An Analysis of Impoliteness Strategies in “Close the Door” Podcast by Deddy Corbuzier


Bahasa dalam Podcast Deddy Corbuzier Jadi Sorotan Penelitian Linguistik Universitas Negeri Medan
Bahasa yang terdengar kasar dalam podcast ternyata tidak selalu bermakna menghina. Itulah temuan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas Negeri Medan melalui kajian terhadap podcast Close The Door milik Deddy Corbuzier. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dan meneliti bagaimana strategi “ketidaksantunan” atau impoliteness muncul dalam percakapan digital, khususnya dalam episode yang menghadirkan Fajar Sadboy dan Indra Frimawan. Penelitian ini dipimpin oleh Atika Anjani bersama Khairunnisa Azzahra, Novani Elisabeth Lingga, Nurhikmah Siagian, Resa Aquilera Ramadhani, dan Meisuri dari Universitas Negeri Medan. Hasil riset menunjukkan bahwa ungkapan yang terdengar kasar di media digital sering kali justru berfungsi sebagai humor, ekspresi spontan, atau cara membangun interaksi yang lebih hidup di depan audiens. Fenomena ini dinilai penting karena podcast kini menjadi salah satu bentuk komunikasi digital paling populer di Indonesia. Program seperti Close The Door dikenal dengan gaya percakapan yang lugas, tajam, dan kadang kontroversial, sehingga menjadi lahan menarik untuk melihat bagaimana bahasa dipakai untuk menciptakan ketegangan sekaligus hiburan.

Bahasa Kasar di Media Digital Tidak Selalu Bermakna Negatif
Dalam kajian pragmatik, impoliteness adalah strategi bahasa yang dapat mengancam “muka sosial” seseorang, seperti harga diri, kehormatan, atau penerimaan dalam kelompok. Namun, dalam konteks media hiburan, makna ini sering bergeser. Tim peneliti menemukan bahwa ucapan-ucapan bernada kritik, ejekan, atau sindiran dalam podcast tersebut lebih sering digunakan sebagai bentuk candaan antar pembicara, bukan serangan serius. Kedekatan sosial antara host dan tamu membuat kata-kata kasar terdengar sebagai bagian dari dinamika hiburan. Menurut Atika Anjani dan tim, hal ini memperlihatkan bahwa komunikasi di ruang digital tidak dapat dipahami hanya dari kata-katanya saja, tetapi juga dari konteks sosial, ekspresi, serta hubungan antar penutur.

Meneliti Percakapan Fajar Sadboy dan Deddy Corbuzier
Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diambil dari dialog dalam episode Close The Door yang diunggah di YouTube. Peneliti menyalin seluruh percakapan, lalu menganalisis bagian-bagian yang mengandung unsur ketidaksantunan menggunakan teori pragmatik dari Jonathan Culpeper. Teori tersebut membagi impoliteness ke dalam lima strategi:
-Bald on record impoliteness (kasar secara langsung)
-Positive impoliteness (merusak citra sosial)
-Negative impoliteness (menekan atau mengintimidasi)
-Sarcasm/mock impoliteness (sindiran atau ejekan)
-Withholding politeness (tidak memberi respons yang diharapkan)
Dari keseluruhan percakapan, peneliti menemukan 14 tuturan yang masuk kategori tersebut.

Strategi Paling Dominan: Negative Impoliteness
Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi yang paling sering muncul adalah negative impoliteness. Jenis ini muncul ketika pembicara menekan lawan bicara atau memaksa mereka merespons. Distribusi temuan penelitian adalah sebagai berikut:
-Negative impoliteness: 29,41%
-Bald on record impoliteness: 23,53%
-Positive impoliteness: 17,65%
-Withholding politeness: 17,65%
-Sarcasm/mock impoliteness: 11,76%
Salah satu contoh yang dianalisis adalah saat Deddy Corbuzier melontarkan kata “goblok” kepada Fajar Sadboy ketika membahas pengalaman pingsan selama 13 hari. Secara linguistik, ucapan ini tergolong serangan langsung terhadap lawan bicara. Namun dalam konteks acara, peneliti menilai tuturan itu lebih banyak diterima sebagai reaksi spontan yang menghibur penonton.

Podcast Menjadi Ruang Baru Studi Bahasa
Penelitian ini memperlihatkan bahwa podcast bukan sekadar media hiburan, tetapi juga ruang sosial yang kaya untuk kajian bahasa modern. Percakapan yang spontan, tanpa naskah, dan sering memunculkan emosi asli membuat podcast menjadi sumber data autentik bagi ilmu linguistik. Atika Anjani dan tim menilai bahwa penggunaan bahasa kasar dalam podcast dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus:
-menyampaikan emosi spontan,
-membangun humor,
-memperkuat karakter pembawa acara,
-meningkatkan daya tarik percakapan bagi audiens.
Temuan ini penting karena masyarakat sering menilai bahasa kasar sebagai perilaku negatif. Padahal, dalam komunikasi digital, konteks dapat mengubah maknanya menjadi candaan, strategi retorik, atau alat membangun kedekatan.

Implikasi bagi Dunia Media dan Pendidikan
Hasil riset ini memberi pelajaran bagi industri media digital bahwa gaya komunikasi yang tajam ternyata menjadi salah satu daya tarik konten. Host yang berani, spontan, dan ekspresif dapat menciptakan interaksi yang terasa lebih autentik bagi penonton. Bagi dunia pendidikan, studi ini dapat membantu mahasiswa linguistik memahami bagaimana teori pragmatik berkembang dalam era media sosial dan podcast. Kajian semacam ini juga relevan untuk pembelajaran bahasa, komunikasi, dan literasi digital. Dalam konteks kebijakan publik, penelitian ini menunjukkan perlunya literasi media yang lebih baik agar masyarakat mampu membedakan antara ujaran kasar yang bersifat hiburan dengan ujaran yang benar-benar menyerang atau merendahkan seseorang.

Pernyataan Penulis
Atika Anjani dari Universitas Negeri Medan menjelaskan bahwa strategi ketidaksantunan dalam podcast modern tidak selalu dimaksudkan untuk menimbulkan konflik. Menurut tim penulis, banyak ungkapan yang secara teori dianggap tidak santun justru digunakan untuk menciptakan suasana santai, humor, dan meningkatkan keterlibatan audiens dalam percakapan digital.

Profil Singkat Penulis
Atika Anjani, S.Pd. Peneliti bidang linguistik dan pragmatik dari Universitas Negeri Medan. Fokus kajiannya meliputi analisis bahasa dalam media digital, pragmatik, dan studi komunikasi.
Tim Penulis: Khairunnisa Azzahra, Novani Elisabeth Lingga, Nurhikmah Siagian, Resa Aquilera Ramadhani, dan Meisuri, seluruhnya berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan.

Sumber Penelitian
Judul jurnal: An Analysis of Impoliteness Strategies in “Close the Door” Podcast by Deddy Corbuzier
Jurnal: International Journal of Integrative Research
Tahun publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar