Kemampuan membaca masih menjadi tantangan serius di sekolah dasar Filipina. Penelitian terbaru yang dilakukan Genalyn L. Maglipas dan Celso C. Dumalig menemukan bahwa guru-guru kelas 1 menghadapi tekanan emosional dan tantangan instruksional yang besar ketika menangani siswa yang belum bisa membaca. Meski demikian, para guru tetap menunjukkan komitmen tinggi melalui berbagai strategi pembelajaran seperti fonik, guided reading, dan program remedial untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan literasi dasar.
Penelitian tersebut dilakukan di Sitio Tapayan Elementary School, Taytay, Rizal, Filipina, dan dipublikasikan dalam International Journal of Applied Educational Research (IJAER) tahun 2026. Studi ini menjadi penting karena masalah “non-readers” atau siswa yang belum mampu membaca masih menjadi persoalan besar dalam pendidikan dasar di Filipina maupun negara berkembang lainnya.
Menurut peneliti, kemampuan membaca merupakan fondasi utama bagi seluruh proses belajar anak. Ketika siswa mengalami kesulitan membaca pada tahap awal pendidikan dasar, dampaknya dapat berlanjut pada penurunan prestasi akademik, rendahnya rasa percaya diri, hingga meningkatnya risiko learning poverty atau kemiskinan pembelajaran.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Filipina telah menjalankan berbagai program literasi dan intervensi membaca di sekolah dasar. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih menghadapi banyak kendala, mulai dari keterbatasan sumber belajar, ukuran kelas yang besar, hingga rendahnya keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran membaca di rumah.
Genalyn L. Maglipas dari Sitio Tapayan Elementary School bersama Celso C. Dumalig dari Pangal Sur High School dan Northeastern College Inc. melakukan penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi kelas untuk memahami pengalaman nyata guru dalam menangani siswa kelas 1 yang belum mampu membaca.
Penelitian melibatkan guru dan tenaga sekolah yang memiliki pengalaman langsung dalam mengajar siswa non-pembaca. Analisis dilakukan menggunakan thematic analysis untuk menemukan pola-pola utama terkait tantangan, strategi pengajaran, dan mekanisme adaptasi guru di kelas.
Hasil penelitian menemukan tiga tema utama terkait pengalaman guru dalam menangani siswa non-pembaca.
Pertama, guru mengalami beban emosional dan instruksional yang tinggi. Banyak guru mengaku merasa frustrasi dan kelelahan ketika siswa menunjukkan perkembangan membaca yang lambat meskipun berbagai intervensi telah dilakukan secara berulang. Tekanan tersebut semakin berat karena guru juga harus menangani jumlah siswa yang besar dalam satu kelas.
Meski demikian, tema kedua menunjukkan bahwa guru tetap memiliki komitmen kuat terhadap perkembangan siswa. Para guru rela menambah waktu mengajar, memberikan perhatian individual, bahkan menggunakan sumber daya pribadi untuk membantu siswa belajar membaca. Penelitian menunjukkan bahwa dedikasi dan ketahanan guru menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program literasi di sekolah dasar.
Tema ketiga berkaitan dengan pengakuan terhadap kemajuan kecil siswa. Guru mengaku merasa termotivasi ketika siswa mulai mampu mengenali huruf, membaca suku kata sederhana, atau memahami kata dasar. Perkembangan kecil tersebut dianggap sebagai tanda keberhasilan yang memperkuat semangat guru untuk terus mendampingi siswa non-pembaca.
Penelitian ini juga mengungkap berbagai strategi pembelajaran yang digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1. Salah satu pendekatan paling dominan adalah pembelajaran fonik atau phonics instruction, yaitu metode yang mengajarkan hubungan antara huruf dan bunyi secara sistematis. Guru menggunakan latihan pengenalan huruf, decoding, dan pengulangan bunyi untuk membantu siswa memahami dasar membaca.
Selain itu, guru juga menerapkan guided reading, sesi remedial membaca, tutor sebaya, penggunaan gambar visual, dan metode bercerita untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa agar proses belajar menjadi lebih inklusif dan efektif.
Namun efektivitas strategi tersebut masih dipengaruhi oleh sejumlah kendala besar. Penelitian menemukan bahwa keterbatasan bahan ajar, minimnya waktu pembelajaran individual, dan rendahnya dukungan keluarga menjadi faktor yang memperlambat peningkatan kemampuan membaca siswa.
Guru juga menghadapi tantangan motivasi siswa. Beberapa anak menunjukkan kesulitan berkonsentrasi dan kurang memiliki pengalaman membaca di rumah. Penelitian menegaskan bahwa kemampuan membaca tidak hanya dipengaruhi faktor akademik, tetapi juga kondisi lingkungan keluarga dan sosial siswa.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, para guru mengembangkan berbagai mekanisme adaptasi. Mereka mengadakan sesi remedial tambahan, melibatkan siswa yang lebih mahir sebagai tutor sebaya, dan mencoba memperkuat komunikasi dengan orang tua. Strategi motivasi seperti permainan membaca, sistem penghargaan, dan storytelling juga digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa.
Penelitian ini turut menyusun rencana aksi yang direkomendasikan bagi sekolah dasar dalam menangani siswa non-pembaca. Beberapa rekomendasi utama meliputi pelaksanaan sesi remedial harian berbasis fonik, pengembangan bahan ajar lokal, peningkatan pelatihan guru terkait literasi awal, serta penguatan program membaca di rumah melalui keterlibatan orang tua.
Menurut Maglipas dan Dumalig, peningkatan kemampuan membaca siswa membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan guru, kepala sekolah, keluarga, dan komunitas pendidikan secara keseluruhan. Penelitian ini menekankan bahwa guru tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan institusi dan lingkungan rumah yang kondusif bagi perkembangan literasi anak.
Studi ini juga menyoroti pentingnya pengembangan profesional guru secara berkelanjutan. Pelatihan khusus tentang literasi awal, strategi intervensi membaca, dan pendekatan pembelajaran adaptif dinilai sangat penting untuk membantu guru menghadapi tantangan pendidikan dasar modern.
Secara lebih luas, penelitian ini memperlihatkan bahwa persoalan siswa non-pembaca bukan hanya masalah akademik sederhana, tetapi juga isu sosial dan pendidikan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan lembaga pendidikan. Di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang learning poverty, kemampuan membaca pada usia dini menjadi indikator penting kualitas pendidikan dasar suatu negara.
Profil Penulis
Genalyn L. Maglipas merupakan pendidik di Sitio Tapayan Elementary School, Department of Education, Rizal, Filipina. Ia juga terafiliasi dengan Graduate School, Northeastern College Inc., Santiago City, Filipina. Penelitian ini dilakukan bersama Celso C. Dumalig dari Pangal Sur High School dan Northeastern College Inc. yang memiliki fokus penelitian pada literasi dasar, strategi pengajaran membaca, dan pengembangan pendidikan dasar.
Sumber Penelitian
Genalyn L. Maglipas & Celso C. Dumalig. “Exploring Teachers’ Perceptions and Classroom Practices in Addressing Grade 1 Non-Readers at Sitio Tapayan Elementary School.” International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 2, 2026, halaman 129–140. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i2.241

0 Komentar