Pengalaman Kerja Tak Cukup, Kompetensi Jadi Kunci Produktivitas Karyawan Rumah Sakit

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Medan - Produktivitas karyawan di rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh lamanya pengalaman kerja. Temuan ini diungkap oleh Ferima Laia bersama Ade Indah Sari dan Arasy Ayu Setiamy dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Harapan Medan melalui studi yang dilakukan pada 2023 di RSIA Stella Maris, Medan. Penelitian ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa kompetensi kerja justru menjadi penghubung utama antara pengalaman dan produktivitas karyawan, terutama dalam sektor layanan kesehatan yang menuntut ketepatan dan kualitas tinggi.

Dalam konteks rumah sakit, produktivitas bukan sekadar jumlah pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga kualitas layanan kepada pasien. Oleh karena itu, memahami faktor yang benar-benar memengaruhi produktivitas menjadi krusial bagi manajemen rumah sakit dalam meningkatkan layanan.

Latar Belakang: Tantangan Produktivitas di Layanan Kesehatan

Rumah sakit menghadapi tekanan besar untuk memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan berkualitas. Namun, data internal menunjukkan bahwa tingkat pelayanan di RSIA Stella Maris masih berada di bawah rata-rata. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kompetensi karyawan, yang dipengaruhi oleh kurangnya pelatihan, pengalaman, serta pemahaman terhadap pekerjaan.

Selama ini, banyak organisasi menganggap pengalaman kerja sebagai faktor utama dalam meningkatkan produktivitas. Namun, penelitian ini menantang asumsi tersebut dengan menunjukkan bahwa pengalaman saja tidak cukup tanpa didukung kompetensi yang memadai.

Metode Penelitian: Survei terhadap 92 Karyawan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Tim peneliti menyebarkan kuesioner kepada karyawan RSIA Stella Maris selama periode Mei hingga Juli 2023.

Dari total populasi 112 karyawan, sebanyak 92 orang dijadikan sampel penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis jalur (path analysis) untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antara pengalaman kerja, kompetensi, dan produktivitas.

Temuan Utama: Kompetensi Lebih Berpengaruh dari Pengalaman

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

  • Pengalaman kerja tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap produktivitas: Nilai koefisien determinasi menunjukkan pengaruhnya sangat kecil, kurang dari 1%.
  • Kompetensi kerja memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap produktivitas: 
    Semakin tinggi kompetensi, semakin tinggi produktivitas karyawan.
  • Pengalaman kerja berpengaruh besar terhadap produktivitas jika melalui kompetensi: 
    Artinya, pengalaman baru berdampak jika diolah menjadi kemampuan nyata.
  • Pengaruh tidak langsung lebih kuat daripada pengaruh langsung: 
    Nilai efek tidak langsung pengalaman kerja terhadap produktivitas mencapai 0,622, jauh lebih besar dibanding efek langsungnya yang hanya 0,031.
  • Secara simultan, pengalaman dan kompetensi bersama-sama memengaruhi produktivitas secara signifikan.

Temuan ini memperjelas bahwa pengalaman kerja hanya menjadi “modal awal”. Tanpa pengembangan kompetensi seperti keterampilan, pengetahuan, dan sikap kerja, pengalaman tersebut tidak otomatis meningkatkan produktivitas.

Penjelasan Peneliti: Kompetensi Adalah Jembatan

Ferima Laia menjelaskan bahwa kompetensi menjadi faktor kunci yang menjembatani pengalaman dengan produktivitas. “Pengalaman kerja akan berdampak nyata jika diiringi peningkatan kemampuan dan pemahaman terhadap tugas,” tulisnya dalam publikasi tersebut.

Hal ini sejalan dengan teori manajemen sumber daya manusia yang menyebutkan bahwa kompetensi terdiri dari kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang mendukung kinerja optimal.

Dampak dan Implikasi: Strategi Baru bagi Manajemen Rumah Sakit

Hasil penelitian ini memiliki implikasi luas, khususnya bagi sektor kesehatan dan organisasi berbasis layanan.

Bagi rumah sakit:

  • Tidak cukup hanya merekrut karyawan berpengalaman
  • Perlu investasi pada pelatihan dan pengembangan kompetensi
  • Penempatan kerja harus sesuai dengan kemampuan individu

Bagi dunia kerja secara umum:

  • Pengalaman harus dikonversi menjadi keahlian nyata
  • Pelatihan berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas
  • Kompetensi soft skill seperti kepercayaan diri dan komitmen juga penting

Bagi kebijakan SDM:

  • Program pelatihan perlu difokuskan pada peningkatan kompetensi praktis
  • Evaluasi kinerja tidak hanya berdasarkan masa kerja, tetapi juga kemampuan aktual

Penelitian ini juga merekomendasikan agar perusahaan memberikan pelatihan terkait pengendalian diri, motivasi kerja, dan pengembangan kepribadian untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Relevansi Lebih Luas: Dari Rumah Sakit ke Dunia Industri

Meskipun studi ini dilakukan di rumah sakit, temuan ini relevan untuk berbagai sektor lain seperti pendidikan, manufaktur, hingga layanan publik. Dalam era persaingan global, organisasi membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga kompeten dan adaptif.

Dengan kata lain, pengalaman tanpa pembelajaran berkelanjutan akan kehilangan nilainya.

Profil Penulis

  • Ferima Laia – Peneliti utama, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Harapan Medan. Fokus pada manajemen sumber daya manusia.
  • Ade Indah Sari – Dosen dan peneliti di bidang manajemen SDM, Universitas Harapan Medan.
  • Arasy Ayu Setiamy – Akademisi di bidang ekonomi dan bisnis, Universitas Harapan Medan.

Ketiganya memiliki minat riset pada pengembangan kinerja karyawan, produktivitas, serta strategi pengelolaan sumber daya manusia di organisasi modern.

Sumber Penelitian

Laia, F., Sari, A. I., & Setiamy, A. A. (2026). Employee Work Competence Mediates the Impact of Work Experience on Employee Work Productivity (Stella Maris Hospital Study). Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 4, hlm. 459–472.

Posting Komentar

0 Komentar