Konservasi dan Revitalisasi Kawasan Tepi Sungai Ciliwung di Desa Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Strategi Baru Revitalisasi Sungai Ciliwung Manggarai: Solusi Hunian Modern yang Menjaga Penghasilan Warga. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Pare Eni dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa strategi penataan ruang yang mampu mengatasi banjir musiman dan kepadatan penduduk tanpa harus menggusur mata pencaharian warga lokal.

Penelitian yang dilakukan oleh Sri Pare Eni dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa 
konservasi lingkungan dan realitas ekonomi, konsep ini menjadi model penting bagi pembangunan kota metropolitan yang berkelanjutan.

Krisis Ekologi dan Kepadatan Penduduk di Jantung Jakarta

Jakarta mengonsumsi sekitar 65% perputaran uang nasional dan menjadi pusat bagi 80% aktivitas ekonomi di Indonesia. Daya tarik ekonomi yang luar biasa ini memicu gelombang migrasi besar-besaran yang memicu kelangkaan lahan hunian yang terjangkau. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah terpaksa membangun permukiman informal di sepanjang koridor sungaiDi wilayah RW 01, RW 04, dan RW 10 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, terdapat sekitar 2,500 warga yang tinggal langsung di atas bantaran sungai. Rumah-rumah yang padat dan membelakangi sungai ini tidak memiliki sistem sanitasi yang memadai, sehingga limbah domestik langsung dibuang ke aliran Ciliwung. Tekanan lingkungan ini, ditambah dengan rusaknya kawasan hulu di mana tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung menyusut hingga tersisa 9.7% telah memicu kepunahan 92.5% spesies ikan asli sungai tersebutSelain ancaman ekologis, kawasan padat ini juga mengalami krisis ruang publik. Ribuan anak-anak di permukiman tersebut tidak memiliki tempat bermain yang aman, sehingga terpaksa memanfaatkan bahu jalan raya yang ramai dan berbahaya untuk beraktivitas.

Metodologi: Pendekatan Desain Arsitektur Berbasis Data
Guna menyelesaikan masalah yang saling tumpang tindih ini, penulis melakukan studi kombinasi kualitatif dan kuantitatif selama lima bulan. Penelitian ini melibatkan observasi lapangan secara langsung, pemetaan tapak arsitektural, serta wawancara mendalam dengan warga lokal untuk memahami kebutuhan nyata merekaStudi ini menganalisis lahan seluas 38.351 meter persegi di kawasan bantaran Ciliwung Manggarai. Menggunakan perangkat lunak analisis spasial, seluruh data lapangan disintesis dan diukur secara ketat agar sepenuhnya selaras dengan regulasi resmi Informasi Rencana Kota (IRK) Jakarta:

  • Garis Sempadan Bangunan (GSB): Ditetapkan minimal 3 meter.
  • Garis Sempadan Sungai (GSS): Ditetapkan batas kliring ketat sepanjang 10 meter dari tepi air.
  • Koefisien Lantai Bangunan (KLB): Dibatasi maksimal 2 lantai sesuai zonasi hijau.
  • Koefisien Dasar Hijau (KDH): Diwajibkan memenuhi ruang terbuka hijau minimal 45%.
Temuan Utama: Cetak Biru Penataan Ruang Empat Zona
Berdasarkan hasil analisis data lingkungan dan profil demografi masyarakat, penelitian ini membagi lahan tapak seluas 38.351 meter persegi menjadi ekosistem perkotaan baru yang terintegrasi ke dalam empat zona fungsional:
  • Zona A: Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Komersil. Zona ini memanfaatkan lahan seluas 8.915 meter persegi untuk membangun 12 blok hunian vertikal setinggi dua lantai yang akan menampung 2,500 warga bantaran sungai. Keunggulan utama zona ini adalah penerapan tipologi ruko (rumah toko). Lantai dasar dirancang khusus sebagai ruang usaha, sementara lantai satu berfungsi sebagai tempat tinggal. Konsep ini dirancang untuk melindungi mata pencaharian 5,556 warga yang bekerja sebagai pedagang. Selain itu, Zona A dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terdesentralisasi di sisi utara demi menghentikan pencemaran air daur ulang langsung ke Sungai Ciliwung.
  • Zona B: Kawasan Komersial & Akomodasi Kapsul TransitMemiliki luas 8.708 meter persegi, Zona B memaksimalkan potensi strategis tapak yang berada tepat di seberang Stasiun Manggarai sebagai pusat transportasi massal utama Jakarta. Zona ini memperkenalkan konsep hotel kapsul yang efisien sebanyak 12 bangunan, 18 unit penyewa komersial, serta Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang menghubungkan area komersial ini langsung ke stasiun.
  • Zona C: Kompleks Perumahan TNI. Mencakup area seluas 7.308 meter persegi, zona ini merupakan kompleks perumahan TNI yang sudah ada. Area ini sengaja tidak didesain ulang guna menghormati kepemilikan lahan yang sah serta meminimalkan gangguan sosial di lapangan.
  • Zona D: Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) atau Taman KomunitasZona terbesar dengan luas 13.420 meter persegi ini didedikasikan penuh untuk menjawab kelangkaan ruang rekreasi. Menggunakan pola lanskap melengkung (curvilinear), RPTRA ini mengintegrasikan lapangan hijau, lintasan lari (jogging track), kolam dekoratif untuk menurunkan suhu mikro kawasan, serta area khusus bagi pedagang keliling agar tertata rapi.
Implikasi dan Dampak Nyata bagi Kebijakan Publik
Kontribusi nyata dari riset Universitas Kristen Indonesia ini adalah pergeseran paradigma dari penggusuran paksa menjadi penataan inklusif. Dengan membuktikan bahwa pemulihan ekosistem sungai dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi, cetak biru ini menawarkan strategi finansial yang mandiri bagi pemerintah daerahPendapatan yang diperoleh dari pengelolaan hotel kapsul dan sewa tenant di Zona B dapat ditransformasikan menjadi sumber dana berkelanjutan untuk membiayai perawatan taman publik dan operasional infrastruktur pengolahan limbah secara mandiri. Di samping itu, orientasi bangunan baru yang sengaja dibuat menghadap ke arah air mengubah citra Sungai Ciliwung dari yang semula dianggap sebagai tempat pembuangan limbah belakang rumah menjadi halaman depan publik yang bernilai estetika tinggi.

Profil Penulis
Sri Pare Eni adalah dosen senior dan peneliti di Program Studi Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia. Ia memiliki keahlian akademik yang mendalam di bidang tata ruang urban, desain arsitektur berkelanjutan, revitalisasi kawasan tepi air (waterfront development), serta penataan permukiman informal di wilayah metropolitan.

Sumber Penelitian
Sri Pare Eni: Conservation and Revitalization of the Ciliwung Riverbank Area in Manggarai Village, Tebet District, South Jakarta, Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i4.30
URL: https://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar