Buruknya Postur Kerja Tingkatkan Risiko Gangguan Otot pada Pekerja Workshop PT BEPI

Ilustrasi by AI

Postur kerja yang tidak ergonomis terbukti meningkatkan risiko gangguan otot dan rangka atau Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja workshop PT Bangun Energi Pusaka Indonesia (PT BEPI) di Bandung. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Syukur Pardamean, Edison C. Sembiring, Soehatman Ramli, dan Fauziah Eddyono dari Universitas Sahid. Penelitian dipublikasikan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS) edisi April 2026.

Penelitian ini menyoroti tingginya risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja industri yang melakukan aktivitas fisik berat secara berulang, seperti mengangkat beban, membungkuk, berdiri lama, hingga bekerja dengan posisi tubuh yang tidak alami. Kondisi tersebut dapat memicu nyeri pada otot, sendi, ligamen, dan tulang belakang yang berdampak pada penurunan produktivitas kerja.

Menurut data yang dikutip dalam penelitian, gangguan muskuloskeletal menjadi salah satu penyakit akibat kerja paling umum di dunia. Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mencatat banyak negara mengalami peningkatan kasus MSDs, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut nyeri punggung bawah sebagai penyebab utama disabilitas global.

Di lingkungan PT BEPI, risiko MSDs ditemukan pada berbagai aktivitas workshop seperti pengangkatan alat berat secara manual, pekerjaan perawatan peralatan, hingga pekerjaan administrasi dengan posisi duduk yang tidak ergonomis. Salah satu pekerjaan yang disorot adalah pengangkatan alat lubricator dan peralatan berat lainnya secara berulang dengan posisi tubuh yang berisiko.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif observasional terhadap 10 pekerja workshop PT BEPI. Peneliti menggunakan metode Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi keluhan nyeri tubuh serta metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk mengukur tingkat risiko postur kerja pekerja.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pekerja berada pada kategori risiko sedang hingga sangat tinggi terhadap MSDs. Berdasarkan pengukuran REBA:

  • 20 persen pekerja berada pada kategori risiko sedang dan memerlukan perhatian ergonomi.
  • 50 persen pekerja berada pada kategori risiko tinggi yang membutuhkan tindakan segera.
  • 30 persen pekerja berada pada kategori risiko sangat tinggi dan membutuhkan intervensi langsung.

Penelitian juga menemukan hubungan yang sangat kuat antara postur kerja dan keluhan MSDs. Nilai korelasi Pearson mencapai 0,941 dengan tingkat signifikansi 0,000, yang menunjukkan bahwa semakin buruk postur kerja pekerja, semakin tinggi tingkat keluhan gangguan muskuloskeletal yang dialami.

Selain postur kerja, penelitian turut menganalisis faktor individu yang memengaruhi risiko MSDs, seperti usia, masa kerja, kebiasaan merokok, dan kebiasaan olahraga.

Peneliti menemukan bahwa usia pekerja tidak memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat keluhan MSDs. Namun, pekerja dengan masa kerja lebih lama cenderung mengalami akumulasi tekanan fisik akibat paparan aktivitas kerja yang berulang dalam jangka panjang.

Sementara itu, kebiasaan merokok tidak menunjukkan hubungan statistik yang signifikan terhadap keluhan MSDs pada pekerja PT BEPI. Meski demikian, penelitian menegaskan bahwa merokok tetap dapat menurunkan kapasitas paru-paru dan mempercepat kelelahan otot yang berpotensi memperburuk kondisi fisik pekerja.

Faktor yang paling berpengaruh selain postur kerja adalah kebiasaan olahraga. Penelitian menemukan bahwa pekerja yang rutin berolahraga memiliki risiko keluhan MSDs yang lebih rendah. Nilai korelasi sebesar 0,476 dengan signifikansi 0,002 menunjukkan bahwa aktivitas fisik rutin dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas tubuh, dan ketahanan fisik pekerja.

Hasil pengukuran Nordic Body Map juga menunjukkan bahwa:

  • 70 persen pekerja berada pada kategori keluhan rendah.
  • 30 persen pekerja berada pada kategori keluhan sedang dan memerlukan tindakan pencegahan lebih lanjut.

Menurut Syukur Pardamean dan tim peneliti, perusahaan perlu memperkuat penerapan ergonomi di lingkungan kerja melalui pelatihan postur kerja yang benar, penggunaan alat bantu pengangkatan, desain workstation yang lebih ergonomis, serta program kesehatan dan kebugaran bagi pekerja.

Penelitian ini dinilai penting karena menunjukkan bahwa gangguan muskuloskeletal tidak hanya berdampak pada kesehatan pekerja, tetapi juga memengaruhi efisiensi kerja dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Dengan perbaikan ergonomi dan pencegahan dini, risiko cedera kerja dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kerja industri.

Profil Penulis

  • Syukur Pardamean - Universitas Sahid 
  • Edison C. Sembiring- Universitas Sahid 
  •  Soehatman Ramli- Universitas Sahid 
  •  Fauziah Eddyono - Universitas Sahid 

Sumber Penelitian

Pardamean, Syukur, Sembiring, Edison C., Ramli, Soehatman, & Eddyono, Fauziah. The Relationship Between Work Posture and Individual Factors to Complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in Workers at the Work Workshop of PT Bepi Bandung. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 5, April 2026, halaman 357–376. 

DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i4.155

URL: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas

Posting Komentar

0 Komentar