Layanan Kesehatan Gratis di Semarang Ungkap Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Warga Perkotaan
Akses layanan kesehatan dasar yang masih terbatas di kawasan padat penduduk mendorong tim dari Universitas Telogorejo Semarang melakukan intervensi langsung di masyarakat. Pada 16 November 2025, Nana Noviada Kwartawaty bersama Albertus Setyo Sumargo dan Swanny Trikajanti Widyaatmadja menggelar layanan pengobatan gratis dan deteksi dini penyakit di RT 16, Kelurahan Sendang Mulyo, Semarang. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu mengungkap berbagai masalah kesehatan yang sebelumnya tidak terdeteksi sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya pemeriksaan rutin.
Kegiatan ini menjadi penting karena banyak warga perkotaan, terutama di lingkungan padat, masih menghadapi hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. Bukan hanya soal biaya, tetapi juga keterbatasan waktu, rendahnya kebiasaan pemeriksaan rutin, serta minimnya edukasi kesehatan preventif. Kondisi ini membuat berbagai penyakit, khususnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, sering baru diketahui saat sudah berada pada tahap lanjut.
Program yang diinisiasi oleh Universitas Telogorejo Semarang ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk tenaga medis dari Rumah Sakit Telogorejo, organisasi sosial Telogorejo Peduli, serta dukungan dari Apotek Puri Waras. Sebanyak 141 warga mengikuti kegiatan ini dengan antusias, menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang mudah diakses dan langsung hadir di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pelaksanaan kegiatan dirancang secara sederhana namun komprehensif. Warga terlebih dahulu melakukan pendaftaran, kemudian menjalani pemeriksaan awal berupa pengukuran tekanan darah dan tes gula darah acak. Setelah itu, peserta mendapatkan pemeriksaan dokter umum untuk mengidentifikasi keluhan dan diagnosis awal. Bagi warga dengan masalah penglihatan, tersedia pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis mata. Seluruh peserta juga memperoleh obat sesuai kebutuhan serta edukasi kesehatan mengenai pola hidup sehat dan pentingnya pemeriksaan rutin.
Hasil pemeriksaan menunjukkan pola masalah kesehatan yang cukup serius di tingkat komunitas. Penyakit yang paling banyak ditemukan meliputi:
- Hipertensi: 19 kasus
- Myalgia (nyeri otot): 13 kasus
- Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA): 11 kasus
- Osteoarthritis: 8 kasus
- Vertigo: 7 kasus
- Neuropati: 6 kasus
- Diabetes mellitus: 6 kasus
Hipertensi menjadi temuan paling dominan. Kondisi ini sering disebut sebagai “silent killer” karena tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Banyak warga baru menyadari tekanan darah tinggi setelah menjalani pemeriksaan langsung di lokasi kegiatan.
Selain itu, tes gula darah acak mengungkap 8 warga memiliki kadar gula darah tinggi. Temuan ini menjadi sinyal awal risiko diabetes atau pengendalian gula darah yang belum optimal. Tanpa pemeriksaan sederhana seperti ini, kondisi tersebut berpotensi tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius.
Pemeriksaan mata juga memberikan temuan penting. Sebanyak 3 warga memerlukan rujukan lanjutan akibat gangguan refraksi atau katarak. Beberapa warga lainnya mengeluhkan mata kering, presbiopi, dan gangguan penglihatan lainnya yang sebelumnya tidak disadari. Masalah kesehatan mata ini sering berkembang secara perlahan dan kerap diabaikan, padahal berdampak langsung pada kualitas hidup dan produktivitas.
Menurut Nana Noviada Kwartawaty dari Universitas Telogorejo Semarang, kegiatan ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan berbasis komunitas tidak hanya efektif untuk pengobatan, tetapi juga sebagai pintu masuk deteksi dini penyakit. Ia menegaskan bahwa pendekatan langsung ke masyarakat mampu menjangkau kelompok yang selama ini jarang melakukan pemeriksaan kesehatan.
Dampak kegiatan ini tidak hanya terlihat dari jumlah kasus yang ditemukan, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat. Warga menjadi lebih sadar akan kondisi kesehatan mereka, memahami pentingnya pola hidup sehat, serta terdorong untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Selain itu, kegiatan ini memperkuat hubungan antara institusi pendidikan, tenaga medis, dan masyarakat dalam membangun sistem layanan kesehatan yang lebih responsif.
Beberapa manfaat utama dari program ini antara lain:
- Meningkatkan akses layanan kesehatan secara gratis dan dekat dengan warga
- Mengidentifikasi penyakit sejak dini, terutama hipertensi dan diabetes
- Meningkatkan literasi kesehatan masyarakat
- Memberikan arahan tindak lanjut bagi warga yang membutuhkan perawatan lanjutan
- Membangun model kolaborasi antara universitas, rumah sakit, dan komunitas
Secara lebih luas, temuan ini sejalan dengan laporan berbagai lembaga kesehatan global yang menekankan pentingnya deteksi dini penyakit tidak menular di tingkat komunitas. Program seperti ini dinilai efektif dalam mencegah beban penyakit yang lebih berat di masa depan sekaligus mengurangi tekanan pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
Ke depan, tim peneliti merekomendasikan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkala dengan sistem rujukan yang lebih terstruktur serta pencatatan kesehatan yang lebih sistematis. Pendekatan berkelanjutan dinilai penting agar warga yang telah teridentifikasi dapat terus dipantau dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Profil Penulis
Nana Noviada Kwartawaty merupakan akademisi di Universitas Telogorejo Semarang dengan fokus pada kesehatan masyarakat dan pengabdian komunitas.Albertus Setyo Sumargo adalah tenaga pendidik dan peneliti di bidang layanan kesehatan primer.
Swanny Trikajanti Widyaatmadja memiliki keahlian dalam edukasi kesehatan dan pengembangan program berbasis masyarakat.
Sumber Penelitian
DOI : https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i2.16
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index
0 Komentar