Ekstrak Garut Dinilai Berpotensi Hambat Bakteri Resisten Antibiotik

Ilustrasi by AI

LAGUNA – Ekstrak etanol umbi garut atau arrowroot dinilai memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami untuk menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa, bakteri penyebab infeksi rumah sakit yang dikenal sangat resisten terhadap antibiotik. Temuan ini dipublikasikan oleh Jhon Michael Celerio, Angelo Emralino, Sophia Gutierrez, dan Asnar Aloro dari Laguna State Polytechnic University, Filipina, dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research tahun 2026.

Penelitian tersebut menjadi sorotan karena meningkatnya kasus resistensi antibiotik di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Pseudomonas aeruginosa dikenal sebagai salah satu bakteri paling sulit ditangani di rumah sakit karena mampu bertahan terhadap berbagai jenis antibiotik dan membentuk biofilm pelindung yang membuat pengobatan semakin rumit.

Bakteri ini sering menyerang pasien dengan kondisi imun lemah, luka terbuka, pasien ICU, hingga pengguna alat medis seperti kateter dan ventilator. Infeksi yang ditimbulkan dapat berupa pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi luka, hingga sepsis yang berisiko menyebabkan kematian.

Dalam laporan penelitian disebutkan bahwa angka infeksi rumah sakit di Asia Tenggara masih tergolong tinggi. Indonesia bahkan disebut memiliki salah satu tingkat prevalensi tertinggi di kawasan tersebut. Kondisi ini mendorong peneliti mencari alternatif antibakteri berbasis bahan alami yang lebih aman dan berpotensi membantu mengurangi ketergantungan pada antibiotik sintetis.

Tim peneliti memilih tanaman garut atau Maranta arundinacea karena tanaman tropis ini selama ini lebih dikenal sebagai sumber pati pangan, padahal bagian rimpangnya juga mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan fenol.

Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antibakteri, antioksidan, dan antiinflamasi. Flavonoid misalnya, mampu menghambat pembentukan biofilm bakteri dan merusak membran sel mikroorganisme. Sementara saponin bekerja seperti deterjen alami yang meningkatkan permeabilitas dinding sel bakteri sehingga bakteri lebih mudah rusak.

Penelitian dilakukan selama delapan minggu menggunakan metode eksperimen laboratorium. Umbi garut dikumpulkan dari daerah pegunungan di Nagcarlan, Laguna, Filipina, kemudian dikeringkan dan diekstraksi menggunakan etanol 60 persen selama tujuh hari.

Ekstrak tersebut kemudian diuji terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dalam beberapa konsentrasi berbeda, yaitu 40 persen, 70 persen, dan 100 persen. Peneliti membandingkan kemampuan hambatan pertumbuhan bakteri dari masing-masing konsentrasi dengan kelompok kontrol yang hanya menggunakan etanol.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak garut, semakin kuat kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. Konsentrasi 100 persen menghasilkan zona hambat rata-rata 5,5 milimeter dan dikategorikan efektif. Konsentrasi 70 persen menghasilkan zona hambat 5 milimeter dan juga dinilai efektif.

Sementara konsentrasi 40 persen menghasilkan zona hambat 4,05 milimeter yang dikategorikan cukup efektif. Kelompok kontrol hanya menghasilkan hambatan 2,4 milimeter dan dinilai tidak efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Analisis statistik menunjukkan hasil tersebut signifikan secara ilmiah dengan nilai p sebesar 0,0014. Artinya, perbedaan kemampuan hambatan antara ekstrak garut dan etanol biasa tidak terjadi secara kebetulan.

Menurut Sophia Gutierrez dan tim peneliti, hasil ini memperlihatkan bahwa ekstrak etanol garut memiliki potensi sebagai sumber antibakteri alami terhadap bakteri resisten antibiotik. Efek antibakteri tersebut diperkirakan berasal dari kombinasi berbagai senyawa bioaktif yang terdapat dalam rimpang garut.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa tanaman pangan lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai farmasi yang potensial. Garut yang biasanya hanya diolah menjadi tepung, kue, atau makanan tradisional kini mulai dilihat sebagai sumber bahan bioaktif untuk pengembangan obat alami.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa penelitian masih dilakukan dalam skala laboratorium atau in vitro sehingga belum dapat langsung diterapkan sebagai obat medis bagi manusia. Pengujian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui dosis aman, tingkat toksisitas, serta efektivitasnya dalam tubuh manusia.

Tim peneliti juga menyarankan penelitian lanjutan untuk mengisolasi senyawa aktif paling dominan dari ekstrak garut dan membandingkannya dengan antibiotik konvensional. Pengembangan kombinasi antara antibiotik dan ekstrak tanaman juga dinilai berpotensi menjadi strategi baru dalam menghadapi resistensi antibiotik global.

Menurut Asnar Aloro dari Laguna State Polytechnic University, pemanfaatan tanaman lokal sebagai sumber antimikroba alami dapat membuka peluang baru bagi pengembangan farmasi berbasis biodiversitas tropis. Selain lebih ramah lingkungan, pendekatan ini juga dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Temuan tersebut sekaligus memperkuat tren penelitian global yang mulai beralih pada eksplorasi senyawa alami untuk menghadapi ancaman bakteri super atau superbug yang semakin kebal terhadap obat modern.

Profil Penulis:

Jhon Michael Celerio, Angelo Emralino, Sophia Gutierrez, dan Asnar Aloro berasal dari Laguna State Polytechnic University, Filipina, dengan fokus penelitian pada mikrobiologi, bioaktif tanaman, antibakteri alami, dan pengembangan agen antimikroba berbasis tumbuhan.

Sumber Penelitian:

“Antimicrobial Effect of Arrowroot Rhizome Ethanolic Extract Against Pseudomonas aeruginosa”

International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 5, 2026.

DOI:

Link Jurnal:

Posting Komentar

0 Komentar