Program SALAM Surabaya Dinilai Efektif Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkoba pada Siswa

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Program SALAM (Screening Anak Berisiko) yang diterapkan di Kota Surabaya terbukti berjalan cukup efektif sebagai upaya deteksi dini penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Penelitian ini dilakukan oleh Julia Azizah Marshalena dan Lukman Arif dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dipublikasikan pada 2026, dan menyoroti pentingnya pendekatan preventif di lingkungan pendidikan untuk menekan risiko penyalahgunaan zat terlarang.

Penelitian ini menjadi penting karena penyalahgunaan narkoba di kalangan anak dan remaja terus menjadi ancaman serius terhadap ketahanan sosial, khususnya di kota besar seperti Surabaya. Data Badan Narkotika Nasional menunjukkan jumlah pengguna narkoba di Indonesia masih fluktuatif, dengan jutaan kasus tercatat setiap tahun. Di Surabaya sendiri, angka kasus sempat meningkat signifikan sebelum kembali menurun dan naik lagi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjangkau kelompok usia sekolah.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah daerah melalui Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya meluncurkan Program SALAM pada 2025. Program ini dirancang sebagai strategi deteksi dini berbasis sekolah, dengan fokus pada identifikasi risiko penyalahgunaan narkoba sejak usia dini. Hingga awal 2026, program ini telah menjangkau 24 sekolah dengan total 356 siswa yang telah menjalani proses skrining, dan 20 di antaranya mendapatkan rehabilitasi rawat jalan.

Pendekatan Sederhana, Hasil Terukur

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya serta sejumlah sekolah dasar dan menengah pertama. Fokus analisis mengacu pada model implementasi kebijakan George C. Edward III, yang menilai empat aspek utama: komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi.

Dalam praktiknya, Program SALAM dilakukan melalui skrining langsung di sekolah menggunakan instrumen standar internasional untuk mendeteksi tingkat risiko penyalahgunaan zat. Program ini tidak hanya mengidentifikasi penggunaan narkoba, tetapi juga memetakan faktor sosial, lingkungan, dan psikologis yang memengaruhi perilaku siswa.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program SALAM secara umum sudah berjalan terstruktur dan sistematis. Beberapa temuan utama meliputi:

  • Komunikasi program cukup baik, dilakukan melalui koordinasi formal dan informal, termasuk surat resmi dan diskusi langsung dengan pihak sekolah.
  • Sumber daya relatif memadai, dengan dukungan tenaga profesional seperti tim rehabilitasi dan tim pencegahan, serta fasilitas skrining dan pedoman teknis yang jelas.
  • Komitmen pelaksana tinggi, ditunjukkan melalui pendekatan persuasif dan humanis kepada siswa.
  • Struktur birokrasi jelas, dengan adanya SOP yang mengatur alur pelaksanaan program.

Namun, penelitian juga menemukan sejumlah kendala yang membuat implementasi program belum optimal. Hambatan utama berasal dari faktor eksternal, seperti:

  • Kurangnya kesiapan dan dukungan dari beberapa sekolah
  • Kekhawatiran terhadap stigma negatif
  • Rendahnya keterbukaan siswa saat proses skrining

Akibatnya, pesan edukatif yang seharusnya diterima dengan baik justru sering menimbulkan rasa takut atau cemas di kalangan siswa.

Dampak dan Implikasi

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan deteksi dini berbasis sekolah memiliki potensi besar dalam mencegah penyalahgunaan narkoba sejak awal. Program SALAM tidak hanya berfungsi sebagai alat skrining, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan intervensi awal yang dapat membantu siswa memahami risiko serta mencari bantuan sejak dini.

Bagi dunia pendidikan, program ini membuka peluang untuk memperkuat peran sekolah sebagai lingkungan yang aman dan proaktif dalam pencegahan masalah sosial. Sementara itu, bagi pemerintah, temuan ini menjadi dasar untuk memperluas jangkauan program dan meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan berbasis preventif.

Julia Azizah Marshalena dari UPN “Veteran” Jawa Timur menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada penerimaan dari lingkungan sekolah dan kondisi psikologis siswa. Tanpa pendekatan komunikasi yang tepat, program yang dirancang baik sekalipun dapat kehilangan efektivitasnya di lapangan.

Tantangan dan Rekomendasi

Penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah perbaikan, antara lain:

  • Mengembangkan strategi komunikasi yang lebih persuasif dan ramah psikologis
  • Meningkatkan kerja sama dengan sekolah dan orang tua sebagai mitra
  • Menciptakan suasana skrining yang nyaman agar siswa lebih terbuka
  • Memperluas jangkauan program ke lebih banyak sekolah secara berkelanjutan

Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengukur efektivitas program secara kuantitatif, misalnya melalui perubahan perilaku siswa atau penurunan jumlah kasus.

Profil Penulis

Julia Azizah Marshalena adalah mahasiswa Program Studi Administrasi Publik di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dengan fokus pada kebijakan publik dan isu sosial. Penelitian ini dilakukan bersama Lukman Arif, akademisi di bidang administrasi publik yang memiliki keahlian dalam implementasi kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

Sumber Penelitian

Marshalena, J. A., & Arif, L. (2026). Implementation of the SALAM Program (Screening of Children at Risk) as an Early Detection Tool for Substance Abuse in the City of Surabaya. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 4.

Posting Komentar

0 Komentar