Pertumbuhan Ekonomi Dongkrak PAD di Bogor, Belum Berdampak di Bandung

Ilustrasi by AI

BOGOR — Penelitian terbaru dari UPN “Veteran” Jawa Timur menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Bogor, tetapi tidak memberikan dampak yang sama di Kabupaten Bandung, meskipun kedua wilayah memiliki jumlah penduduk besar dan potensi pariwisata yang tinggi .

Penelitian yang dilakukan oleh Difa Tri Agustina dan Syamsul Huda dari Program Studi Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Jawa Timur ini dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) 2026. Studi tersebut menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah penduduk, dan jumlah wisatawan domestik terhadap PAD menggunakan data sekunder periode 2015 hingga 2024.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap PAD di Kabupaten Bogor. Sebaliknya, variabel jumlah penduduk dan jumlah wisatawan domestik tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Di Kabupaten Bandung, ketiga variabel tersebut secara statistik tidak berpengaruh terhadap PAD.

Temuan ini menunjukkan bahwa besarnya potensi ekonomi daerah tidak secara otomatis meningkatkan kemandirian fiskal pemerintah daerah. Efektivitas pengelolaan pajak daerah dan optimalisasi sumber pendapatan lokal menjadi faktor penentu dalam mengubah potensi ekonomi menjadi penerimaan daerah.

Di Kabupaten Bogor, pengaruh signifikan PDRB terhadap PAD dipengaruhi oleh kuatnya aktivitas industri, perdagangan, dan konsumsi masyarakat yang memperluas basis pajak daerah. Kawasan industri di Sentul, Cibinong, dan Gunung Putri berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan dari sektor pajak hotel, restoran, serta transaksi properti dan jasa.

Kedekatan wilayah Kabupaten Bogor dengan Jakarta juga memperkuat konektivitas ekonomi regional dan mendorong investasi serta pertumbuhan sektor jasa yang berdampak langsung pada peningkatan PAD.

Namun demikian, jumlah penduduk tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap PAD di Kabupaten Bogor. Hal ini disebabkan banyaknya penduduk yang bekerja dan beraktivitas ekonomi di Jakarta sehingga kontribusi pajak tidak tercatat sebagai penerimaan daerah Kabupaten Bogor.

Jumlah wisatawan domestik juga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap PAD. Meskipun kawasan wisata Bogor ramai dikunjungi wisatawan, sebagian besar kunjungan bersifat harian tanpa menginap sehingga penerimaan pajak hotel relatif terbatas dan dampak ekonomi terhadap PAD tidak optimal.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bandung. Penelitian menunjukkan bahwa PDRB, jumlah penduduk, dan jumlah wisatawan domestik tidak berpengaruh signifikan terhadap PAD daerah tersebut. Struktur ekonomi Kabupaten Bandung yang masih didominasi sektor pertanian dan manufaktur menyebabkan sebagian besar penerimaan pajak masuk ke pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah.

Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat yang relatif terbatas serta kebocoran ekonomi dari sektor industri menyebabkan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan PAD.

Sektor pariwisata di Kabupaten Bandung juga belum memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan daerah. Destinasi populer seperti Kawah Putih, Ranca Upas, dan Gunung Tangkuban Perahu memang menarik banyak wisatawan, tetapi sebagian besar dikelola oleh pihak swasta atau instansi non-daerah sehingga penerimaannya tidak sepenuhnya masuk ke kas pemerintah daerah.

Selama periode penelitian 2015 hingga 2024, kontribusi pajak sektor pariwisata terhadap PAD Kabupaten Bandung hanya berkisar antara 4,1 hingga 6,3 persen dari total pendapatan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata belum menjadi sumber utama penerimaan fiskal daerah.

Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan efektivitas administrasi pajak daerah serta integrasi kebijakan ekonomi dan fiskal agar potensi ekonomi yang dimiliki daerah dapat benar-benar meningkatkan kemandirian keuangan pemerintah daerah. Optimalisasi sektor jasa, peningkatan kepatuhan pajak, serta penguatan pengelolaan destinasi wisata menjadi langkah strategis untuk memperkuat PAD di masa depan.

Difa Tri Agustina & Syamsul Huda
Program Studi Ekonomi Pembangunan, UPN “Veteran” Jawa Timur

Posting Komentar

0 Komentar