Penelitian Irigasi Lombok Temukan Kehilangan Air 20 Persen di Saluran Bendungan Aik Bual
Penelitian terbaru dari Muhamad Yamin dari Universitas Qamarul Huda Badaruddin dan Farida Gafar dari Universitas Muhammadiyah Makassar menemukan bahwa saluran primer irigasi Bendungan Aik Bual di Lombok Tengah masih kehilangan sekitar 20 persen air selama proses distribusi. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences ini menunjukkan bahwa meskipun sistem irigasi masih tergolong baik, kebocoran dan kerusakan fisik saluran tetap menyebabkan hilangnya debit air yang cukup signifikan sebelum mencapai lahan pertanian.
Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan di Indonesia. Perubahan iklim, musim kemarau yang lebih panjang, serta meningkatnya kebutuhan air pertanian membuat efisiensi sistem irigasi menjadi faktor krusial bagi produktivitas pertanian nasional.
Menurut para peneliti, ketersediaan air yang cukup tidak otomatis menjamin keberhasilan distribusi irigasi. Jika saluran mengalami kebocoran, sedimentasi, atau kerusakan infrastruktur, maka air tidak akan tersalurkan secara optimal ke area pertanian yang membutuhkan.
Bendungan Aik Bual sendiri merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air penting di Pulau Lombok yang berfungsi menopang kebutuhan irigasi pertanian masyarakat. Saluran primer bendungan ini menjadi jalur utama distribusi air menuju lahan sawah dan area pertanian di Lombok Tengah.
Dalam penelitian tersebut, Muhamad Yamin dan Farida Gafar melakukan analisis debit air dan efisiensi saluran menggunakan pendekatan kuantitatif dan perhitungan hidrolika dengan metode Manning, salah satu metode standar untuk menghitung aliran pada saluran terbuka.
Penelitian dilakukan melalui pengukuran langsung di lapangan terhadap dimensi saluran, kecepatan aliran, kemiringan dasar saluran, kondisi fisik saluran, serta debit air di bagian hulu dan hilir.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa saluran primer memiliki lebar atas 3,3 meter, lebar bawah 1,5 meter, dan kedalaman air sekitar 0,60 meter. Peneliti juga menghitung tingkat kekasaran saluran dan kemiringan dasar untuk mengetahui kapasitas aliran teoritis.
Berdasarkan perhitungan metode Manning, saluran primer Bendungan Aik Bual seharusnya mampu mengalirkan air sebesar 1,20 meter kubik per detik. Namun hasil pengukuran lapangan menunjukkan debit air di bagian hilir hanya mencapai 0,96 meter kubik per detik.
Artinya, terdapat kehilangan air sekitar 0,24 meter kubik per detik selama proses distribusi air berlangsung.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Debit teoritis saluran mencapai 1,20 m³/detik
- Debit air di hilir hanya 0,96 m³/detik
- Kehilangan air mencapai 0,24 m³/detik
- Efisiensi saluran tercatat sebesar 80 persen
- Kehilangan air disebabkan kebocoran, sedimentasi, dan pertumbuhan gulma
Menurut standar irigasi yang digunakan dalam penelitian, efisiensi saluran primer antara 70 hingga 90 persen masih dikategorikan baik. Meski demikian, peneliti menilai bahwa kehilangan air sebesar 20 persen tetap cukup besar dan berpotensi memengaruhi distribusi air pertanian dalam jangka panjang.
Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara kapasitas teoritis saluran dengan kondisi aktual di lapangan. Secara teknis, saluran masih memiliki kapasitas yang memadai, tetapi faktor fisik seperti kebocoran dinding saluran, endapan sedimen, dan pertumbuhan tanaman liar mengurangi efektivitas distribusi air.
“Efisiensi saluran sebesar 80 persen menunjukkan bahwa sistem irigasi masih berfungsi dengan baik, tetapi belum optimal,” tulis para peneliti dalam pembahasan penelitian mereka.
Peneliti memperingatkan bahwa jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka dampaknya dapat dirasakan langsung oleh sektor pertanian. Berkurangnya pasokan air di bagian hilir dapat menyebabkan ketidakseimbangan distribusi air antarwilayah pertanian dan menurunkan hasil produksi pertanian masyarakat.
Implikasi penelitian ini cukup luas bagi pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Efisiensi saluran irigasi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, produktivitas petani, dan keberlanjutan sistem pertanian nasional.
Bagi pemerintah daerah dan pengelola irigasi, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar evaluasi untuk meningkatkan pemeliharaan saluran primer. Peneliti merekomendasikan perbaikan lapisan saluran melalui plesterisasi atau betonisasi untuk mengurangi rembesan air.
Selain itu, pembersihan sedimen dan gulma secara berkala dinilai penting untuk menjaga kapasitas aliran tetap optimal. Peneliti juga menyarankan adanya pemantauan debit air rutin di bagian hulu dan hilir agar kehilangan air dapat dideteksi lebih cepat.
Rekomendasi lainnya adalah pengaturan jadwal distribusi air secara bergilir agar pembagian air lebih merata bagi petani. Koordinasi antara petugas irigasi dan masyarakat juga dinilai penting untuk menjaga kondisi saluran tetap baik.
Penelitian ini juga relevan dengan upaya modernisasi sistem irigasi di Indonesia. Penggunaan sensor digital, pemodelan hidrolika, dan sistem pemantauan otomatis dinilai dapat membantu meningkatkan efisiensi distribusi air di masa depan.
Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa penelitian masih memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada segmen saluran tertentu dan belum menggunakan simulasi hidrolika digital secara mendalam. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk menganalisis lebih banyak titik pengamatan dan menghubungkan efisiensi irigasi dengan produktivitas pertanian.
Profil Penulis
Muhamad Yamin merupakan peneliti teknik sipil dari Universitas Qamarul Huda Badaruddin yang memiliki fokus penelitian pada hidrolika, sistem irigasi, dan manajemen sumber daya air.
Farida Gafar adalah akademisi dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Makassar dengan bidang keahlian teknik irigasi, pengelolaan air pertanian, dan infrastruktur berkelanjutan.

0 Komentar