Risiko Gagal Panen Padi di Maluku Tengah Capai Level Sangat Tinggi
Produksi padi sawah di Desa Waitonipa, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, menghadapi risiko sangat tinggi akibat cuaca ekstrem dan serangan hama. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Sholiha Hamidah, Martha Turukay, dan Johanna M. Luhukay dari Pattimura University dan dipublikasikan dalam Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS) tahun 2026.
Penelitian tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan rapuhnya ketahanan produksi pangan di wilayah timur Indonesia. Di tengah pentingnya sektor pertanian sebagai penopang ekonomi masyarakat desa, para petani justru menghadapi ketidakpastian hasil panen yang semakin besar dari tahun ke tahun.
Tim peneliti menemukan bahwa rata-rata produksi padi petani di Desa Waitonipa hanya mencapai 1.836 kilogram per musim tanam dengan harga jual rata-rata Rp6.853 per kilogram. Sementara itu, pendapatan rata-rata petani tercatat hanya sekitar Rp278 ribu per musim tanam setelah dikurangi biaya produksi.
Kondisi tersebut menunjukkan margin keuntungan yang sangat tipis. Bahkan dalam beberapa kasus, biaya produksi yang dikeluarkan petani lebih besar dibanding hasil penjualan gabah yang diperoleh saat panen.
Cuaca dan Hama Jadi Ancaman Utama
Penelitian ini menyoroti bahwa ancaman terbesar dalam usaha tani padi sawah di Waitonipa berasal dari perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman. Musim hujan yang terjadi pada awal masa tanam 2025 menyebabkan kelembapan tinggi dan memicu ledakan populasi wereng batang cokelat.
Hama tersebut menyerang batang tanaman padi hingga menyebabkan gejala hopperburn, yaitu tanaman mengering seperti terbakar dan berujung gagal panen. Selain wereng, petani juga menghadapi serangan penggerek batang dan keong sawah yang merusak tanaman pada fase awal pertumbuhan.
Menurut peneliti, kombinasi antara cuaca tidak menentu, intensitas hujan tinggi, dan penggunaan pupuk nitrogen berlebihan membuat tanaman menjadi lebih rentan terhadap serangan hama.
“Produksi pertanian menjadi sangat tidak stabil karena dipengaruhi kondisi lapangan yang berubah-ubah,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Risiko Produksi Mencapai 90,90 Persen
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah tingginya nilai risiko produksi yang diukur menggunakan koefisien variasi atau coefficient of variation (CV).
Peneliti mencatat nilai risiko produksi mencapai 90,90 persen. Angka tersebut menunjukkan fluktuasi hasil panen yang sangat besar dan menandakan tingkat ketidakpastian produksi yang tinggi.
Semakin besar nilai CV, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung petani. Dalam penelitian ini, nilai CV produksi mendekati 100 persen, yang berarti hasil panen sangat tidak stabil dari satu musim ke musim lainnya.
Selain risiko produksi, penelitian juga menemukan risiko pendapatan petani tergolong tinggi dengan nilai CV sebesar 3,08 persen. Pendapatan petani mudah berubah karena dipengaruhi hasil panen yang rendah, biaya produksi tinggi, dan fluktuasi harga jual gabah.
Biaya Produksi Didominasi Tenaga Kerja
Data penelitian menunjukkan biaya terbesar dalam usaha tani padi berasal dari tenaga kerja dan kegiatan panen. Rata-rata biaya tenaga kerja mencapai lebih dari Rp5,2 juta per musim tanam, sedangkan biaya panen sekitar Rp2,7 juta. Selain itu, petani juga harus mengeluarkan biaya untuk pupuk, pestisida, benih, sewa lahan, hingga penyusutan alat pertanian.
Total biaya produksi rata-rata mencapai Rp12,27 juta per musim tanam. Sementara total penerimaan petani hanya sekitar Rp12,58 juta. Selisih yang sangat kecil tersebut membuat petani berada dalam posisi ekonomi yang rentan ketika terjadi penurunan hasil panen sedikit saja.
Produksi Padi Maluku Terus Berfluktuasi
Penelitian ini juga menyoroti kondisi produksi padi di Provinsi Maluku secara umum. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi padi Maluku mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir.
Kabupaten Maluku Tengah menjadi salah satu daerah penghasil padi terbesar setelah Kabupaten Buru. Namun jumlah produksinya terus berubah dari tahun ke tahun. Pada 2020, produksi padi Maluku Tengah mencapai sekitar 50 ribu ton, tetapi turun menjadi sekitar 27 ribu ton pada 2023 sebelum kembali meningkat pada 2024.
Fluktuasi tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian pangan di Maluku masih sangat dipengaruhi faktor alam dan belum sepenuhnya memiliki sistem mitigasi risiko yang kuat.
Pentingnya Strategi Mitigasi Risiko Pertanian
Hasil penelitian ini dinilai penting bagi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan pembuat kebijakan pangan. Tingginya risiko produksi menunjukkan perlunya strategi mitigasi yang lebih serius untuk menjaga stabilitas hasil panen petani.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- penguatan sistem pengendalian hama terpadu,
- penggunaan varietas padi tahan penyakit,
- perbaikan pola tanam sesuai iklim,
- pendampingan teknologi pertanian,
- serta dukungan pembiayaan dan asuransi pertanian bagi petani kecil.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada luas lahan dan produksi, tetapi juga kemampuan petani menghadapi risiko iklim dan gangguan produksi.
Profil Penulis
Sholiha Hamidah merupakan peneliti dari Fakultas Pertanian Pattimura University yang meneliti bidang ekonomi pertanian dan manajemen risiko usaha tani.
Martha Turukay adalah akademisi dari Pattimura University dengan fokus kajian pada pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani.
Johanna M. Luhukay merupakan dosen dan peneliti di Pattimura University yang aktif meneliti isu produksi pangan dan pengembangan pertanian daerah.
Sumber Penelitian
DOI :https://doi.org/10.55927/ijis.v5i4.27
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index
0 Komentar