Tomohon — Penyuluhan kesehatan tentang pencegahan infeksi nosokomial yang dilaksanakan pada 9 Maret 2026 di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon terbukti meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga secara signifikan. Kegiatan ini dilakukan oleh Ake Royke Calvin Langingi, Risca Manoppo, Chintami Luciana Watak, Jisela Rapar, dan Angelina Taula dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon, dan dipublikasikan pada 2026 dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan interaktif mampu memperkuat peran pasien dan keluarga dalam mencegah infeksi selama masa perawatan di rumah sakit.
Temuan ini penting karena infeksi nosokomial masih menjadi salah satu tantangan serius dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. Infeksi yang terjadi selama masa perawatan dapat meningkatkan lama rawat pasien, risiko komplikasi, hingga angka kematian. Upaya pencegahan selama ini lebih banyak berfokus pada tenaga kesehatan, padahal pasien dan keluarga memiliki peran strategis dalam menjaga lingkungan perawatan tetap aman dan higienis.
Kurangnya literasi kesehatan pasien dan keluarga menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko penyebaran infeksi di rumah sakit. Praktik sederhana seperti mencuci tangan sebelum menyentuh pasien, menggunakan masker, menjaga kebersihan lingkungan, serta membatasi kunjungan sering diabaikan karena kurangnya pemahaman yang memadai. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan edukasi yang sistematis dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Program penyuluhan yang dilakukan tim STIKES Gunung Maria Tomohon menggunakan metode edukatif promotif melalui ceramah interaktif, diskusi partisipatif, demonstrasi praktik cuci tangan, serta evaluasi pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan dilaksanakan di ruang rawat inap St. Maria Joseph RS Gunung Maria Tomohon dengan melibatkan pasien dan keluarga yang sedang mendampingi selama proses perawatan.
Materi penyuluhan mencakup pengertian infeksi nosokomial, faktor risiko penularan, cara penyebaran infeksi di lingkungan rumah sakit, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien dan keluarga. Tim pelaksana juga menggunakan media edukasi berupa leaflet dan presentasi visual agar informasi lebih mudah dipahami oleh peserta dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang jelas setelah kegiatan berlangsung. Berdasarkan data pada tabel hasil evaluasi peserta di halaman 134, seluruh responden mengalami peningkatan skor pemahaman setelah mengikuti penyuluhan. Rata-rata nilai pre-test peserta sebesar 55 persen meningkat menjadi 80 persen pada post-test, atau terjadi kenaikan sebesar 25 persen. Selain itu, sekitar 85 persen peserta mampu menjawab pertanyaan evaluasi dengan benar setelah penyuluhan, dibandingkan hanya sekitar 50 persen sebelum kegiatan dilaksanakan.
Peningkatan pengetahuan ini menunjukkan bahwa metode penyuluhan berbasis ceramah interaktif dan demonstrasi praktik langsung efektif membantu peserta memahami langkah-langkah pencegahan infeksi. Demonstrasi praktik cuci tangan yang benar memberikan pengalaman langsung bagi peserta sehingga informasi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diterapkan dalam tindakan nyata.
Menurut Ake Royke Calvin Langingi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon, keterlibatan pasien dan keluarga merupakan bagian penting dalam sistem pencegahan infeksi rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa edukasi yang berkelanjutan dapat membantu membentuk perilaku hidup bersih dan sehat selama masa perawatan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien dalam menjaga keselamatan pasien.
Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga memunculkan perubahan sikap peserta terhadap pentingnya menjaga kebersihan tangan dan lingkungan sekitar pasien. Beberapa peserta mulai menunjukkan inisiatif untuk lebih sering mencuci tangan sebelum berinteraksi dengan pasien dan lebih aktif menanyakan prosedur kebersihan kepada tenaga kesehatan. Perubahan perilaku ini menjadi indikator penting keberhasilan program edukasi kesehatan berbasis partisipatif.
Analisis karakteristik peserta menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia produktif antara 25 hingga 50 tahun dengan latar belakang pendidikan menengah hingga tinggi. Peserta dengan tingkat pendidikan lebih tinggi menunjukkan peningkatan pemahaman yang lebih cepat, namun secara umum seluruh kelompok peserta mengalami peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah mengikuti penyuluhan.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa penggunaan media visual seperti leaflet dan presentasi membantu menyederhanakan informasi medis yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami masyarakat. Kombinasi ceramah interaktif, demonstrasi praktik, dan diskusi dua arah terbukti lebih efektif dibandingkan metode edukasi pasif dalam meningkatkan literasi kesehatan pasien dan keluarga.
Secara lebih luas, peningkatan pengetahuan pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi nosokomial memiliki dampak langsung terhadap kualitas layanan rumah sakit. Ketika pasien dan keluarga memahami prosedur kebersihan dan protokol pencegahan infeksi, risiko penularan penyakit selama perawatan dapat ditekan secara signifikan. Hal ini mendukung terciptanya lingkungan perawatan yang lebih aman dan meningkatkan kualitas keselamatan pasien.
Tim peneliti STIKES Gunung Maria Tomohon juga menekankan pentingnya penyuluhan kesehatan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan di rumah sakit. Edukasi yang konsisten memungkinkan pasien dan keluarga tidak hanya memahami informasi kesehatan, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup bersih yang mendukung pencegahan infeksi dalam jangka panjang.
Program ini menjadi contoh model edukasi kesehatan berbasis partisipatif yang dapat diterapkan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pendekatan yang melibatkan pasien dan keluarga secara aktif dinilai efektif memperkuat sistem pencegahan infeksi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
0 Komentar