Guru SMA Filipina Dinilai Kuat dalam Literasi Digital Dasar, Tapi Masih Lemah di Spreadsheet



Gambar dibuat ole AI

Kemampuan komputer dan literasi digital guru sekolah menengah atas di Filipina dinilai cukup kuat dalam penggunaan dasar teknologi, terutama komunikasi digital, internet, dan pengolahan kata. Namun, kemampuan guru dalam penggunaan spreadsheet, analisis data, serta fitur teknis lanjutan masih memerlukan peningkatan. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Juvy O. Nonan dan Celso C. Dumalig di Alicia South District, Isabela, Filipina.

Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Educational Research (IJAER) tahun 2026 tersebut menyoroti kesiapan digital guru sekolah menengah atas di tengah meningkatnya kebutuhan integrasi teknologi dalam pendidikan modern. Studi ini menjadi penting karena transformasi digital pendidikan semakin cepat setelah pandemi COVID-19 dan mendorong sekolah untuk mengandalkan pembelajaran berbasis teknologi.

Juvy O. Nonan dari Palayan Region High School dan Celso C. Dumalig dari Pangal Sur High School serta Northeastern College Inc. meneliti bagaimana tingkat literasi komputer dan digital guru memengaruhi efektivitas pembelajaran di sekolah menengah atas. Penelitian dilakukan terhadap 29 guru di Alicia South District, Alicia, Isabela, Filipina menggunakan pendekatan deskriptif-korelasional melalui kuesioner dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki kemampuan sangat baik dalam operasi komputer dasar, komunikasi digital, penggunaan internet, dan pengolahan dokumen. Namun, keterampilan yang berkaitan dengan spreadsheet, grafis, serta pengolahan dokumen tingkat lanjut masih berada pada level “baik” dan belum mencapai kategori sangat mahir.

Penelitian ini juga menggambarkan profil guru yang menjadi responden. Mayoritas guru berada pada rentang usia 21–30 tahun dengan persentase 37,93 persen, diikuti kelompok usia 31–40 tahun sebesar 31,03 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar guru termasuk generasi muda yang relatif lebih dekat dengan teknologi digital dibanding generasi sebelumnya.

Selain itu, sekitar 68,97 persen responden merupakan perempuan, sementara laki-laki hanya 31,03 persen. Mayoritas guru juga memiliki latar belakang pendidikan sarjana pendidikan dasar dan magister, yang menunjukkan adanya komitmen terhadap pengembangan profesional di bidang pendidikan.

Dalam penggunaan aplikasi komputer, seluruh responden mengaku familiar dengan Microsoft Office, aplikasi internet, dan media sosial. Namun hanya 27,59 persen guru yang memiliki kemampuan menggunakan aplikasi pengeditan video, sementara penggunaan aplikasi desain dan editing lanjutan masih sangat terbatas.

Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar guru hanya menggunakan komputer selama 1–3 jam per hari. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi masih lebih banyak dilakukan untuk kebutuhan administratif dasar seperti penyusunan materi pelajaran, komunikasi, dan pelaporan, bukan untuk aktivitas digital yang lebih kompleks atau inovatif.

Pada aspek operasi komputer dasar, para guru menunjukkan kemampuan yang sangat baik. Mereka sangat mahir dalam membuat folder, mengelola file, mencetak dokumen, serta menggunakan fungsi dasar komputer lainnya. Nilai rata-rata kemampuan operasi komputer umum mencapai 3,78 dan masuk kategori “Very Proficient”.

Kemampuan komunikasi dan internet bahkan memperoleh skor lebih tinggi dengan rata-rata 4,29 atau kategori “Excellent”. Guru dinilai sangat mahir menggunakan email, mesin pencari internet, browser, serta melakukan navigasi situs web dan pencarian informasi online. Peneliti menilai kemampuan ini menjadi modal penting dalam mendukung pembelajaran berbasis digital dan kolaborasi daring.

Dalam penggunaan aplikasi pengolah kata seperti Microsoft Word, guru juga menunjukkan kemampuan tinggi, terutama dalam mengetik teks, mencetak dokumen, menggunakan fitur edit, dan memanfaatkan pemeriksaan tata bahasa otomatis. Namun penelitian menemukan kelemahan pada aspek yang lebih teknis seperti penggunaan sitasi, footnote, pengaturan referensi, serta format akademik tingkat lanjut.

Salah satu kelemahan terbesar justru ditemukan pada kemampuan spreadsheet. Rata-rata kemampuan spreadsheet guru hanya memperoleh skor 2,86 atau kategori “Good”. Kemampuan membuat formula dan fungsi perhitungan otomatis bahkan menjadi indikator dengan nilai terendah dalam penelitian ini.

Menurut peneliti, keterbatasan kemampuan spreadsheet dapat memengaruhi efisiensi guru dalam mengelola nilai, menganalisis data siswa, dan menyusun laporan akademik berbasis data. Padahal kemampuan pengolahan data kini menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan modern yang semakin mengandalkan analitik dan pelaporan digital.

Kemampuan desain grafis dan multimedia juga masih berada pada level sedang. Guru cukup mampu menggunakan clip art, mengatur font, dan membuat desain sederhana, tetapi belum terlalu mahir dalam pengolahan gambar lanjutan, pemindaian visual, maupun pengolahan multimedia berbasis video.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kesenjangan digital dalam pendidikan tidak selalu berkaitan dengan akses terhadap teknologi, tetapi juga menyangkut kedalaman kompetensi digital yang dimiliki guru. Meski sebagian besar guru telah terbiasa menggunakan komputer dan internet, tidak semua memiliki kemampuan teknis lanjutan yang dibutuhkan dalam pembelajaran digital modern.

Juvy O. Nonan dan Celso C. Dumalig menekankan bahwa pelatihan profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan digital guru, khususnya pada aspek spreadsheet, pengolahan data, multimedia, dan sitasi akademik. Menurut mereka, kemampuan teknologi guru tidak hanya memengaruhi efisiensi administrasi sekolah, tetapi juga kualitas pengalaman belajar siswa di kelas digital.

Penelitian juga merekomendasikan pelaksanaan pelatihan khusus terkait spreadsheet, desain multimedia, dan integrasi teknologi pembelajaran berbasis internet. Selain itu, sekolah didorong membangun sistem kolaborasi di mana guru yang lebih mahir secara digital dapat membantu rekan kerja lain melalui pendampingan dan pelatihan internal.

Secara lebih luas, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan digital tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi. Penguatan kompetensi guru menjadi faktor utama agar teknologi benar-benar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, kreativitas siswa, dan efektivitas pendidikan di era digital.

Profil Penulis

Juvy O. Nonan merupakan guru dan peneliti dari Palayan Region High School, Department of Education, Alicia, Isabela, Filipina. Penelitian ini dilakukan bersama Celso C. Dumalig dari Pangal Sur High School dan Graduate School, Northeastern College Inc., Santiago City, Filipina. Keduanya memiliki fokus penelitian pada literasi digital, teknologi pendidikan, dan pengembangan kompetensi guru di era pembelajaran digital.

Sumber Penelitian

Juvy O. Nonan & Celso C. Dumalig. “Computer and Digital Literacy of Senior High School Teachers.” International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 2, 2026, halaman 111–128. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i2.242

Posting Komentar

0 Komentar