penelitian kemudian membandingkan kelompok ibu dengan paritas rendah dan ibu dengan paritas tinggi untuk mengetahui tingkat risiko komplikasi kehamilan tersebut.

Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah persalinan dan kejadian plasenta previa dengan nilai p-value sebesar 0,004.

Artinya, risiko plasenta previa meningkat secara nyata pada ibu yang telah melahirkan berkali-kali.

Ibu dengan Paritas Tinggi Paling Berisiko

Salah satu temuan utama penelitian adalah tingginya risiko plasenta previa pada ibu dengan empat kali persalinan atau lebih.

Penelitian menemukan bahwa kelompok ibu dengan paritas tinggi menghadapi kemungkinan jauh lebih besar mengalami komplikasi plasenta dibanding ibu dengan jumlah persalinan lebih sedikit.

Peneliti menjelaskan bahwa kehamilan berulang dapat memengaruhi kondisi dinding rahim dan pembuluh darah sehingga meningkatkan kemungkinan plasenta menempel pada bagian bawah rahim.

Selain itu, penelitian juga menyoroti bahwa tingginya angka kelahiran masih dipengaruhi berbagai faktor sosial dan budaya, antara lain:

  • Preferensi keluarga besar dalam budaya tertentu
  • Keterbatasan akses layanan keluarga berencana
  • Rendahnya edukasi kesehatan reproduksi
  • Kurangnya pemeriksaan kehamilan berkala
  • Keterlambatan penanganan komplikasi obstetri

Kondisi tersebut membuat ibu dengan banyak anak menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami komplikasi kehamilan berbahaya.

Pemeriksaan Kehamilan Rutin Sangat Penting

Penelitian menegaskan bahwa deteksi dini plasenta previa dapat secara signifikan menurunkan risiko kematian ibu dan bayi.

Karena itu, ibu dengan paritas tinggi disarankan memperoleh pemantauan kehamilan lebih intensif, terutama pada trimester ketiga.

Peneliti merekomendasikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) rutin untuk mendeteksi posisi plasenta sebelum persalinan berlangsung.

Deteksi lebih awal memungkinkan tenaga kesehatan menyiapkan:

  • Persalinan di rumah sakit rujukan
  • Ketersediaan transfusi darah
  • Penanganan operasi sesar bila diperlukan
  • Pencegahan perdarahan berat saat persalinan

Menurut Dian Rosmala Lestari dan tim peneliti dari STIKes Pelita Ibu, pemeriksaan antenatal yang baik dapat membantu mengurangi komplikasi serius akibat plasenta previa.

Program Keluarga Berencana Dinilai Sangat Strategis

Penelitian juga menyoroti pentingnya penguatan program keluarga berencana sebagai strategi pencegahan jangka panjang.

Menurut penelitian, pengaturan jarak kelahiran dan pembatasan jumlah anak hingga maksimal tiga kelahiran dapat membantu mengurangi risiko plasenta previa dan komplikasi perdarahan obstetri lainnya.

Tenaga kesehatan seperti bidan dan petugas kesehatan komunitas dinilai memiliki peran penting dalam memberikan edukasi mengenai risiko kehamilan berulang kepada masyarakat.

Penelitian merekomendasikan agar informasi tentang risiko paritas tinggi mulai disampaikan sejak pemeriksaan kehamilan pertama.

Selain itu, seluruh persalinan ibu berisiko tinggi disarankan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan kegawatdaruratan obstetri.

Penting bagi Kebijakan Kesehatan Ibu

Temuan penelitian memiliki implikasi besar bagi pelayanan kesehatan ibu di Indonesia dan negara berkembang lainnya.

Penelitian menegaskan bahwa upaya menurunkan angka kematian ibu tidak cukup hanya dengan memperluas akses persalinan, tetapi juga harus memperkuat deteksi risiko sejak awal kehamilan.

Selain itu, penguatan layanan keluarga berencana, edukasi kesehatan reproduksi, dan pemeriksaan antenatal berkualitas menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi obstetri berbahaya.

Menurut penelitian, ibu dengan riwayat persalinan banyak perlu diprioritaskan dalam sistem pemantauan kesehatan ibu karena memiliki risiko komplikasi lebih tinggi dibanding kelompok lainnya.

Profil Penulis

Dian Rosmala Lestari merupakan peneliti kebidanan dari STIKes Pelita Ibu dengan fokus pada kesehatan ibu, komplikasi kehamilan, pelayanan kebidanan, dan kesehatan reproduksi perempuan.

Ano Luthfa adalah akademisi bidang kebidanan dan kesehatan maternal yang aktif meneliti faktor risiko komplikasi persalinan dan kesehatan ibu di Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian Plasenta Previa di Rumah Sakit Bhayangkara Level III Kendari
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar