Pertumbuhan Ekonomi dan Kualitas SDM Jadi Kunci Tekan Pekerja Informal di Sulawesi Selatan


Gambar dibuat oleh AI

Jumlah pekerja informal di Sulawesi Selatan ternyata lebih dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi dibandingkan tingkat kemiskinan. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru oleh Dirmansyah Darwin dan I Made Jyotisa Adi Dwipatna dari Universitas Negeri Makassar, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Finance and Business Management. Studi ini penting karena memberikan arah kebijakan baru untuk mengurangi ketimpangan pasar kerja di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Penelitian ini menganalisis data dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan selama periode 2018 hingga 2024. Fokus utamanya adalah memahami faktor-faktor yang memengaruhi jumlah tenaga kerja informal, yaitu pekerja yang tidak memiliki kontrak kerja formal, perlindungan sosial, atau kepastian pendapatan.

Fenomena Pekerja Informal Masih Dominan

Sektor informal masih menjadi tulang punggung bagi banyak masyarakat di negara berkembang, termasuk Indonesia. Keterbatasan lapangan kerja formal, rendahnya tingkat pendidikan, serta minimnya keterampilan membuat banyak orang memilih atau terpaksa bekerja di sektor informal.

Meski sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, pekerja informal sering menghadapi tantangan serius, seperti pendapatan tidak stabil dan minimnya jaminan sosial. Di Sulawesi Selatan sendiri, jumlah pekerja informal menunjukkan variasi yang cukup tinggi antar daerah, mencerminkan adanya ketimpangan pembangunan.

Metodologi: Analisis Data 7 Tahun

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model data panel, yaitu metode yang menggabungkan data lintas wilayah dan waktu. Total terdapat 168 observasi dari 24 daerah selama tujuh tahun.

Tiga faktor utama dianalisis:

  • Tingkat kemiskinan
  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
  • Pertumbuhan ekonomi

Model terbaik yang digunakan adalah Random Effects Model (REM), yang dinilai paling stabil dan akurat dalam menjelaskan hubungan antar variabel.

Temuan Utama: IPM dan Ekonomi Berpengaruh Signifikan

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:

  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh signifikan terhadap jumlah pekerja informal.
  • Pertumbuhan ekonomi juga berpengaruh signifikan, dengan kecenderungan menurunkan jumlah pekerja informal.
  • Tingkat kemiskinan tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model yang digunakan.

Secara lebih rinci:

  • Setiap peningkatan kualitas pembangunan manusia berkorelasi dengan perubahan signifikan pada jumlah pekerja informal.
  • Pertumbuhan ekonomi yang meningkat cenderung mengurangi ketergantungan masyarakat pada sektor informal.
  • Kemiskinan, meskipun sering dianggap faktor utama, ternyata tidak selalu menentukan seseorang bekerja di sektor informal.

Menurut Dirmansyah Darwin dari Universitas Negeri Makassar, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat menjadi faktor kunci dalam membuka akses ke pekerjaan formal.

Mengapa Kemiskinan Tidak Dominan?

Temuan bahwa kemiskinan tidak berpengaruh signifikan cukup menarik. Selama ini, banyak studi menyebut kemiskinan sebagai pendorong utama sektor informal.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang tidak miskin, ia tetap bisa bekerja di sektor informal jika kualitas SDM rendah atau peluang kerja formal terbatas. Dengan kata lain, struktur ekonomi dan kualitas manusia lebih menentukan dibanding sekadar kondisi ekonomi rumah tangga.

Dampak bagi Kebijakan Publik

Hasil penelitian ini memberikan sejumlah implikasi penting bagi pemerintah daerah maupun nasional:

  1. Fokus pada peningkatan kualitas SDM
    Investasi pada pendidikan, pelatihan vokasi, dan layanan kesehatan harus menjadi prioritas.
  2. Dorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif
    Pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan lapangan kerja formal, bukan hanya meningkatkan angka PDB.
  3. Perluas program pelatihan tenaga kerja
    Program reskilling dan upskilling penting untuk membantu pekerja informal beralih ke sektor formal.
  4. Perkuat perlindungan sosial
    Pekerja informal tetap membutuhkan jaminan sosial sebagai perlindungan dasar.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya pengembangan sektor industri ringan, UMKM produktif, dan layanan modern untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan formal.

Relevansi di Era Digital

Dalam konteks ekonomi digital, sektor informal juga mengalami transformasi. Banyak pekerjaan berbasis platform, seperti ojek online atau penjualan daring, masuk dalam kategori informal namun memiliki karakteristik baru.

Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tenaga kerja ke depan tidak hanya harus mengurangi sektor informal, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan di dalamnya.

Sumber Penelitian

Darwin, D., & Dwipatna, I. M. J. A. (2026). Economic Growth and Human Development: Key Drivers of Informal Labor in South Sulawesi. International Journal of Finance and Business Management (IJFBM), Vol. 4 No. 2, 147–160.




Posting Komentar

0 Komentar