Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Gorontalo - Arsitektur Jaton Tunjukkan Integrasi Budaya dan Lingkungan dalam Desain Berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan oleh Heryati dan Nurnaningsih Nico Abdul dari Universitas Negeri Gorontalo dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa arsitektur tradisional masyarakat Jaton (Jawa–Tondano) di Sulawesi Utara mengintegrasikan nilai budaya dan prinsip keberlanjutan lingkungan secara alami.
Penelitian yang dilakukan oleh Heryati dan Nurnaningsih Nico Abdul dari Universitas Negeri Gorontalo menyoroti bahwa arsitektur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan representasi hubungan antara manusia, budaya, dan alam.
Menjawab Tantangan Arsitektur Modern
Selama beberapa dekade terakhir, arsitektur berkelanjutan lebih banyak menitikberatkan pada efisiensi energi dan teknologi ramah lingkungan. Namun, pendekatan ini dinilai belum cukup. Heryati menegaskan bahwa keberlanjutan harus dipahami secara lebih luas, mencakup dimensi sosial dan budaya masyarakat. Masyarakat Jaton sendiri merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Minahasa, yang tercermin dalam sistem sosial, pola permukiman, serta bentuk rumah tradisional mereka. Nilai-nilai seperti kebersamaan, harmoni dengan alam, dan penggunaan sumber daya lokal menjadi fondasi dalam membangun hunian.
Metode Penelitian Berbasis Lapangan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi lapangan, wawancara mendalam, serta studi literatur. Tim peneliti melakukan pengamatan langsung pada permukiman masyarakat Jaton di wilayah Tondano dan sekitarnya.
Data dikumpulkan dari:
Penelitian yang dilakukan oleh Heryati dan Nurnaningsih Nico Abdul dari Universitas Negeri Gorontalo menyoroti bahwa arsitektur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan representasi hubungan antara manusia, budaya, dan alam.
Menjawab Tantangan Arsitektur Modern
Selama beberapa dekade terakhir, arsitektur berkelanjutan lebih banyak menitikberatkan pada efisiensi energi dan teknologi ramah lingkungan. Namun, pendekatan ini dinilai belum cukup. Heryati menegaskan bahwa keberlanjutan harus dipahami secara lebih luas, mencakup dimensi sosial dan budaya masyarakat. Masyarakat Jaton sendiri merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Minahasa, yang tercermin dalam sistem sosial, pola permukiman, serta bentuk rumah tradisional mereka. Nilai-nilai seperti kebersamaan, harmoni dengan alam, dan penggunaan sumber daya lokal menjadi fondasi dalam membangun hunian.
Metode Penelitian Berbasis Lapangan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi lapangan, wawancara mendalam, serta studi literatur. Tim peneliti melakukan pengamatan langsung pada permukiman masyarakat Jaton di wilayah Tondano dan sekitarnya.
Data dikumpulkan dari:
- Observasi bentuk bangunan dan tata ruang.
- Wawancara dengan tokoh masyarakat dan penghuni rumah.
- Dokumentasi visual seperti foto dan sketsa arsitektur.
Analisis dilakukan dengan mengaitkan nilai budaya dengan elemen desain arsitektur, seperti orientasi bangunan, penggunaan material, dan pembagian ruang.
Temuan Utama: Arsitektur yang Hidup dan Berkelanjutan
Penelitian ini menemukan bahwa rumah tradisional Jaton secara konsisten mencerminkan prinsip eco-culture, yaitu integrasi antara ekologi dan budaya. Beberapa temuan utama meliputi:
Temuan Utama: Arsitektur yang Hidup dan Berkelanjutan
Penelitian ini menemukan bahwa rumah tradisional Jaton secara konsisten mencerminkan prinsip eco-culture, yaitu integrasi antara ekologi dan budaya. Beberapa temuan utama meliputi:
- Ruang Sosial yang Memperkuat Kebersamaan. Rumah Jaton memiliki beranda depan yang berfungsi sebagai ruang semi-publik. Area ini digunakan untuk menerima tamu, berdiskusi, hingga kegiatan komunitas. Fungsi ini memperkuat kohesi sosial dan identitas masyarakat.
- Adaptasi Iklim Tropis. Desain rumah mengandalkan ventilasi silang, atap tinggi, dan bukaan lebar untuk menjaga sirkulasi udara. Struktur rumah panggung juga membantu mengurangi kelembapan dan melindungi dari genangan air saat hujan.
- Penggunaan Material Lokal. Kayu menjadi material utama karena mudah diperoleh, tahan terhadap kondisi iklim, dan mudah diperbaiki. Penggunaan bahan lokal ini juga mengurangi ketergantungan pada sumber daya eksternal.
- Tata Ruang yang Hierarkis dan Fungsional. Rumah dibagi menjadi ruang privat, semi-publik, dan publik secara jelas. Pembagian ini menciptakan keseimbangan antara kebutuhan individu dan interaksi sosial.
- Orientasi Bangunan yang Responsif Lingkungan. Bangunan diarahkan mengikuti arah angin dan pergerakan matahari untuk memaksimalkan pencahayaan alami dan meminimalkan panas.
Dampak dan Implikasi Luas
Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi dunia arsitektur, khususnya dalam merumuskan pendekatan desain yang lebih kontekstual. Pendekatan eco-culture yang diusung dalam penelitian ini membuka peluang bagi arsitek untuk:
Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi dunia arsitektur, khususnya dalam merumuskan pendekatan desain yang lebih kontekstual. Pendekatan eco-culture yang diusung dalam penelitian ini membuka peluang bagi arsitek untuk:
- Mengembangkan desain yang adaptif terhadap lingkungan lokal.
- Mempertahankan identitas budaya di tengah globalisasi.
- Mengurangi ketergantungan pada teknologi mahal.
- Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Selain itu, hasil penelitian ini juga relevan bagi pembuat kebijakan dalam merancang pembangunan permukiman yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal. Dalam konteks pendidikan, studi ini dapat menjadi referensi penting bagi mahasiswa arsitektur untuk memahami bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi, tetapi justru dapat lahir dari reinterpretasi nilai-nilai lokal.
Profil Penulis
Profil Penulis
Heryati merupakan akademisi di Universitas Negeri Gorontalo yang memiliki keahlian di bidang arsitektur berkelanjutan dan budaya lokal.
Nurnaningsih Nico Abdul adalah peneliti dan dosen di Universitas Negeri Gorontalo, dengan fokus pada kajian arsitektur kontekstual dan pengembangan desain berbasis masyarakat.
Sumber Penelitian
Heryati & Nurnaningsih Nico Abdul. “Integration of ECO-Culture Principles in Architectural Design Approaches Based on Cultural Values of the Jaton Community (Java-Tondano).” Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 2, 2026.Hal.705-716
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.7
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Sumber Penelitian
Heryati & Nurnaningsih Nico Abdul. “Integration of ECO-Culture Principles in Architectural Design Approaches Based on Cultural Values of the Jaton Community (Java-Tondano).” Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 2, 2026.Hal.705-716
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.7
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar