Greenwashing Terbukti Turunkan Kinerja Perusahaan, Studi Indonesia Ungkap Dampak Ekonominya
Penelitian terbaru dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin mengungkap bahwa klaim keberlanjutan atau sustainability claims tidak otomatis meningkatkan kinerja perusahaan. Studi tersebut menunjukkan bahwa praktik greenwashing — yaitu klaim lingkungan yang berlebihan atau menyesatkan — justru dapat menurunkan kepercayaan publik, melemahkan kredibilitas perusahaan, dan berdampak negatif terhadap performa ekonomi jangka panjang.
Riset ini dilakukan oleh Sulhan Manaf dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin dan dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Economic & Management Sciences. Penelitian tersebut menganalisis hubungan antara klaim keberlanjutan, praktik greenwashing, kepercayaan pemangku kepentingan, dan kinerja perusahaan di tengah meningkatnya tren ekonomi hijau dan investasi berbasis ESG di Indonesia.
Temuan ini menjadi penting karena semakin banyak perusahaan menggunakan label “ramah lingkungan” untuk menarik investor dan konsumen. Namun, penelitian menunjukkan bahwa citra hijau tanpa tindakan nyata tidak cukup untuk menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan.
Tren ESG dan Risiko Greenwashing Meningkat
Dalam beberapa tahun terakhir, isu Environmental, Social, and Governance (ESG) berkembang pesat di dunia bisnis global. Banyak perusahaan mulai menerbitkan laporan keberlanjutan dan kampanye lingkungan sebagai bagian dari strategi komunikasi korporasi.
Di sisi lain, praktik greenwashing juga semakin sering menjadi sorotan. Greenwashing merujuk pada tindakan perusahaan yang memberikan kesan seolah-olah memiliki komitmen lingkungan yang kuat, padahal implementasinya tidak sesuai dengan klaim yang disampaikan.
Menurut penelitian ini, kondisi tersebut menciptakan kesenjangan informasi antara perusahaan dan publik. Investor, konsumen, dan masyarakat sering kesulitan membedakan mana perusahaan yang benar-benar menjalankan praktik berkelanjutan dan mana yang hanya menggunakan isu lingkungan sebagai strategi pemasaran.
Penelitian menegaskan bahwa perusahaan modern tidak lagi dinilai hanya dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari transparansi dan tanggung jawab sosial serta lingkungannya.
Gabungkan Persepsi Publik dan Data Keuangan
Untuk mengukur dampak ekonomi di balik klaim keberlanjutan, Sulhan Manaf menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 100 responden dari kawasan Indonesia Timur.
Responden terdiri dari mahasiswa dan profesional muda berusia 20–30 tahun yang dinilai memiliki pemahaman terhadap isu keberlanjutan melalui pendidikan, media digital, maupun pengalaman kerja.
Penelitian menggunakan dua sumber data utama:
- Kuesioner untuk mengukur persepsi publik terhadap sustainability claims dan greenwashing
- Laporan keuangan perusahaan untuk menilai kinerja ekonomi secara objektif
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode regresi untuk melihat hubungan antara komunikasi keberlanjutan, tingkat kepercayaan stakeholder, dan performa perusahaan.
Pendekatan ini dinilai lebih komprehensif karena menggabungkan persepsi publik dengan data ekonomi riil perusahaan.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian menghasilkan sejumlah temuan penting terkait hubungan antara sustainability claims, greenwashing, dan kinerja bisnis.
Klaim Keberlanjutan Tingkatkan Kepercayaan Publik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sustainability claims memiliki pengaruh positif terhadap kepercayaan stakeholder dan citra perusahaan.
Analisis statistik menunjukkan koefisien beta sebesar 0,412 dengan tingkat signifikansi tinggi. Artinya, komunikasi keberlanjutan masih efektif membentuk persepsi positif selama dianggap kredibel oleh publik.
Greenwashing Turunkan Kredibilitas Perusahaan
Sebaliknya, greenwashing terbukti memiliki dampak negatif terhadap kepercayaan stakeholder.
Penelitian menemukan koefisien beta negatif sebesar -0,368, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi praktik greenwashing, semakin rendah tingkat kepercayaan publik terhadap perusahaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa klaim lingkungan yang tidak sesuai fakta dapat merusak reputasi perusahaan dalam jangka panjang.
Klaim Saja Tidak Cukup Tingkatkan Kinerja
Salah satu hasil paling penting dari penelitian ini adalah sustainability claims tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan apabila tidak didukung implementasi nyata.
Meskipun arah pengaruhnya positif, hubungan tersebut dinilai lemah secara statistik.
Hal ini menunjukkan bahwa publikasi laporan keberlanjutan atau promosi ESG tidak otomatis menghasilkan keuntungan ekonomi apabila perusahaan tidak benar-benar menjalankan praktik berkelanjutan.
Praktik Nyata Beri Dampak Ekonomi Terbesar
Penelitian menemukan bahwa authentic sustainability practices atau praktik keberlanjutan yang benar-benar diterapkan memiliki pengaruh paling kuat terhadap performa perusahaan.
Koefisien beta tercatat sebesar 0,523, tertinggi dibandingkan variabel lain dalam penelitian.
Artinya, tindakan nyata jauh lebih penting dibanding sekadar komunikasi atau pencitraan lingkungan.
Kepercayaan Stakeholder Jadi Faktor Kunci
Penelitian juga menunjukkan bahwa kepercayaan stakeholder berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Perusahaan yang dipercaya publik cenderung memiliki posisi pasar lebih kuat dan performa ekonomi yang lebih stabil.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kepercayaan publik kini menjadi aset strategis dalam dunia bisnis modern.
Greenwashing Dinilai Berisiko Secara Ekonomi
Menurut Sulhan Manaf dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin, dampak greenwashing tidak hanya berkaitan dengan etika bisnis, tetapi juga berhubungan langsung dengan risiko ekonomi perusahaan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi keberlanjutan hanya akan menciptakan nilai ekonomi jika didukung tindakan yang konsisten dan dapat diverifikasi.
Ketika publik menemukan ketidaksesuaian antara klaim dan praktik nyata, perusahaan berpotensi kehilangan legitimasi sosial dan kepercayaan pasar.
Penelitian juga menyoroti bahwa greenwashing dapat mengganggu efisiensi pasar karena investor menerima informasi yang tidak akurat mengenai performa lingkungan perusahaan.
Implikasi bagi Dunia Bisnis dan Regulasi
Temuan penelitian ini memiliki implikasi besar bagi perusahaan, regulator, dan pembuat kebijakan.
Penelitian merekomendasikan agar perusahaan:
- Meningkatkan transparansi laporan keberlanjutan
- Menyediakan bukti nyata atas klaim lingkungan
- Menghindari komunikasi ESG yang bersifat simbolik
- Memperkuat mekanisme akuntabilitas perusahaan
Sementara itu, regulator disarankan memperketat standar pelaporan keberlanjutan untuk mengurangi praktik greenwashing di sektor bisnis.
Penelitian juga mendorong investor dan masyarakat untuk lebih kritis dalam menilai klaim keberlanjutan perusahaan, terutama di tengah meningkatnya tren investasi hijau dan ekonomi berkelanjutan.
Profil Penulis
Sulhan Manaf merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Bidang keahliannya meliputi green economy, sustainability reporting, tata kelola perusahaan, dan perilaku stakeholder dalam ekonomi berkelanjutan.

0 Komentar