Sipirok — Sikap kerja pegawai terbukti berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kepemimpinan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Tapanuli Selatan. Temuan ini dihasilkan oleh penelitian Muhammad Arifin Siregar, Sri Adi Astuti Tanjung, Rahmat Kurnia Halomoan Sagala, Sosanna Makaria Sitepu, Yoanda Mahiransyah Sihotang, dan Nur M Ridha Tarigan dari Universitas Islam Sumatera Utara yang dipublikasikan pada 2026.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan di lingkungan birokrasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pimpinan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sikap kerja pegawai sebagai bagian dari ekosistem organisasi.
Dalam organisasi pemerintah modern, kepemimpinan tidak lagi hanya bergantung pada kewenangan struktural. Efektivitas pemimpin juga ditentukan oleh hubungan psikologis dengan bawahan, tingkat kepercayaan, serta dukungan lingkungan kerja yang positif. Karena itu, sikap kerja pegawai menjadi faktor strategis dalam membentuk kepemimpinan yang responsif dan adaptif.
Penelitian dilakukan di BKD Kabupaten Tapanuli Selatan dengan melibatkan seluruh 36 pegawai sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Square (PLS).
Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepemimpinan dengan nilai koefisien 0,410 dan tingkat signifikansi 0,005. Artinya, semakin positif sikap kerja pegawai, semakin efektif kepemimpinan yang terbentuk dalam organisasi.
Penelitian juga menemukan bahwa sikap kerja menjelaskan 25,5 persen variasi efektivitas kepemimpinan. Sisanya dipengaruhi faktor lain seperti budaya organisasi, pengalaman kerja, karakteristik pekerjaan, dan sistem komunikasi internal.
Secara umum, sikap kerja pegawai di BKD Tapanuli Selatan berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 3,66. Indikator tertinggi terdapat pada rasa aman dan kenyamanan lingkungan kerja, sedangkan indikator kondisi kerja dan jaminan karier masih memerlukan perhatian lebih lanjut.
Sementara itu, tingkat kepemimpinan juga berada dalam kategori tinggi dengan nilai rata-rata 3,95. Pegawai menilai pimpinan cukup baik dalam membangun kerja sama, menyelesaikan tugas secara efektif, serta melibatkan pegawai dalam proses pengambilan keputusan.
Muhammad Arifin Siregar dari Universitas Islam Sumatera Utara menjelaskan bahwa sikap kerja positif seperti loyalitas, keterbukaan, dan kemauan bekerja sama dapat memperkuat hubungan antara pimpinan dan pegawai. Kondisi ini menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kepemimpinan partisipatif.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki motivasi tinggi dan rasa aman dalam bekerja cenderung memberikan respons lebih positif terhadap arahan pimpinan. Sebaliknya, sikap kerja yang kurang kondusif dapat menghambat efektivitas kepemimpinan dan mempersempit ruang inovasi organisasi.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa kepemimpinan bukan hanya hasil kemampuan individu pimpinan, tetapi juga dipengaruhi kualitas interaksi sosial dalam organisasi. Hubungan kerja yang harmonis memungkinkan pimpinan lebih fokus pada pengembangan strategi dan inovasi pelayanan publik.
Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini menjadi dasar penting dalam merancang kebijakan penguatan sumber daya manusia aparatur. Program peningkatan motivasi kerja, jaminan karier, serta lingkungan kerja yang kondusif dinilai mampu memperkuat kualitas kepemimpinan secara berkelanjutan.
0 Komentar