Perubahan Perspektif Pemilih dalam Memilih Pemimpin pada Era Otonomi Daerah di Kota Kendari

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS- Kendari

Pemilih Kendari Mulai Utamakan Kinerja, Tapi Relasi Sosial Tetap Menentukan Pilihan Politik

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Darmin Tuwu dari Universitas Halu Oleo, Kendari, mengungkap perubahan cara pandang pemilih dalam memilih pemimpin di era otonomi daerah. Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) ini menunjukkan bahwa selama periode politik 2025–2030, masyarakat Kota Kendari mulai mempertimbangkan kinerja kandidat secara lebih serius, namun tetap dipengaruhi oleh hubungan sosial dan faktor pragmatis. Temuan ini penting karena menggambarkan dinamika nyata demokrasi lokal di Indonesia yang tidak sepenuhnya berjalan secara ideal seperti dalam teori.

Latar Belakang: Otonomi Daerah dan Realitas Politik Lokal

Sejak diberlakukannya otonomi daerah di Indonesia, pemilihan kepala daerah diharapkan menjadi sarana bagi masyarakat untuk memilih pemimpin berdasarkan kapasitas dan kinerja. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas dan memperkuat demokrasi di tingkat lokal.

Namun dalam praktiknya, proses politik di daerah sering kali dipengaruhi oleh faktor lain seperti kedekatan personal, jaringan sosial, serta kondisi ekonomi masyarakat. Kota Kendari sebagai salah satu kota berkembang di Sulawesi Tenggara menjadi contoh menarik bagaimana demokrasi lokal beradaptasi dengan realitas sosial yang kompleks.

Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang bagaimana pemilih memadukan berbagai pertimbangan tersebut dalam menentukan pilihan politik mereka.

Metodologi: Pendekatan Kualitatif Berbasis Lapangan

Darmin Tuwu menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilakukan selama enam bulan di Kota Kendari. Penelitian ini melibatkan 30 informan yang dipilih secara selektif, terdiri dari:

  • Pemilih dari berbagai latar belakang
  • Penyelenggara pemilu
  • Perwakilan pemerintah
  • Aktivis organisasi masyarakat sipil
  • Anggota partai politik

Data dikumpulkan melalui beberapa metode, yaitu:

  • Survei terbuka
  • Wawancara mendalam
  • Diskusi kelompok terarah (FGD)
  • Analisis dokumen seperti laporan pemilu dan materi kampanye

Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan memverifikasi temuan dari berbagai sumber.

Temuan Utama: Pola Pikir Pemilih yang Semakin Kompleks

Penelitian ini menemukan bahwa perilaku pemilih di Kota Kendari tidak lagi dapat dikategorikan secara sederhana sebagai rasional atau tradisional. Sebaliknya, pemilih menggabungkan berbagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.

1. Kinerja Kandidat Semakin Diperhatikan, Pemilih mulai menilai kandidat berdasarkan:

  • Pembangunan infrastruktur
  • Kualitas pelayanan publik
  • Respons pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat
  • Program ekonomi dan lapangan kerja

Hasil nyata di lapangan, seperti perbaikan jalan atau pengendalian banjir, menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pemimpin.

2. Kedekatan Sosial Masih Sangat Berpengaruh, Meski kinerja semakin penting, faktor sosial tetap kuat, seperti:

  • Hubungan personal dengan kandidat
  • Kedekatan komunitas
  • Interaksi langsung dengan masyarakat

Kandidat yang dianggap dekat dan mudah diakses sering kali lebih dipercaya, meskipun belum tentu memiliki rekam jejak kebijakan yang kuat.

3. Politik Transaksional Mengalami Transformasi, Praktik politik uang tidak sepenuhnya hilang, tetapi mengalami perubahan bentuk:

  • Vote buying semakin dikritik oleh sebagian pemilih
  • Bantuan sosial atau sumbangan komunitas masih diterima

Pemilih cenderung membedakan antara praktik yang dianggap manipulatif dan bantuan yang dinilai wajar atau bermanfaat.

4. Meningkatnya Kesadaran dan Kritik Publik, Pemilih di Kendari menunjukkan peningkatan partisipasi kritis, antara lain:

  • Aktif bertanya dalam kampanye
  • Mengkritik kandidat melalui media sosial
  • Lebih selektif dalam memberikan dukungan

Peran organisasi masyarakat sipil juga semakin penting dalam meningkatkan literasi politik masyarakat.

5. Ketimpangan Partisipasi Politik, Tidak semua kelompok masyarakat memiliki tingkat keberanian yang sama dalam menyuarakan kritik:

  • Kelompok menengah dan berpendidikan lebih aktif
  • Masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan cenderung lebih berhati-hati

Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi masih memengaruhi kualitas partisipasi demokrasi.

Implikasi: Arah Baru Demokrasi Lokal

Temuan penelitian ini memberikan sejumlah implikasi penting:

  • Pendidikan pemilih perlu disesuaikan dengan realitas sosial masyarakat
  • Strategi kampanye politik harus menggabungkan kinerja nyata dan pendekatan sosial
  • Kebijakan anti politik uang perlu mempertimbangkan konteks lokal
  • Penguatan demokrasi tidak hanya melalui sistem, tetapi juga pemberdayaan masyarakat

Penelitian ini menegaskan bahwa demokrasi lokal di Indonesia sedang berkembang ke arah yang lebih kompleks, bukan sekadar bergerak dari tradisional ke rasional.

Perspektif Peneliti

Darmin Tuwu dari Universitas Halu Oleo menekankan bahwa perilaku pemilih tidak bisa disederhanakan:

Pemilih di tingkat lokal menggabungkan penilaian terhadap kinerja, hubungan sosial, dan kebutuhan praktis dalam menentukan pilihan politik mereka.

Pandangan ini menunjukkan bahwa pemilih bukan sekadar objek politik, tetapi aktor aktif yang menyesuaikan pilihan mereka dengan kondisi nyata.

Profil Penulis

Darmin Tuwu, S.Sos., M.Si. adalah akademisi dan peneliti di Universitas Halu Oleo, Kendari. Ia memiliki keahlian di bidang kesejahteraan sosial, demokrasi lokal, perilaku pemilih, dan kebijakan publik, dengan fokus pada dinamika sosial-politik di kawasan Indonesia Timur.

Sumber

Judul: Changes in Voters’ Perspectives in Selecting Leaders in the Era of Regional Autonomy in Kendari City
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS)
Tahun: 2026

Posting Komentar

0 Komentar