Pergerakan valuasi saham sektor konsumen non-siklikal di Indonesia ternyata lebih dipengaruhi oleh persepsi historis investor dibanding indikator fundamental perusahaan. Temuan ini dipublikasikan oleh bersama dalam penelitian yang terbit tahun 2026 di Indonesian Journal of Business Analytics. Penelitian tersebut menganalisis 58 perusahaan sektor consumer non-cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2018–2024 untuk memahami faktor yang memengaruhi nilai pasar perusahaan.
Sektor consumer non-cyclical merupakan kelompok saham yang dikenal relatif stabil karena produknya tetap dibutuhkan masyarakat meskipun kondisi ekonomi berubah. Industri makanan dan minuman, produk rumah tangga, rokok, hingga ritel kebutuhan pokok termasuk dalam sektor ini. Peneliti mencatat bahwa sektor tersebut mampu bertahan selama pandemi COVID-19 melalui transformasi digital dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Namun di balik citra stabil tersebut, penelitian menemukan adanya fenomena “valuation persistence” atau persistensi valuasi. Artinya, harga saham perusahaan lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi dan momentum valuasi masa lalu dibanding kondisi fundamental perusahaan saat ini.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode dynamic System Generalized Method of Moments (System GMM). Analisis dilakukan terhadap 58 perusahaan dengan total 406 observasi data keuangan selama tujuh tahun. Peneliti menggunakan sejumlah indikator fundamental seperti Altman Z-Score, Piotroski F-Score, Mohanram G-Score, dan Beneish M-Score untuk mengukur kesehatan keuangan, kekuatan fundamental, potensi pertumbuhan, dan indikasi manipulasi laba perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa valuasi masa lalu menjadi faktor paling dominan dalam menentukan nilai pasar perusahaan saat ini. Koefisien pengaruh Price to Book Value (PBV) tahun sebelumnya terhadap PBV saat ini mencapai sekitar 0,70 dan terbukti sangat signifikan secara statistik.
Sebaliknya, indikator fundamental perusahaan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap valuasi pasar:
- Altman Z-Score tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV
- Piotroski F-Score tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV
- Mohanram G-Score juga tidak berpengaruh signifikan
- Beneish M-Score menunjukkan pengaruh negatif terbatas terkait risiko manipulasi laba
Menurut penelitian, kondisi ini menunjukkan bahwa investor di sektor defensif lebih mengandalkan persepsi historis dan momentum pasar dibanding membaca laporan fundamental secara mendalam. Fenomena tersebut disebut berkaitan dengan efek psikologis anchoring, yaitu kecenderungan investor menggunakan harga atau valuasi masa lalu sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan investasi.
Penelitian juga menemukan bahwa pasar tetap sensitif terhadap indikasi manipulasi laporan keuangan. Perusahaan yang menunjukkan potensi earnings manipulation cenderung mendapatkan penyesuaian risiko dari investor meskipun pengaruhnya tidak sebesar faktor momentum valuasi historis.
dan menilai hasil ini memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia, khususnya sektor consumer non-cyclical, masih dipengaruhi perilaku psikologis investor dan inertia pasar. Mereka menyebut bahwa kekuatan persepsi historis sering kali lebih dominan dibanding sinyal fundamental jangka pendek perusahaan.
Temuan ini dinilai penting bagi investor, regulator, dan perusahaan terbuka. Investor disarankan tidak hanya bergantung pada momentum harga saham, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental dan integritas laporan keuangan. Sementara itu, regulator seperti OJK dan Bursa Efek Indonesia dinilai perlu memperkuat pengawasan terhadap transparansi dan potensi manipulasi laporan keuangan untuk mengurangi asimetri informasi di pasar modal.
Profil Penulis
- Mukti Soma- Telkom University
- Mas Mochamad Shohifuddin- Telkom University
Sumber Penelitian:
“Anchoring Effects and Valuation Persistence in the Indonesian Consumer Non-Cyclical Sector: A Dynamic System GMM Approach”, Indonesian Journal of Business Analytics, Vol. 6 No. 2, 2026.

0 Komentar