Webinar “Integrity Revolution” Tingkatkan Pemahaman Antikorupsi Peserta Secara Signifikan

Ilustrasi by AI

Surakarta- Program edukasi antikorupsi bertajuk Integrity Revolution yang dilaksanakan melalui webinar interaktif terbukti meningkatkan pemahaman peserta tentang nilai integritas dan pencegahan budaya korupsi. Temuan ini dilaporkan oleh Sugiono dari Universitas Sapta Mandiri Kabupaten Balangan, Muhammad Ihsan dari Poltekkes Kemenkes Surakarta, bersama tim peneliti lintas perguruan tinggi dalam artikel yang terbit pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF). Program ini dinilai penting karena memperkuat strategi pencegahan korupsi berbasis pendidikan masyarakat yang mudah diakses secara luas melalui teknologi digital.

Korupsi masih menjadi persoalan struktural yang memengaruhi stabilitas ekonomi, kualitas tata kelola pemerintahan, dan kepercayaan publik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran etika dan integritas individu menjadi faktor utama yang memungkinkan praktik korupsi terus berulang. Karena itu, pendekatan pendidikan nilai dinilai sebagai strategi jangka panjang yang efektif untuk memperkuat budaya antikorupsi sejak tingkat individu.

Program Integrity Revolution dirancang sebagai kegiatan sosialisasi berbasis webinar interaktif yang menekankan pentingnya internalisasi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran sosial. Materi yang disampaikan mencakup pemahaman konsep integritas, pengenalan nilai-nilai antikorupsi, bentuk-bentuk budaya koruptif di lingkungan sosial, serta peran individu dalam mencegah praktik penyimpangan. Penyampaian materi dilakukan secara partisipatif melalui presentasi, diskusi, dan sesi tanya jawab sehingga peserta terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Kegiatan ini diikuti oleh 165 peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian webinar serta mengisi instrumen evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan. Pengukuran dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk melihat perubahan tingkat pemahaman peserta terhadap materi integritas dan antikorupsi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang jelas setelah kegiatan berlangsung.

Nilai rata-rata peserta sebelum mengikuti program tercatat sebesar 88,32, sedangkan nilai setelah mengikuti kegiatan meningkat menjadi 96,67. Selisih peningkatan sebesar 8,35 poin menunjukkan bahwa sosialisasi berbasis webinar interaktif memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan sosial.

Tim peneliti menilai keberhasilan program ini tidak hanya dipengaruhi oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh pendekatan komunikasi dua arah yang digunakan selama kegiatan. Interaksi langsung antara narasumber dan peserta memungkinkan terjadinya proses klarifikasi, refleksi, dan pemahaman kontekstual terhadap persoalan korupsi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Sugiono dari Universitas Sapta Mandiri Kabupaten Balangan menjelaskan bahwa pendekatan edukasi partisipatif mampu memperkuat keterlibatan peserta dalam memahami dampak budaya koruptif di lingkungan sosial. Menurutnya, metode interaktif seperti webinar dapat menjadi alternatif efektif dalam memperluas jangkauan pendidikan integritas di masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Muhammad Ihsan dari Poltekkes Kemenkes Surakarta juga menekankan bahwa pendidikan antikorupsi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar peningkatan pengetahuan dapat berkembang menjadi perubahan sikap dan perilaku nyata. Upaya pembentukan karakter berbasis integritas membutuhkan dukungan program edukasi yang konsisten dan berkesinambungan.

Hasil kegiatan ini memperkuat temuan berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendidikan antikorupsi berperan penting dalam membangun kesadaran etis dan tanggung jawab sosial generasi muda. Ketika nilai integritas ditanamkan melalui metode pembelajaran yang kontekstual dan partisipatif, peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga mampu mengaitkannya dengan pengalaman sosial mereka.

Penggunaan webinar sebagai media sosialisasi juga membuka peluang baru dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis teknologi. Format pembelajaran daring memungkinkan penyampaian materi secara fleksibel, menjangkau peserta dari berbagai wilayah, serta meningkatkan efisiensi pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan ini dinilai relevan untuk diterapkan dalam program pendidikan tinggi, pelatihan aparatur pemerintah, organisasi masyarakat, serta kegiatan literasi etika bagi generasi muda.

Meski sebagian kecil peserta mengalami penurunan skor setelah kegiatan, peneliti menilai hal tersebut dipengaruhi faktor teknis dan kondisi individu selama pelaksanaan webinar. Secara umum, hasil evaluasi menunjukkan bahwa model sosialisasi berbasis webinar interaktif tetap efektif sebagai strategi edukasi integritas dalam konteks pendidikan nonformal masyarakat.

Ke depan, program serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan peserta yang lebih luas. Evaluasi lanjutan juga diperlukan untuk melihat dampak jangka panjang pendidikan integritas terhadap perubahan sikap dan perilaku peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis penelitian ini adalah Sugiono dari Universitas Sapta Mandiri Kabupaten Balangan, Muhammad Ihsan dari Poltekkes Kemenkes Surakarta, Rachmad Agung Prayogi dari Universitas Tanjungpura, Neng Nurwiatin dari Universitas Siliwangi, Sri Sumarni dari Poltekkes Kemenkes Semarang, dan Lili Amaliah dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Sumber penelitian: “Integrity Revolution Socialization in Dismantling Corrupt Culture through Interactive Webinars”, Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), 2026, https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i2.141

https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf

Posting Komentar

0 Komentar