Etika Akademik di Era AI: Sebuah Studi tentang Persepsi Guru terhadap Penyalahgunaan Teknologi oleh Siswa

Persepsi Guru: Penyalahgunaan AI oleh Siswa Ancam Etika Akademik di Sekolah
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, namun juga memunculkan tantangan serius terkait etika akademik. Hal ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Ignatius Joko Dewanto dari Universitas Tangerang Raya, yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS). Studi ini menyoroti bagaimana guru memandang penggunaan dan penyalahgunaan teknologi AI oleh siswa, serta dampaknya terhadap kejujuran akademik. Penelitian ini menjadi penting karena penggunaan AI seperti ChatGPT dan alat serupa semakin meluas di kalangan pelajar. Di satu sisi, teknologi ini membantu proses belajar, tetapi di sisi lain membuka peluang praktik tidak etis seperti plagiarisme dan ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis.

Latar Belakang: AI dan Tantangan Baru Etika Pendidikan
Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap teknologi berbasis AI menjadi semakin mudah dan murah. Siswa kini dapat menghasilkan esai, menjawab soal, hingga menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pendidik. Ignatius Joko Dewanto mencatat bahwa perubahan ini tidak hanya berdampak pada cara belajar, tetapi juga menggeser nilai-nilai dasar dalam pendidikan, khususnya kejujuran akademik. Ketika batas antara “membantu belajar” dan “melakukan kecurangan” menjadi kabur, institusi pendidikan menghadapi dilema besar.

Metode Penelitian: Mendengar Langsung Suara Guru
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dewanto melibatkan guru sekolah menengah sebagai informan utama untuk menggali pandangan mereka secara mendalam. Data dikumpulkan melalui:
-Wawancara mendalam
-Kuesioner terbuka
Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk menemukan pola dan isu utama yang muncul dari pengalaman para guru. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana AI digunakan oleh siswa di lapangan, bukan sekadar asumsi teoritis.

Temuan Utama: AI Bermanfaat, Tapi Berisiko
Hasil penelitian menunjukkan adanya dua sisi dalam penggunaan AI di pendidikan. Guru mengakui bahwa AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran, tetapi juga membawa risiko serius. Beberapa temuan utama antara lain:
AI membantu pembelajaran, tetapi meningkatkan ketergantungan
Guru melihat AI sebagai alat yang dapat mempercepat pemahaman siswa. Namun, banyak siswa menjadi terlalu bergantung dan tidak lagi berpikir mandiri.
Meningkatnya risiko plagiarisme
Kemudahan menghasilkan teks otomatis membuat siswa lebih rentan melakukan plagiarisme, baik disengaja maupun tidak.
Menurunnya kemampuan berpikir kritis
Ketika jawaban bisa diperoleh instan, proses berpikir mendalam menjadi berkurang. Ini dikhawatirkan berdampak jangka panjang pada kualitas pembelajaran.
Batas antara bantuan dan kecurangan menjadi kabur
Guru kesulitan membedakan apakah siswa menggunakan AI sebagai alat bantu atau sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Minimnya regulasi dan panduan
Banyak sekolah belum memiliki aturan jelas terkait penggunaan AI, sehingga siswa menggunakan teknologi tanpa batasan etis yang kuat.

Implikasi: Perlu Aturan dan Literasi Digital yang Lebih Kuat
Penelitian ini menegaskan bahwa masalah utama bukan pada teknologinya, melainkan pada cara penggunaannya. Tanpa regulasi dan edukasi yang memadai, AI berpotensi merusak nilai-nilai dasar pendidikan. Ignatius Joko Dewanto menekankan bahwa institusi pendidikan perlu segera mengambil langkah strategis, antara lain:
-Menyusun kebijakan resmi penggunaan AI di sekolah
-Meningkatkan literasi digital dan etika teknologi bagi siswa
-Melatih guru agar mampu mengintegrasikan AI secara sehat dalam pembelajaran
-Mengembangkan metode evaluasi yang lebih adaptif terhadap era digital
Menurut Dewanto, AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikannya. “Guru melihat AI sebagai peluang besar, tetapi tanpa pengawasan yang tepat, teknologi ini justru dapat melemahkan integritas akademik,” menjadi inti dari temuan penelitian ini.

Dampak Lebih Luas: Pendidikan di Persimpangan Jalan
Temuan ini tidak hanya relevan bagi sekolah, tetapi juga bagi pembuat kebijakan, perguruan tinggi, dan dunia pendidikan secara umum. Era AI menuntut perubahan paradigma, dari sekadar transfer pengetahuan menjadi penguatan karakter dan etika. Jika tidak diantisipasi, generasi pelajar berisiko tumbuh dengan kemampuan teknis tinggi tetapi integritas rendah. Sebaliknya, dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi katalis untuk pembelajaran yang lebih personal, kreatif, dan efektif.

Profil Penulis
Ignatius Joko Dewanto adalah akademisi dari Universitas Tangerang Raya yang memiliki fokus penelitian pada pendidikan, etika akademik, dan transformasi digital dalam pembelajaran. Ia aktif mengkaji dampak teknologi terhadap perilaku belajar dan nilai-nilai pendidikan di era modern.

Sumber Penelitian
Dewanto, Ignatius Joko. (2026). Academic Ethics in the Age of AI: A Study of Teachers Perceptions of Students Misuse of Technology. International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS), Vol. 4 No. 1, halaman 87–102.

Posting Komentar

0 Komentar