Program JAPATI di Bogor Dinilai Efektif Tekan Angka Putus Sekolah, Meski Hadapi Tantangan Sosial


Gambar dibuat oleh AI

Program digital untuk menekan angka putus sekolah di Kota Bogor menunjukkan hasil positif. Penelitian yang dilakukan oleh Fira Putri Renggani, Gotfridus Goris Seran, dan Faisal Tri Ramdani dari Universitas Djuanda pada 2026 menemukan bahwa implementasi Program Jaringan Aplikasi Pencegahan Anak Putus Sekolah (JAPATI) di Kecamatan Bogor Selatan berjalan dengan baik dan mulai membantu anak kembali ke bangku pendidikan.

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) ini menyoroti pentingnya inovasi digital dalam pelayanan publik pendidikan, terutama di wilayah perkotaan yang masih menghadapi persoalan putus sekolah akibat faktor ekonomi, sosial, dan akses layanan pendidikan.

Masalah Putus Sekolah Masih Nyata

Fenomena anak putus sekolah masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Di Kota Bogor, tercatat ratusan anak usia sekolah dasar tidak melanjutkan pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, hingga keterbatasan akses layanan pendidikan.

Pemerintah Kota Bogor merespons kondisi ini dengan meluncurkan program JAPATI, sebuah sistem digital yang dirancang untuk mendeteksi, memantau, dan membantu anak-anak yang berisiko putus sekolah agar bisa kembali belajar.

Namun, implementasi program ini di lapangan belum banyak diteliti secara mendalam. Inilah yang mendorong tim peneliti dari Universitas Djuanda untuk mengkaji sejauh mana program tersebut berjalan efektif di tingkat kecamatan.

Metode Sederhana, Data Langsung dari Lapangan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sebanyak 110 responden dilibatkan, terdiri dari aparat pemerintah, tutor pendidikan nonformal (PKBM), serta orang tua peserta program.

Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi langsung di lapangan. Analisis dilakukan menggunakan metode Weight Mean Score untuk mengukur efektivitas program berdasarkan empat aspek utama: komunikasi, sumber daya, komitmen pelaksana, dan struktur birokrasi.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap gambaran nyata pelaksanaan program, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat.

Hasil Penelitian: Program Dinilai “Baik”

Secara umum, implementasi Program JAPATI mendapat penilaian “baik” dari seluruh responden. Nilai rata-rata mencapai 4,19 dari aparatur pemerintah dan 4,18 dari masyarakat dalam skala penilaian penelitian.

Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:

  • Komunikasi efektif: Sosialisasi program dan penyampaian informasi dinilai sangat baik, dengan skor di atas 4,2
  • Sumber daya cukup memadai: Tenaga, fasilitas, dan anggaran dinilai cukup mendukung pelaksanaan program
  • Komitmen pelaksana tinggi: Aparat menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab dalam menangani kasus putus sekolah
  • Koordinasi berjalan baik: Struktur birokrasi dan kerja sama antar lembaga dinilai mendukung implementasi program

Selain itu, pendekatan langsung seperti kunjungan door-to-door oleh tutor terbukti membantu menjangkau masyarakat yang belum familiar dengan teknologi.

Tantangan Masih Menghambat

Meski hasilnya positif, penelitian ini juga menemukan sejumlah hambatan yang masih perlu diatasi.

Beberapa tantangan utama meliputi:

  • Keterbatasan jumlah tenaga pendamping di lapangan
  • Wilayah layanan yang luas sehingga membebani petugas
  • Rendahnya motivasi sebagian anak untuk kembali sekolah
  • Kendala ekonomi keluarga yang belum sepenuhnya teratasi

Perbedaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat juga muncul, terutama dalam hal kecepatan respons dan kemudahan penggunaan aplikasi.

Dampak dan Implikasi bagi Kebijakan Publik

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi layanan pendidikan melalui aplikasi seperti JAPATI dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi masalah putus sekolah, terutama jika didukung oleh pendampingan langsung di lapangan.

Fira Putri Renggani dari Universitas Djuanda menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat. “Penguatan sosialisasi, koordinasi, dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas program,” tulisnya dalam penelitian tersebut.

Bagi pemerintah daerah, hasil ini menjadi dasar penting untuk:

  • meningkatkan anggaran program secara merata
  • memperkuat layanan bimbingan dan konseling
  • memperluas sosialisasi hingga tingkat komunitas
  • memanfaatkan media digital dan sosial untuk edukasi publik

Sementara bagi dunia pendidikan, program ini membuka peluang integrasi antara pendidikan formal dan nonformal dalam menjangkau kelompok rentan.

Renggani, Fira Putri; Seran, Gotfridus Goris; Ramdani, Faisal Tri.
“Implementation of the Anti-Dropout Application Network (JAPATI) Program in South Bogor”
International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 3, 2026

Posting Komentar

0 Komentar