Donggala – Peneliti dari Tadulako University menemukan bahwa bubuk biji kelor atau Moringa oleifera mampu memperbaiki kualitas air permukaan di kawasan bekas tambang Galian C, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 di jurnal International Journal of Scientific Multidisciplinary Research menunjukkan bahwa penggunaan bubuk biji kelor dalam dosis rendah dapat menurunkan tingkat kekeruhan dan kandungan padatan tersuspensi dalam air secara signifikan.
Riset ini dilakukan oleh Aldiansa, Mery Napitupulu, dan Ratman dari Tadulako University sebagai upaya mencari alternatif penjernih air alami yang lebih murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan dibanding bahan kimia sintetis.
Kawasan Galian C dikenal sebagai area penambangan material seperti pasir, batu, dan tanah urug yang sering menyebabkan kerusakan lapisan tanah. Saat hujan turun, partikel tanah dan lumpur mudah terbawa aliran air ke sungai atau genangan di sekitar area tambang. Akibatnya, air menjadi keruh dan mengandung banyak padatan tersuspensi yang dapat mengganggu kualitas lingkungan maupun penggunaan air oleh masyarakat.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti mengambil sampel air permukaan dari kawasan Galian C di Banawa, Donggala. Air kemudian dicampur dengan bubuk biji kelor dalam empat variasi dosis, yaitu 1 gram, 3 gram, 5 gram, dan 7 gram untuk setiap 50 mililiter air. Setelah dicampur dan didiamkan selama 30 menit, air diuji untuk mengetahui perubahan tingkat pH, kekeruhan, dan total padatan tersuspensi atau TSS (Total Suspended Solids).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis paling efektif justru berada pada tingkat terendah, yaitu 1 gram bubuk biji kelor per 50 mililiter air. Pada dosis ini, tingkat kekeruhan air turun dari 9,48 NTU menjadi 3,96 NTU atau berkurang sekitar 58,23 persen. Kandungan TSS juga turun drastis dari 640 mg/L menjadi 172 mg/L atau berkurang sekitar 73,13 persen. Nilai pH air setelah perlakuan berada di angka 6,68, mendekati kondisi netral dan masih dianggap aman untuk penggunaan awal.
Sebaliknya, peningkatan dosis tidak selalu menghasilkan kualitas air yang lebih baik. Pada dosis 5 gram dan 7 gram, kandungan TSS dan tingkat kekeruhan justru meningkat dibanding kondisi awal. Peneliti menilai hal ini terjadi karena terlalu banyak bubuk biji kelor yang ditambahkan sehingga sisa partikel organik dari biji kelor ikut tertinggal di dalam air.
Menurut tim peneliti, biji kelor mengandung senyawa protein bermuatan positif yang mampu menarik partikel-partikel halus bermuatan negatif di dalam air. Proses ini membuat partikel kecil menggumpal menjadi flok yang lebih besar sehingga lebih mudah mengendap. Namun, jika jumlah bubuk terlalu banyak, sebagian material justru tetap melayang di dalam air dan menambah kandungan padatan tersuspensi.
Aldiansa dan tim dari Tadulako University menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memperlihatkan pentingnya pengaturan dosis dalam penggunaan koagulan alami. Penambahan bahan alami secara berlebihan tidak otomatis meningkatkan kualitas air, bahkan bisa memperburuk kondisi fisik air yang diolah.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan biji kelor berpotensi menjadi solusi sederhana untuk penjernihan air skala kecil, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan kimia pengolahan air. Biji kelor relatif mudah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia dan tidak membutuhkan proses pengolahan yang rumit sebelum digunakan.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa metode ini belum bisa dianggap sebagai sistem pengolahan air lengkap. Penelitian hanya mengukur tiga parameter dasar, yaitu pH, kekeruhan, dan TSS. Kandungan mikroba, zat kimia berbahaya, maupun kontaminan organik lain belum dianalisis secara mendalam. Karena itu, air hasil perlakuan tetap memerlukan tahapan lanjutan seperti filtrasi dan pengujian kualitas tambahan sebelum layak digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
Penelitian ini dinilai penting karena memberikan bukti ilmiah lokal mengenai potensi tanaman kelor sebagai bahan penjernih air alami di kawasan terdampak aktivitas tambang dan kerusakan lahan. Selain mendukung pengembangan teknologi pengolahan air murah, hasil riset juga dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan sistem penjernihan air sederhana berbasis sumber daya lokal.
Tim peneliti merekomendasikan agar penelitian lanjutan dilakukan dengan variasi dosis yang lebih rinci di sekitar dosis optimal 1 gram per 50 mililiter air. Mereka juga menyarankan pengujian tambahan menggunakan waktu pengendapan lebih lama, ukuran partikel bubuk berbeda, hingga perbandingan dengan koagulan kimia seperti tawas atau PAC untuk mengetahui efektivitas sebenarnya dalam skala lapangan.
Aldiansa merupakan peneliti dari Tadulako University . Penelitian ini juga melibatkan Mery Napitupulu dan Ratman dari universitas yang sama
Sumber penelitian: “Efficacy of Moringa oleifera Seed Powder as a Natural Coagulant in Improving pH, Turbidity, and Total Suspended Solids of Surface Water from the Galian C Area, Banawa District, Donggala Regency”, International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i5.56
Link jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar