![]() |
| Ilustrasi by Ai |
Ekstrak Bunga Rosella Dinilai Potensial Lawan Bakteri E. coli Penyebab Infeksi
Ekstrak bunga rosella atau Hibiscus sabdariffa L. dinilai memiliki potensi besar sebagai terapi pendamping untuk melawan bakteri Escherichia coli (E. coli), terutama pada kasus infeksi yang berkaitan dengan pembentukan biofilm seperti infeksi saluran kemih. Temuan ini dipublikasikan oleh Dian Fitri Chairunnisa dan Ratna Ika Yusuf dari Universitas Indonesia Maju dalam jurnal ilmiah Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) edisi April 2026.
Penelitian tersebut menjadi penting karena kasus resistensi antibiotik terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat membuat sejumlah bakteri menjadi lebih kebal terhadap pengobatan konvensional. Kondisi ini mendorong para peneliti mencari alternatif antibakteri alami yang lebih aman dan efektif.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menyoroti bunga rosella yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan minuman herbal. Padahal, tanaman tersebut mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan antosianin yang diduga memiliki kemampuan antibakteri dan antibiofilm.
Ratna Ika Yusuf dan Dian Fitri Chairunnisa menjelaskan bahwa bakteri E. coli merupakan salah satu penyebab infeksi yang paling umum ditemukan pada manusia. Bakteri Gram-negatif tersebut sebenarnya merupakan flora normal di saluran pencernaan, tetapi dalam kondisi tertentu dapat memicu penyakit, termasuk infeksi saluran kemih dan gangguan pencernaan.
Para peneliti menyebutkan bahwa ancaman resistensi antibiotik membuat dunia kesehatan membutuhkan sumber antimikroba baru dari bahan alam. Rosella dipilih karena sebelumnya telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antijamur, antiinflamasi, hingga antihipertensi.
Menggunakan Ekstraksi Etanol dan Fraksinasi
Penelitian dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan etanol 96 persen. Setelah proses ekstraksi selesai, peneliti melakukan fraksinasi menggunakan beberapa pelarut, yaitu n-heksana, etil asetat, dan air.
Setiap fraksi kemudian diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli ATCC menggunakan metode difusi cakram dan pengenceran. Pengujian ini bertujuan mengetahui kemampuan ekstrak rosella dalam menghambat maupun membunuh pertumbuhan bakteri.
Peneliti juga mengukur nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) atau konsentrasi hambat minimum serta Minimum Bactericidal Concentration (MBC) atau konsentrasi bunuh minimum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air bunga rosella menjadi bagian paling aktif dalam melawan bakteri E. coli. Fraksi tersebut menghasilkan diameter zona hambat sebesar 16,5 mm dengan nilai MBC sebesar 25 mg/mL.
Temuan itu menunjukkan bahwa senyawa aktif yang larut dalam air memiliki kemampuan antibakteri paling kuat dibandingkan fraksi lainnya.
Merusak Dinding dan Membran Sel Bakteri
Peneliti menjelaskan bahwa mekanisme kerja antibakteri rosella diduga terjadi melalui kerusakan dinding dan membran sel bakteri. Kerusakan tersebut menyebabkan permeabilitas membran meningkat sehingga sel bakteri mengalami kematian.
Senyawa flavonoid dan polifenol yang terkandung dalam rosella diyakini berperan penting dalam proses tersebut. Flavonoid diketahui mampu mengganggu fungsi membran sel mikroba, sedangkan tanin dapat menghambat aktivitas enzim dan metabolisme bakteri.
Selain itu, kandungan saponin dalam rosella juga berpotensi menyebabkan kebocoran membran sel bakteri. Kombinasi berbagai senyawa metabolit sekunder inilah yang membuat rosella memiliki efek antibakteri cukup menjanjikan.
Dalam artikel ilmiahnya, peneliti menilai rosella memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai terapi adjuvan atau terapi pendamping bersama antibiotik konvensional.
“Peningkatan permeabilitas membran bakteri berpotensi meningkatkan efektivitas antibiotik konvensional,” tulis Ratna Ika Yusuf dan Dian Fitri Chairunnisa dalam publikasi tersebut.
Menurut mereka, pendekatan kombinasi bahan alami dan antibiotik dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko resistensi bakteri di masa depan.
Berpotensi Digunakan pada Infeksi Saluran Kemih
Salah satu potensi penggunaan rosella yang disoroti dalam penelitian ini adalah pada infeksi yang melibatkan pembentukan biofilm, terutama infeksi saluran kemih.
Biofilm merupakan lapisan mikroorganisme yang melekat pada permukaan tertentu dan sulit dihancurkan oleh antibiotik biasa. Keberadaan biofilm sering membuat infeksi menjadi lebih sulit diobati dan mudah kambuh.
Peneliti menilai aktivitas antibiofilm dari rosella dapat membantu menghambat pembentukan lapisan tersebut sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap uji laboratorium atau in vitro. Karena itu, para peneliti mengingatkan bahwa rosella belum dapat langsung digunakan sebagai obat utama tanpa penelitian lanjutan.
Mereka menekankan perlunya pengujian tambahan terkait keamanan, efektivitas klinis, farmakokinetik, serta potensi interaksi obat.
Potensi Interaksi dengan Antibiotik dan Obat Hipertensi
Selain memiliki manfaat, rosella juga dinilai memiliki kemungkinan memengaruhi kerja enzim metabolisme obat di dalam tubuh. Hal tersebut dapat menimbulkan interaksi dengan beberapa jenis obat, termasuk antibiotik dan obat antihipertensi.
Karena itu, penggunaan rosella sebagai terapi tambahan tetap memerlukan pengawasan dan kajian ilmiah lebih mendalam.
Para peneliti menyatakan bahwa pengembangan obat herbal berbasis rosella harus mempertimbangkan aspek keamanan jangka panjang agar dapat diterapkan dalam praktik klinis secara luas.
Temuan ini memperkuat tren penelitian global yang mulai memanfaatkan tanaman herbal sebagai sumber antibakteri alami di tengah meningkatnya resistensi antibiotik.
Bagi masyarakat, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tanaman herbal lokal tidak hanya memiliki nilai tradisional, tetapi juga potensi ilmiah yang dapat dikembangkan menjadi inovasi kesehatan modern.
Profil Penulis
Dian Fitri Chairunnisa merupakan peneliti dari Universitas Indonesia Maju yang berfokus pada bidang farmasi dan pengembangan bahan alam untuk kesehatan.
Ratna Ika Yusuf adalah akademisi dan peneliti dari Universitas Indonesia Maju dengan bidang keahlian farmasi klinis dan pengembangan terapi berbasis senyawa alami.
Sumber Penelitian
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA),
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i4.31

0 Komentar