Risiko Tersembunyi Bahan Peledak Militer: Studi Ungkap Ancaman Lingkungan dan Rantai Pasok

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Indonesia - Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 2026 oleh Sulfi Indriani dan tim dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia mengungkap bahwa bahan kimia utama dalam sistem pertahanan modern tidak hanya berisiko saat digunakan, tetapi juga sepanjang rantai pasoknya. Studi ini menyoroti tiga bahan kunci—ammonium perchlorate (AP), RDX, dan HMX—yang selama ini menjadi tulang punggung roket dan amunisi militer, namun menyimpan ancaman serius bagi lingkungan, keselamatan industri, dan ketahanan nasional.

Temuan ini menjadi penting karena ketiga bahan tersebut digunakan secara luas dalam sistem persenjataan modern. AP berperan sebagai oksidator utama dalam bahan bakar roket, sementara RDX dan HMX digunakan dalam berbagai jenis bahan peledak berdaya tinggi. Ketergantungan global terhadap bahan-bahan ini membuat risiko yang ditimbulkan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis.

Risiko Tidak Hanya Saat Ledakan

Selama ini, risiko bahan peledak sering dikaitkan dengan potensi ledakan. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa ancaman sebenarnya jauh lebih luas. Risiko muncul sejak tahap produksi, penyimpanan, transportasi, hingga pembuangan limbah.

Tim peneliti menemukan tiga jenis risiko utama:

  • Risiko proses industri: terutama pada RDX yang sangat sensitif terhadap suhu saat produksi
  • Risiko lingkungan: terutama pada AP yang mudah larut dan mencemari air tanah
  • Risiko strategis: terutama pada HMX yang produksinya bergantung pada bahan lain dan hanya tersedia di sedikit fasilitas

“Risiko bahan energetik tidak bisa dilihat sebagai masalah tunggal. Ia adalah sistem yang saling terhubung antara keamanan, lingkungan, dan industri,” tulis Sulfi Indriani dalam publikasinya.

Metode: Menggabungkan Data Ilmiah dan Analisis Risiko

Penelitian ini tidak melakukan eksperimen langsung, melainkan menggabungkan ratusan studi ilmiah, laporan pemerintah, dan dokumen industri dari tahun 2000 hingga 2024.

Para peneliti kemudian menyusun model analisis risiko berbasis matriks yang mempertimbangkan:

  • Kemungkinan terjadinya risiko
  • Tingkat dampak
  • Ketahanan lingkungan (apakah zat bertahan lama di alam)
  • Dampak strategis terhadap rantai pasok

Pendekatan ini memungkinkan perbandingan risiko antar bahan dan antar tahap dalam rantai pasok, dari bahan baku hingga limbah.

Temuan Utama: Setiap Bahan Punya Ancaman Berbeda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bahan memiliki profil risiko yang sangat berbeda:

  1. RDX – Risiko Produksi Paling Tinggi: RDX menjadi bahan paling berbahaya dalam tahap produksi. Sedikit kesalahan suhu dalam proses kimia dapat memicu reaksi berantai yang berujung ledakan. Risiko ini membuat pabrik RDX membutuhkan sistem pengendalian yang sangat ketat.
  2. Ammonium Perchlorate (AP) – Ancaman Lingkungan Terbesar: AP terbukti memiliki dampak lingkungan paling serius. Senyawa perchlorate di dalamnya dapat mencemari air tanah dan mengganggu fungsi kelenjar tiroid manusia. Paparan jangka panjang berpotensi menyebabkan gangguan hormon.
  3. HMX – Risiko Ketergantungan Industri: HMX memiliki risiko strategis karena produksinya bergantung pada proses pembuatan RDX. Jika satu terganggu, maka seluruh rantai pasok ikut terdampak. Selain itu, produksi globalnya terkonsentrasi di sedikit fasilitas, meningkatkan kerentanan terhadap gangguan.

Model Baru: Segitiga Risiko Terhubung

Salah satu kontribusi utama penelitian ini adalah pengenalan “Coupled Risk Triangle Model” atau model segitiga risiko terhubung.

Model ini menjelaskan bahwa risiko bahan kimia pertahanan terdiri dari tiga elemen yang saling memengaruhi:

  1. Ketidakstabilan reaksi kimia
  2. Dampak lingkungan jangka panjang
  3. Ketergantungan rantai pasok global

Jika satu aspek terganggu, maka dua aspek lainnya juga ikut terdampak. Misalnya, kecelakaan pabrik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan sekaligus menghentikan pasokan bahan baku militer.

Dampak Nyata bagi Dunia Nyata

Penelitian ini membawa implikasi luas, tidak hanya bagi militer tetapi juga masyarakat umum.

Bagi lingkungan:
Pencemaran air tanah oleh bahan seperti RDX dan AP dapat berlangsung lama dan sulit dibersihkan. Ini berpotensi memengaruhi kualitas air minum masyarakat di sekitar fasilitas militer.

Bagi industri:
Ketergantungan pada sedikit produsen membuat rantai pasok rentan terganggu oleh kecelakaan, regulasi, atau konflik geopolitik.

Bagi kebijakan publik:
Penelitian ini menekankan perlunya regulasi terpadu yang menggabungkan aspek keselamatan, lingkungan, dan ketahanan nasional, bukan kebijakan yang terpisah-pisah.

Solusi: Dari Kepatuhan ke Ketahanan

Tim peneliti menekankan bahwa pendekatan lama yang hanya fokus pada kepatuhan keselamatan sudah tidak cukup.

Beberapa strategi yang direkomendasikan:

  • Diversifikasi sumber bahan baku
  • Peningkatan teknologi pengendalian proses produksi
  • Pemantauan lingkungan jangka panjang
  • Penguatan produksi dalam negeri
  • Integrasi kebijakan antara sektor pertahanan dan lingkungan

“Bahan energetik bukan hanya alat pertahanan, tetapi juga sumber risiko sistemik yang harus dikelola secara terpadu,” tulis tim peneliti.

Profil Penulis

  • Sulfi Indriani – Peneliti di Program Studi Industri Pertahanan, Universitas Pertahanan RI, dengan fokus pada manajemen risiko industri strategis
  • Sri Yanto – Akademisi bidang teknologi pertahanan
  • I Nengah Putra – Peneliti sistem industri dan rekayasa pertahanan
  • Firdah Dipi Juni Kurniawati – Peneliti keselamatan proses dan bahan berbahaya

Keempatnya berafiliasi dengan Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia.

Sumber Penelitian

Indriani, S., Yanto, S., Putra, I. N., & Kurniawati, F. D. J. (2026). Strategic Risk Assessment of Hazardous Energetic Chemicals in Defense Supply Chains: A Coupled Risk Framework for Ammonium Perchlorate (AP), RDX, and HMX. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5(4), 473–486.

Posting Komentar

0 Komentar