Penelitian terbaru oleh Galery dan Fangling dari Yangzhou University, Tiongkok, yang dipublikasikan pada Maret 2026 dalam International Journal of Business and Applied Economics, mengungkap bahwa transformasi digital dan inovasi hijau secara bersama-sama meningkatkan kinerja berkelanjutan UMKM. Studi ini menyoroti peran penting manajemen Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai jembatan utama menuju pertumbuhan berkualitas tinggi.
Di tengah tekanan global seperti perubahan iklim, digitalisasi, dan pergeseran perilaku konsumen pasca-pandemi, UMKM menghadapi tantangan besar untuk tetap kompetitif. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga nilai sosial dan lingkungan dari sebuah produk. Hal ini memaksa pelaku usaha untuk mengintegrasikan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan data dari kawasan ekonomi Delta Sungai Yangtze di Tiongkok, salah satu pusat industri dengan tekanan regulasi tinggi terkait emisi karbon. Data dikumpulkan melalui survei terhadap pelaku UMKM serta analisis data historis perusahaan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami hubungan antara transformasi digital, inovasi hijau, ESG, dan kinerja bisnis secara menyeluruh.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan utama:
- Transformasi digital secara signifikan meningkatkan kualitas manajemen ESG (koefisien β=0,254).
- Inovasi hijau memiliki pengaruh lebih kuat terhadap ESG (β=0,338).
- ESG terbukti meningkatkan kinerja bisnis berkualitas tinggi (β=0,474).
- Transformasi digital memiliki dampak langsung terbesar terhadap kinerja (β=0,487).
- Inovasi hijau juga berkontribusi signifikan terhadap kinerja (β=0,369).
- ESG berperan sebagai mediator penting yang menghubungkan inovasi dan transformasi dengan hasil bisnis.
Penelitian ini juga menemukan bahwa inovasi hijau sangat bergantung pada ESG untuk menghasilkan dampak ekonomi. Tanpa pelaporan dan pengelolaan ESG yang baik, investasi ramah lingkungan cenderung tidak langsung memberikan keuntungan finansial. Sebaliknya, transformasi digital dapat langsung meningkatkan efisiensi dan profitabilitas tanpa harus melalui mekanisme ESG terlebih dahulu.
Galery dari Yangzhou University menjelaskan bahwa “ESG bukan lagi sekadar alat pelaporan, tetapi menjadi sistem utama yang mengubah investasi digital dan hijau menjadi nilai ekonomi nyata.” Fangling menambahkan bahwa perusahaan yang mampu mengintegrasikan teknologi digital dengan strategi lingkungan akan lebih mudah menarik konsumen modern dan investor.
Dampak penelitian ini sangat luas. Bagi pelaku usaha, hasil ini menegaskan pentingnya menggabungkan investasi teknologi dengan strategi keberlanjutan. Bagi pemerintah, temuan ini mendorong kebijakan insentif yang mengintegrasikan digitalisasi dan inovasi hijau, seperti subsidi teknologi ramah lingkungan dan pembiayaan berbasis ESG.
Secara praktis, UMKM disarankan untuk:
- Mengintegrasikan teknologi digital dengan strategi keberlanjutan sejak awal.
- Menggunakan ESG sebagai alat pemantauan pasar dan preferensi konsumen.
- Mendorong kolaborasi internal untuk mempercepat inovasi hijau.
Profil Penulis
- Galery - Yangzhou University
Sumber Penelitian
Galery & Fangling. (2026). The Synergy of Digital Transformation and Green Innovation on SME Sustainability Performance: The Mediating Role of ESG Management in High-Quality Development. International Journal of Business and Applied Economics, Vol. 5 No. 2, hlm. 713–724.

0 Komentar