Kepemilikan Institusional dan CSR Tingkatkan Nilai Perusahaan Saham Syariah Indonesia
Perusahaan yang masuk dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terbukti memiliki nilai perusahaan lebih tinggi ketika didukung investor institusional dan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang kuat. Temuan tersebut berasal dari penelitian terbaru yang dipublikasikan tahun 2026 di Indonesian Journal of Economic & Management Sciences oleh Mohamad Tohir, Yohannes Indrayono, dan Retno Martanti.
Penelitian ini menganalisis pengaruh kepemilikan institusional dan CSR terhadap nilai perusahaan pada emiten syariah Indonesia sepanjang periode sebelum pandemi, saat pandemi COVID-19, hingga masa pemulihan ekonomi setelah pandemi. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut secara konsisten meningkatkan nilai perusahaan dan memperkuat kepercayaan pasar.
Temuan ini penting karena pasar modal syariah Indonesia terus berkembang menjadi salah satu sektor investasi terbesar di Asia Tenggara. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap investasi berkelanjutan dan bisnis berbasis etika, perusahaan yang mampu menjaga tata kelola dan tanggung jawab sosial dinilai lebih menarik bagi investor.
Pasar Saham Syariah Indonesia Terus Bertumbuh
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal syariah Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Penelitian mencatat bahwa kapitalisasi pasar ISSI mencapai Rp6.825,30 triliun pada 2024 atau tumbuh 11,05 persen dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah emiten syariah juga terus meningkat dari tahun ke tahun dan kini mewakili sekitar 63 hingga 72 persen perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Namun, pandemi COVID-19 sempat mengguncang pasar modal nasional. Penurunan tajam terjadi setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global pada Maret 2020. Bursa Efek Indonesia bahkan mengalami penurunan indeks hingga 37,49 persen dalam waktu singkat.
Di tengah ketidakpastian tersebut, perusahaan yang memiliki dukungan investor institusional dan komitmen sosial yang baik dinilai lebih mampu mempertahankan kepercayaan pasar.
Penelitian ini menyoroti dua faktor utama yang memengaruhi nilai perusahaan:
- Kepemilikan institusional
- Corporate Social Responsibility (CSR)
Kepemilikan institusional merujuk pada kepemilikan saham oleh lembaga besar seperti dana pensiun, perusahaan investasi, perbankan, atau asuransi. Sementara CSR mencakup berbagai program tanggung jawab sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan perusahaan.
Analisis terhadap 43 Perusahaan Syariah
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data panel terhadap 43 perusahaan yang terdaftar dalam Indeks Saham Syariah Indonesia selama periode 2017–2024.
Peneliti membagi periode pengamatan menjadi tiga fase utama:
- Sebelum pandemi COVID-19 (2017–2019)
- Saat pandemi COVID-19 (2020–2022)
- Setelah pandemi COVID-19 (2022–2024)
Data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, laporan tahunan, pengungkapan CSR, dan data Bursa Efek Indonesia. Nilai perusahaan diukur menggunakan rasio Tobin’s Q yang menggambarkan bagaimana pasar menilai aset dan prospek perusahaan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemilikan institusional dan CSR memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan di seluruh periode penelitian.
Investor Institusional Perkuat Kepercayaan Pasar
Salah satu temuan terkuat penelitian ini adalah besarnya pengaruh investor institusional terhadap nilai perusahaan.
Sepanjang periode penelitian 2017–2024, kepemilikan institusional menunjukkan pengaruh positif yang sangat signifikan terhadap nilai perusahaan dengan koefisien sebesar 0,611874.
Pengaruh tersebut tetap kuat pada masa sebelum pandemi, saat pandemi, maupun pascapandemi.
Menurut penelitian, investor institusional mampu meningkatkan pengawasan terhadap manajemen perusahaan sehingga tata kelola perusahaan menjadi lebih baik. Kehadiran investor besar juga dianggap memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa perusahaan memiliki prospek bisnis yang sehat dan manajemen yang kredibel.
Mohamad Tohir dan tim peneliti menjelaskan bahwa kepemilikan institusional membantu mengurangi konflik kepentingan dalam perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap emiten syariah.
Dalam konteks pasar modal syariah, tingginya kepemilikan institusional juga dianggap mencerminkan dukungan terhadap kepatuhan perusahaan terhadap prinsip-prinsip syariah.
CSR Semakin Penting Setelah Pandemi
Penelitian juga menemukan bahwa program CSR memiliki dampak positif terhadap nilai perusahaan di seluruh periode penelitian.
Perusahaan dengan pengungkapan CSR yang lebih baik memperoleh apresiasi pasar yang lebih tinggi karena dianggap lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan memiliki risiko bisnis yang lebih rendah.
Menariknya, pengaruh CSR sempat menurun selama masa puncak pandemi COVID-19, tetapi kembali meningkat kuat pada masa pemulihan ekonomi setelah 2022.
Beberapa temuan penting terkait CSR antara lain:
- CSR meningkatkan nilai perusahaan secara signifikan
- Perusahaan yang tetap menjalankan program sosial saat pandemi mendapat apresiasi lebih tinggi
- Investor semakin memperhatikan keberlanjutan bisnis dan dampak sosial perusahaan
- CSR memperkuat reputasi dan kepercayaan publik terhadap perusahaan
Penelitian menyebutkan bahwa perusahaan yang tetap aktif membantu masyarakat selama pandemi memperoleh penilaian pasar yang lebih positif dibanding perusahaan yang mengurangi aktivitas sosialnya.
Menurut peneliti, CSR kini tidak lagi dipandang hanya sebagai strategi pencitraan perusahaan. Investor semakin melihat CSR sebagai indikator keberlanjutan bisnis jangka panjang dan kualitas tata kelola perusahaan.
Dampak bagi Dunia Usaha dan Kebijakan Investasi
Hasil penelitian ini memiliki implikasi besar bagi perusahaan, investor, dan regulator pasar modal Indonesia.
Bagi perusahaan, peningkatan nilai perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan kinerja keuangan. Tata kelola yang baik, dukungan investor institusional, dan strategi CSR yang efektif juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar.
Penelitian merekomendasikan agar perusahaan:
- Meningkatkan efisiensi operasional
- Mengembangkan inovasi model bisnis
- Menarik investor institusional yang kredibel
- Mengintegrasikan CSR ke strategi bisnis jangka panjang
- Membangun nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat
Bagi investor, penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan tata kelola kuat dan komitmen sosial tinggi cenderung lebih stabil menghadapi krisis ekonomi.
Temuan ini juga relevan bagi pemerintah dan regulator dalam mendorong pengembangan investasi berkelanjutan serta penguatan pasar modal syariah nasional.
Investasi Etis Semakin Diminati
Penelitian ini memperlihatkan bahwa tren investasi global semakin bergerak menuju investasi berkelanjutan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).
Pasar modal syariah Indonesia dinilai memiliki posisi strategis karena menggabungkan prinsip investasi etis dengan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Para peneliti menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki tata kelola baik, kepedulian sosial, dan dukungan investor institusional akan lebih dihargai pasar di era ekonomi modern.
Profil Penulis
Mohamad Tohir merupakan peneliti di bidang keuangan perusahaan, tata kelola perusahaan, dan pasar modal syariah. Penelitian ini dilakukan bersama Yohannes Indrayono dan Retno Martanti yang memiliki fokus penelitian pada investasi, tata kelola perusahaan, dan keberlanjutan bisnis.

0 Komentar