Pengungkapan Status HIV Pengaruhi Kepercayaan dan Keintiman Pasangan Serodiskordan di Nigeria
Penelitian terbaru dari Federal University Otuoke dan University of Uyo menemukan bahwa pengungkapan status HIV positif dalam hubungan serodiskordan—ketika satu pasangan HIV positif dan pasangan lainnya negatif atau belum diketahui statusnya—dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dan keintiman seksual pasangan. Studi ini dilakukan di Northern Senatorial District, Cross River State, Nigeria, dan dipublikasikan tahun 2026 dalam jurnal ilmiah International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS).
Riset yang dipimpin oleh Lawrence Adhowhoarie Oboma bersama Victor Effiong Ben menyoroti sisi sosial dan emosional dari pengungkapan status HIV, sebuah isu yang masih menjadi tantangan besar di banyak negara Afrika Sub-Sahara.
Para peneliti menilai bahwa pengungkapan status HIV bukan sekadar tindakan medis, tetapi juga keputusan sosial yang dapat mengubah dinamika hubungan pasangan, termasuk komunikasi, komitmen, rasa percaya, dan hubungan intim.
HIV Masih Menjadi Tantangan Besar di Afrika
Nigeria merupakan salah satu negara dengan jumlah penderita HIV terbesar di dunia. Data UNAIDS menunjukkan jutaan orang hidup dengan HIV, dan sebagian besar infeksi baru terjadi dalam hubungan tetap atau pernikahan.
Dalam hubungan serodiskordan, pasangan yang HIV negatif memiliki risiko tertular jika tidak ada keterbukaan, pengobatan, dan perlindungan yang memadai. Karena itu, pengungkapan status HIV dianggap penting untuk mencegah penularan, meningkatkan penggunaan kondom, memperkuat kepatuhan terapi antiretroviral (ART), serta membuka akses dukungan psikologis dan sosial.
Namun, di sisi lain, pengungkapan status HIV juga dapat memicu ketakutan, stigma, diskriminasi, bahkan konflik rumah tangga. Kondisi inilah yang ingin dipahami lebih dalam oleh tim peneliti.
Libatkan 244 Orang dengan HIV
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei potong lintang terhadap 244 orang dengan HIV yang sedang menjalani hubungan serodiskordan minimal tiga bulan.
Para responden direkrut menggunakan teknik purposive dan snowball sampling di lima wilayah pemerintahan lokal di Cross River State, Nigeria Utara. Pengumpulan data dilakukan menggunakan aplikasi digital Open Data Kit (ODK) Collect untuk mempermudah pencatatan dan menjaga efisiensi penelitian.
Sebagian besar responden adalah perempuan, yaitu 61,9 persen, sementara laki-laki mencapai 38,1 persen. Rentang usia responden berada antara 19 hingga 54 tahun.
Menariknya, hanya 44,3 persen responden yang mengaku telah mengungkapkan status HIV mereka kepada pasangan. Sisanya, 55,7 persen, memilih untuk tidak memberi tahu pasangan mereka tentang kondisi tersebut.
Kepercayaan dan Keintiman Paling Terdampak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak responden mengalami perubahan dinamika hubungan setelah status HIV diketahui pasangan.
Pada hubungan sebelumnya, sekitar 59,4 persen responden melaporkan penurunan tingkat komitmen dan kepercayaan pasangan. Sementara itu, 65,2 persen mengaku mengalami penurunan keintiman seksual.
Dalam hubungan saat ini, lebih dari separuh responden juga melaporkan berkurangnya komitmen dan keintiman seksual. Namun, beberapa responden menyatakan komunikasi dan kepercayaan tetap stabil setelah pengungkapan status HIV.
Analisis statistik menunjukkan bahwa pengungkapan status HIV tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan komitmen dan komunikasi pasangan. Akan tetapi, pengungkapan status HIV terbukti berkaitan signifikan dengan penurunan peluang meningkatnya rasa percaya dan keintiman seksual dalam hubungan.
Peneliti menemukan bahwa individu yang mengungkapkan status HIV mereka memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami peningkatan kepercayaan dan keintiman dibandingkan pasangan yang tidak mengalami perubahan hubungan.
Menurut tim peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa dampak pengungkapan HIV bersifat kompleks dan sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan, dukungan pasangan, kondisi psikologis, serta lingkungan sosial di sekitar pasangan.
Stigma Masih Menjadi Hambatan
Penelitian ini memperlihatkan bahwa stigma terhadap HIV masih kuat dan dapat memengaruhi hubungan emosional pasangan.
Beberapa studi sebelumnya yang dirujuk dalam penelitian juga menunjukkan bahwa pengungkapan status HIV dapat memicu rasa takut tertular, kecemasan, kekerasan dalam hubungan, hingga perpisahan pasangan.
Meski demikian, peneliti menekankan bahwa keterbukaan tetap penting dalam pencegahan HIV. Pengungkapan status dapat membantu pasangan mengambil keputusan yang lebih aman terkait hubungan seksual, pengobatan, dan perencanaan keluarga.
“Pengungkapan status HIV memiliki implikasi penting terhadap hubungan serodiskordan, terutama dalam aspek kepercayaan dan keintiman,” tulis Oboma dan Ben dalam publikasi mereka.
Perlunya Dukungan Konseling Pasangan
Peneliti merekomendasikan agar layanan kesehatan dan organisasi non-pemerintah menyediakan konseling khusus bagi pasangan serodiskordan.
Konseling tersebut dinilai penting untuk membantu pasangan membangun komunikasi yang sehat, meningkatkan rasa saling percaya, serta memahami risiko dan pengelolaan HIV secara bersama.
Selain itu, edukasi publik mengenai HIV juga perlu diperkuat agar stigma terhadap orang dengan HIV dapat dikurangi. Dengan lingkungan sosial yang lebih suportif, proses pengungkapan status HIV diharapkan menjadi lebih aman dan tidak merusak hubungan pasangan.
Temuan ini juga dianggap relevan secara global karena tantangan hubungan serodiskordan tidak hanya terjadi di Nigeria, tetapi juga di berbagai negara berkembang lainnya.
Profil Penulis
Lawrence Adhowhoarie Oboma merupakan akademisi dari Federal University Otuoke yang memiliki fokus penelitian pada sosiologi kesehatan, HIV/AIDS, dan dinamika hubungan sosial.
Victor Effiong Ben berasal dari University of Uyo dengan bidang keahlian kesehatan masyarakat dan penelitian perilaku kesehatan.
Sumber Penelitian
Judul artikel: HIV-Positive Status Disclosure and Relationship Dynamics Among Serodiscordant Partners in Northern Senatorial District of Cross River State, Nigeria.
Dipublikasikan dalam International Journal of Natural and Health Sciences Volume 4 Nomor 2 Tahun 2026.
0 Komentar