Pemberdayaan Perempuan Nelayan Tradisional Suku Sentani di Desa Asei Kecil Kabupaten Jayapura

Illustration by Ai

FORMOSA NEWS- Jayapura

Perempuan Nelayan Sentani Jadi Penopang Ekonomi Keluarga, Tapi Masih Minim Akses Modal

Perempuan nelayan tradisional di Kampung Asei Kecil, sekitar Danau Sentani, terbukti memegang peran penting dalam ekonomi keluarga dan keberlanjutan perikanan lokal. Temuan ini diungkap dalam penelitian Marlina Flassy dan Abner Herry Bajari dari Universitas Cenderawasih yang dipublikasikan pada 2026. Studi ini menyoroti kontribusi besar perempuan dalam sektor perikanan skala kecil, sekaligus mengungkap berbagai hambatan struktural yang masih mereka hadapi.

Penelitian ini penting karena selama ini kontribusi perempuan nelayan sering tidak tercatat dalam kebijakan pembangunan perikanan. Padahal, peran mereka mencakup hampir seluruh rantai aktivitas, mulai dari menangkap ikan hingga memasarkan hasilnya.

Peran Penting yang Selama Ini Kurang Terlihat

Di Kampung Asei Kecil, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas perikanan. Mereka adalah pelaku utama dalam berbagai tahap kegiatan ekonomi. Penelitian menemukan bahwa perempuan:

  • Aktif menangkap ikan di perairan dangkal dan sekitar danau
  • Mengolah hasil tangkapan menjadi produk seperti ikan asap dan ikan kering
  • Memasarkan produk ke pasar lokal dan jaringan sosial komunitas
  • Mengelola keuangan rumah tangga dari hasil perikanan

“Perempuan nelayan memiliki kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga,” tulis Abner Herry Bajari dari Universitas Cenderawasih.

Selain itu, perempuan juga berperan sebagai penjaga pengetahuan lokal. Mereka memahami pola musim ikan, teknik penangkapan tradisional, hingga cara menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Metode Penelitian: Mendengar Langsung dari Lapangan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui:

  • Wawancara mendalam dengan perempuan nelayan, tokoh adat, dan aparat desa
  • Observasi aktivitas sehari-hari di danau
  • Dokumentasi data pendukung seperti laporan desa dan program pemerintah

Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami pengalaman nyata perempuan nelayan dalam konteks sosial dan budaya setempat.

Temuan Utama: Aktif, Tapi Terbatas

Meski aktif, perempuan nelayan masih menghadapi berbagai kendala yang membatasi pengembangan usaha mereka. Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:

1. Akses sumber daya cukup baik, tapi teknologi terbatas
Perempuan memiliki akses langsung ke Danau Sentani, namun masih menggunakan alat tangkap sederhana seperti jaring tradisional dan pancing manual.

2. Keterbatasan modal usaha
Sebagian besar perempuan nelayan menjalankan usaha dengan modal pribadi skala kecil. Akses ke bank atau koperasi masih minim karena kendala administrasi dan kurangnya informasi.

3. Peran besar dalam pengolahan dan pemasaran
Perempuan mendominasi aktivitas pasca panen, yang justru memiliki nilai tambah ekonomi tinggi.

4. Minim keterlibatan dalam pengambilan keputusan
Dalam struktur adat dan kelembagaan formal, peran perempuan masih terbatas. Kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan umumnya ditentukan oleh laki-laki.

5. Kontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga
Pendapatan dari hasil perikanan digunakan untuk kebutuhan penting seperti pendidikan anak, pangan, dan kesehatan.

Budaya dan Peran Perempuan Tak Terpisahkan

Dalam budaya masyarakat Sentani, perempuan memiliki hubungan erat dengan aktivitas perairan. Salah satu simbol penting adalah khayi, perahu tradisional khusus perempuan yang digunakan untuk menangkap ikan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam perikanan bukan hanya ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sistem sosial masyarakat.

Implikasi: Kunci Ketahanan Ekonomi dan Lingkungan

Penelitian ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan bukan sekadar isu gender, tetapi strategi penting untuk pembangunan berkelanjutan.

Ketika perempuan memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya dan pengambilan keputusan, dampaknya meluas:

  • Meningkatkan kesejahteraan keluarga
  • Memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan
  • Mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan

“Penguatan kapasitas perempuan nelayan dapat menjadi kunci dalam meningkatkan ketahanan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian sumber daya,” tulis Marlina Flassy.

Rekomendasi: Perlu Dukungan Nyata

Penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  • Memperluas akses perempuan terhadap layanan keuangan
  • Menyediakan pelatihan keterampilan dan pengolahan hasil perikanan
  • Meningkatkan akses terhadap teknologi penangkapan modern
  • Melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas
  • Memperkuat kelompok perempuan dan kelembagaan lokal

Dukungan dari pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dinilai sangat penting untuk mempercepat proses pemberdayaan ini.

Profil Penulis

Marlina Flassy adalah peneliti di Universitas Cenderawasih dengan fokus pada studi sosial dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Abner Herry Bajari merupakan akademisi di Universitas Cenderawasih yang memiliki keahlian dalam komunikasi dan pembangunan masyarakat, khususnya di wilayah Papua.

Sumber Penelitian

Flassy, M., & Bajari, A. H. (2026). Empowerment of Traditional Fisherwomen of the Sentani Tribe in Asei Kecil Village, Jayapura Regency. Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Vol. 6 No. 3, halaman 215–222.


Posting Komentar

0 Komentar