Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Education and Psychological Science Volume 4 Nomor 3 tahun 2026. Studi ini menjadi penting karena penggunaan teknologi dalam pendidikan tinggi terus meningkat sejak pandemi COVID-19, bahkan ketika pembelajaran tatap muka kembali diterapkan. Lebih dari 40 persen dosen kini masih mengajar setidaknya satu kelas online dan hampir seperempat menggunakan sistem hybrid dalam proses belajar mengajar.
Penelitian ini menyoroti fenomena yang selama ini sering diabaikan. Generasi milenial dikenal sebagai “digital natives” atau generasi yang tumbuh bersama teknologi. Namun, kedekatan dengan perangkat digital ternyata tidak membuat mereka lebih kebal terhadap tekanan teknologi. Sebaliknya, mereka justru lebih rentan mengalami kelelahan mental, emosional, dan sosial akibat paparan layar serta tuntutan konektivitas yang terus-menerus.
Dalam artikel ilmiahnya, Shakirova menjelaskan bahwa digital fatigue muncul ketika tuntutan teknologi melebihi kemampuan individu untuk beradaptasi secara sehat. Kondisi ini berkaitan dengan technostress, yaitu tekanan psikologis akibat penggunaan teknologi secara intensif.
Penelitian dilakukan terhadap 74 dosen perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada menggunakan survei anonim berbasis online. Responden berasal dari tiga kelompok generasi utama, yaitu baby boomers berusia 60–78 tahun, Generation X berusia 44–59 tahun, dan milenial berusia 28–43 tahun. Para peneliti menggunakan pendekatan statistik one-way ANOVA untuk membandingkan tingkat kelelahan digital antar generasi.
Menariknya, penelitian menemukan bahwa perbedaan tingkat kelelahan digital bukan disebabkan oleh lamanya penggunaan teknologi. Semua kelompok generasi menghabiskan waktu yang relatif sama di depan perangkat digital, baik untuk pekerjaan maupun kebutuhan pribadi.
Namun, ketika aspek psikologis dan emosional dianalisis lebih dalam, generasi milenial menunjukkan skor kelelahan digital paling tinggi secara signifikan. Rata-rata skor digital fatigue milenial mencapai 45,42, jauh lebih tinggi dibandingkan Generation X sebesar 37,95 dan baby boomers sebesar 26,44.
Peneliti juga menemukan empat bentuk kelelahan digital yang paling dominan dialami dosen milenial:
- Kelelahan umum akibat tekanan informasi dan pekerjaan digital
- Kelelahan sosial karena interaksi virtual berkepanjangan
- Kelelahan motivasional yang menurunkan semangat bekerja
- Kelelahan emosional yang memicu stres dan kejenuhan
Sementara itu, kelelahan visual seperti mata lelah atau gangguan penglihatan ternyata dialami hampir sama oleh seluruh generasi dosen.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa generasi yang paling akrab dengan teknologi justru menghadapi tantangan terbesar dalam menjaga kesehatan mental di era digital. Menurut Shakirova, milenial terbiasa hidup dalam budaya “selalu terhubung” sehingga sulit memisahkan ruang kerja dan kehidupan pribadi. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan psikologis yang terus menumpuk.
“Milenial mengetahui cara menggunakan teknologi dan mendapatkan manfaat darinya, tetapi mereka mungkin tidak menyadari dampak negatif konektivitas terus-menerus terhadap kondisi psikologis dan kognitif mereka,” tulis peneliti dalam pembahasannya.
Penelitian ini juga menjelaskan bahwa dosen milenial cenderung mengalami isolasi sosial lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Walaupun mereka aktif secara digital, hubungan interpersonal dan keterlibatan emosional dalam pekerjaan justru bisa melemah akibat dominasi komunikasi berbasis layar. Dampaknya dapat memengaruhi kualitas pembelajaran, komunikasi dengan mahasiswa, hingga motivasi kerja jangka panjang.
Bagi institusi pendidikan tinggi, temuan ini menjadi peringatan penting. Perguruan tinggi dinilai perlu mulai memperhatikan kesehatan digital dosen, terutama generasi milenial yang dalam beberapa tahun ke depan akan mendominasi dunia akademik. Peneliti merekomendasikan kampus menyediakan program digital well-being seperti ruang relaksasi tanpa layar, workshop kesehatan digital, sesi tatap muka informal, hingga kegiatan sosial lintas generasi.
Selain itu, penelitian ini membuka diskusi baru mengenai pentingnya literasi digital yang tidak hanya fokus pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengelola dampak psikologisnya. Selama ini, banyak institusi menganggap generasi muda otomatis mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa masalah. Padahal, penelitian menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks.
Shakirova dan Jaffee menilai bahwa dunia pendidikan perlu mulai memandang digital fatigue sebagai isu kesehatan kerja yang nyata. Apalagi penggunaan platform pembelajaran online, sistem manajemen akademik, video conference, hingga kecerdasan buatan kini menjadi bagian permanen dalam pendidikan tinggi modern.
Penelitian ini juga mendorong pengembangan alat ukur khusus untuk menilai digital fatigue secara lebih akurat di berbagai sektor pekerjaan. Menurut peneliti, teknologi akan terus berkembang, termasuk melalui penggunaan kecerdasan buatan, sehingga pemahaman mengenai dampaknya terhadap manusia menjadi semakin penting.
Profil Penulis Penelitian
merupakan akademisi dari Northern Lights College yang meneliti bidang pendidikan tinggi, technostress, dan kesejahteraan tenaga pendidik di era digital.
berasal dari Adler University dengan fokus penelitian pada psikologi pendidikan dan kesehatan mental dalam lingkungan akademik.
0 Komentar