Laporan kasus ini ditulis oleh Retno Hernik Mulyati Andayani dan Annisa Dewi Maharani dalam jurnal Asian Journal of Healthcare Analytics. Penelitian tersebut membahas kondisi bayi laki-laki berusia lima hari yang mengalami pembengkakan pada skrotum kanan disertai tanda infeksi sistemik.
Kasus ini dinilai penting karena epididimitis neonatal tergolong sangat jarang ditemukan. Dalam literatur medis, kondisi tersebut mencakup kurang dari 1 persen kasus pembengkakan skrotum akut pada neonatus. Pada banyak kasus, gejalanya hampir identik dengan torsio testis, yaitu keadaan darurat medis yang membutuhkan operasi segera untuk menyelamatkan organ reproduksi bayi.
Gejala Awal Muncul Saat Bayi Dirawat
Berdasarkan laporan penelitian, bayi tersebut awalnya dirawat karena gangguan pernapasan dan penyakit kuning neonatal. Bayi lahir cukup bulan, namun memiliki riwayat asfiksia perinatal atau kekurangan oksigen saat persalinan.
Pada hari kedua perawatan, kondisi bayi berubah. Ia mengalami demam mencapai 38,2 derajat Celsius, denyut jantung meningkat, serta muncul pembengkakan dan kemerahan pada skrotum kanan.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah sel darah putih sangat tinggi, mencapai 27.260/mm³. Nilai protein C-reaktif sebagai penanda infeksi juga meningkat hingga 21 mg/L. Meski demikian, hasil kultur darah dan urin tidak menunjukkan adanya bakteri.
Tim dokter kemudian melakukan pemeriksaan ultrasonografi Doppler warna. Hasilnya memperlihatkan peningkatan aliran darah dan pembesaran epididimis di testis kanan, tanda khas epididimitis.
Menurut Retno Hernik Mulyati Andayani dan tim peneliti, pemeriksaan Doppler menjadi kunci penting dalam membedakan epididimitis dengan torsio testis.
“Peningkatan vaskularisasi pada ultrasonografi mendukung diagnosis epididimitis dan membantu mencegah tindakan operasi yang tidak diperlukan,” tulis peneliti dalam laporannya.
Penyakit Langka yang Sering Sulit Dibedakan
Epididimitis merupakan peradangan pada epididimis, saluran kecil di belakang testis yang berfungsi menyimpan dan mengangkut sperma. Pada anak yang lebih besar atau remaja, penyakit ini biasanya dipicu infeksi saluran kemih yang menjalar.
Namun pada bayi baru lahir, penyebabnya berbeda. Peneliti menjelaskan bahwa infeksi lebih sering berasal dari penyebaran bakteri melalui aliran darah akibat infeksi sistemik atau sepsis neonatal.
Karena sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna, bakteri lebih mudah menyebar ke berbagai organ, termasuk jaringan epididimis yang kaya pembuluh darah.
Masalah terbesar dalam diagnosis adalah gejalanya sangat mirip dengan torsio testis. Kedua kondisi sama-sama menimbulkan pembengkakan, kemerahan, dan nyeri pada skrotum.
Padahal, penanganannya sangat berbeda. Torsio testis membutuhkan operasi darurat, sedangkan epididimitis umumnya dapat diobati dengan antibiotik dan perawatan konservatif.
“Diagnosis yang terlambat atau keliru dapat menyebabkan hilangnya testis atau tindakan operasi yang sebenarnya tidak diperlukan,” tulis peneliti.
Antibiotik Intensif Berhasil Menyelamatkan Kondisi Bayi
Pada awal perawatan, dokter memberikan antibiotik ampisilin dan gentamisin. Namun kondisi bayi sempat memburuk sehingga terapi ditingkatkan menggunakan meropenem dan amikasin, dua antibiotik spektrum luas yang lebih kuat.
Setelah perubahan terapi, kondisi bayi menunjukkan perbaikan signifikan. Demam mereda dan pembengkakan skrotum berangsur menghilang.
Bayi kemudian menyelesaikan terapi antibiotik selama dua minggu dengan hasil pemulihan yang baik tanpa tindakan operasi.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa diagnosis dini dapat mencegah prosedur bedah yang tidak diperlukan pada neonatus.
USG Doppler Dinilai Sangat Penting
Peneliti menekankan bahwa pemeriksaan USG Doppler harus menjadi bagian penting dalam evaluasi pembengkakan skrotum pada bayi baru lahir.
Teknologi ini memungkinkan dokter melihat aliran darah di area testis. Pada epididimitis, aliran darah biasanya meningkat akibat proses peradangan. Sebaliknya, pada torsio testis, aliran darah justru menurun atau bahkan berhenti.
Temuan tersebut membantu dokter menentukan apakah pasien memerlukan operasi segera atau cukup terapi konservatif.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa hasil kultur darah negatif tidak selalu berarti bayi bebas infeksi. Pada kasus neonatal, infeksi tetap dapat terjadi meskipun bakteri tidak terdeteksi di laboratorium.
Dampak bagi Dunia Medis dan Pelayanan Neonatal
Kasus ini memberi pesan penting bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter anak dan dokter emergensi neonatal, agar lebih waspada terhadap epididimitis neonatal sebagai penyebab pembengkakan skrotum akut.
Peningkatan kesadaran klinis dinilai dapat membantu mempercepat diagnosis, mengurangi risiko kehilangan testis, dan menghindari operasi yang tidak perlu.
Penelitian ini juga memperkuat pentingnya fasilitas USG Doppler di rumah sakit yang menangani perawatan neonatal intensif.
Bagi dunia pendidikan kedokteran, laporan kasus ini dapat menjadi referensi penting karena kasus epididimitis neonatal masih sangat jarang dipublikasikan, terutama di Indonesia.
Profil Penulis
dr. Retno Hernik Mulyati Andayani merupakan dokter spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Haji Hospital of East Java. Ia menaruh perhatian pada kesehatan neonatus, infeksi anak, dan penanganan kasus pediatrik akut.
Annisa Dewi Maharani merupakan peneliti dari Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Surabaya University yang terlibat dalam penelitian kesehatan anak dan neonatal.
0 Komentar