Penelitian tahun 2026 oleh Agus Wahyudi Irianto, Bangun, dan
Haposan Simatupang dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia mengungkap
bahwa strategi operasi teritorial Korem 131/Santiago mampu memperkuat
pengamanan wilayah perbatasan Sangihe dan Talaud, meski masih menghadapi
berbagai keterbatasan operasional. Temuan ini penting karena kawasan tersebut
merupakan titik rawan pelanggaran kedaulatan yang berbatasan langsung dengan
Filipina.
Wilayah Sangihe dan Talaud memiliki posisi strategis
sekaligus rentan. Letaknya yang berada di jalur laut internasional membuat
kawasan ini rawan terhadap aktivitas ilegal seperti penangkapan ikan ilegal,
penyelundupan, hingga infiltrasi lintas negara. Kondisi geografis kepulauan
yang terpencar serta keterbatasan infrastruktur semakin memperbesar potensi
ancaman keamanan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan analisis SWOT. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapangan,
serta analisis dokumen kebijakan. Proses analisis dilakukan dengan
mengelompokkan faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman untuk menilai
efektivitas strategi pertahanan yang diterapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi operasi
teritorial telah berjalan cukup efektif melalui pendekatan terpadu:
- Patroli darat dan laut dilakukan secara rutin di wilayah rawan
- Sistem komando berlapis (Kodim–Koramil–Babinsa) memperkuat deteksi dini
- Partisipasi masyarakat meningkat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan
- Integrasi teknologi seperti radar, drone, dan sistem komunikasi digital meningkatkan pengawasan
Pada halaman 6–7 dijelaskan bahwa Babinsa berperan sebagai
“sensor sosial” yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga mampu
mempercepat aliran informasi dan respons terhadap ancaman. Selain itu, konsep
keamanan berbasis masyarakat terbukti efektif dalam memperkuat sistem
peringatan dini.
Meski demikian, efektivitas strategi belum optimal.
Penelitian mengidentifikasi sejumlah kendala utama:
- Jumlah personel tidak sebanding dengan luas wilayah pengawasan
- Keterbatasan transportasi laut dan logistik
- Infrastruktur komunikasi yang belum merata di pulau-pulau kecil
- Koordinasi antar lembaga yang belum sepenuhnya terintegrasi
Diagram kerangka konseptual pada halaman 5 juga menunjukkan
bahwa strategi ini bergantung pada integrasi antara kekuatan internal dan
peluang eksternal melalui analisis SWOT, yang kemudian menghasilkan rekomendasi
strategis untuk penguatan operasi.
Agus Wahyudi Irianto dari Universitas Pertahanan menjelaskan
bahwa strategi yang diterapkan sudah adaptif terhadap karakteristik wilayah
kepulauan dan ancaman modern. Namun, ia menekankan pentingnya peningkatan
kapasitas sumber daya manusia, modernisasi teknologi pengawasan, serta
penguatan koordinasi lintas sektor agar strategi dapat berjalan lebih optimal.
Dampak penelitian ini cukup luas bagi kebijakan pertahanan
nasional. Strategi operasi teritorial yang menggabungkan kekuatan militer,
teknologi, dan partisipasi masyarakat terbukti efektif dalam menjaga stabilitas
wilayah perbatasan. Pendekatan ini juga dapat menjadi model bagi pengamanan
wilayah kepulauan lain di Indonesia.
Dalam jangka panjang, penguatan sistem pertahanan berbasis
wilayah memerlukan dukungan berkelanjutan, termasuk peningkatan anggaran,
pembangunan infrastruktur, serta integrasi sistem informasi pertahanan. Tanpa
upaya tersebut, potensi ancaman di wilayah perbatasan akan tetap tinggi.
Profil Penulis
- Agus Wahyudi Irianto - Universitas Pertahanan
- Bangun Universitas Pertahanan
- Haposan Simatupang - Universitas Pertahanan
Sumber Penelitian
Irianto, A. W., Bangun, & Simatupang, H. (2026). Territorial Operations
Strategy of Korem 131/Santiago in Securing the Sangihe and Talaud Islands to
Support National Sovereignty. Contemporary Journal of Applied Sciences
(CJAS), Vol. 4 No. 3, 235–248.
DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i3.142

0 Komentar