Yogyakarta — Dominasi media sosial kini telah menggeser fungsi televisi sebagai sumber utama konsumsi informasi publik, termasuk dalam ranah politik nasional. Solomon Darren Wang dan Budhi Susilo, dua peneliti dari Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, mempublikasikan riset pada tahun 2026 yang mengupas tuntas fenomena pemanfaatan platform TikTok dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia 2024. Investigasi ilmiah ini membuktikan bahwa strategi kampanye digital berbasis Key Opinion Customer (KOC) dan Cultural Opinion Leader (COL) sukses memengaruhi preferensi serta pilihan politik pemilih dari kalangan Generasi Z secara masif.
TikTok telah mengumpulkan lebih dari 125 million pengguna aktif di Indonesia, menjadikannya sebagai basis massa digital terbesar kedua setelah televisi untuk menyebarkan informasi bertema politik. Pada pergelaran Pilpres 2024, dinamika ini menjadi sangat krusial mengingat struktur demografi pemilih didominasi oleh kelompok muda di bawah usia 40 tahun yang mencakup 52 persen dari total populasi pemilih nasional. Realitas tersebut direspon secara agresif oleh tim kreatif pasangan calon, salah satunya Prabowo Subianto yang saat itu berusia 72 tahun. Melalui penataan konten video pendek yang kreatif dan terencana, citra politik sang calon berhasil ditransformasikan menjadi sosok yang jenaka dan ramah melalui gerakan tarian khas yang viral secara organik di jagat maya. Langkah serupa juga diadopsi oleh rival politiknya, seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, yang aktif memanfaatkan fitur siaran langsung untuk menjawab pertanyaan pemilih pemula secara riil.
Meskipun efektivitas persebaran informasi di TikTok sangat tinggi, riset ini mengidentifikasi tantangan besar berupa maraknya peredaran konten manipulatif yang menyasar ketidakpahaman Generasi Z terhadap konteks sejarah politik masa lalu. Narasi yang dikonstruksi secara digital sering kali mengaburkan rekam jejak historis para kandidat melalui penyebaran video rekayasa genetika teks serta visual palsu yang manipulatif (deepfake). Selain itu, penetrasi kampanye lewat media sosial ini masih terbentur oleh kendala infrastruktur berupa ketimpangan akses internet di sejumlah wilayah luar Pulau Jawa, yang berpotensi memicu ketidakonsistenan distribusi perolehan suara kandidat. Risiko adanya kampanye hitam (black campaign) berupa hoaks dan fitnah politik juga menuntut kewaspadaan tinggi dari tim digital masing-masing partai.
Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dirancang untuk menganalisis fenomena interaksi sosial dan preferensi politik secara mendalam. Tim peneliti mengumpulkan data primer dan sekunder melalui metode observasi daring terhadap tren konten kampanye, analisis dokumen regulasi, peninjauan literatur perilaku pemilih, serta pengorganisasian narasi temuan yang berkembang di platform TikTok selama periode pemilu berlangsung.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa kesuksesan pemanfaatan TikTok sebagai instrumen politik didorong oleh kecocokan algoritma platform dengan karakteristik psikologis Generasi Z yang menyukai model kampanye kreatif, interaktif, dan penuh hiburan. Penggunaan figur pemberi pengaruh berbasis konsumen (Key Opinion Customer) memberikan tingkat kredibilitas ulasan yang lebih dipercaya oleh anak muda karena dianggap tidak membawa kepentingan komersial langsung dari partai politik. Strategi pengemasan pesan politik melalui pilar konten yang terstruktur berhasil mendongkrak popularitas dan nilai keterpilihan kandidat di mata publik. Komunikasi dua arah yang tercipta melalui kolom komentar juga dinilai efektif membangun kedekatan emosional antara pemilih pemula dan figur pemimpin yang mereka dukung.
Implikasi luas dari temuan ilmiah ini menegaskan bahwa arsitektur kampanye politik masa depan wajib mengintegrasikan literasi informasi bagi masyarakat untuk membentengi pemilih dari paparan berita bohong. Para politisi dan partai politik dituntut untuk mengedepankan transparansi informasi tanpa manipulasi konten demi menjaga integritas proses demokrasi. Bagi dunia pendidikan dan pengambil kebijakan, riset ini memberikan sinyal kuat perlunya kurikulum kewarganegaraan digital guna melatih daya kritis generasi muda dalam menyaring setiap narasi politik yang berseliweran di media sosial.
Profil Peneliti
- Solomon Darren Wang – Guangxi Overseas Chinese School
- Budhi Susilo – Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: Tiktok Effect Toward the Indonesia President Election 2024 (Using Key Opinion Customer (KOC) and Cultural Opinion Leader (COL) Toward Z Generation)
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 5, 2026: 1759-1768
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.68
URL Resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar