Makassar — Penelitian Achmad Ridha, Leny Yuliana, Lidya Anastasya, Muhammad Anugrah Prabowo Putra, dan Fitriani dari Universitas Negeri Makassar dan STIE Nusantara Makassar yang dipublikasikan tahun 2026 menunjukkan bahwa konsumsi minuman tinggi gula secara berulang bukan disebabkan rendahnya kesadaran kesehatan, melainkan keterikatan emosional, pengalaman sensorik, dan kebiasaan sosial yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Studi ini menjelaskan fenomena yang disebut sebagai sweet consumption trap, yaitu kondisi ketika kesenangan rasa dan relasi emosional dengan merek mengalahkan pertimbangan risiko kesehatan.
Konsumsi minuman tinggi gula terus meningkat di berbagai kota Asia Tenggara meskipun risiko kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan sindrom metabolik telah lama diketahui. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting mengapa konsumen tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun memahami dampaknya.
Penelitian ini menggali pengalaman langsung konsumen muda di Makassar menggunakan pendekatan interpretative phenomenological analysis melalui wawancara mendalam terhadap 12 responden berusia 18–35 tahun yang mengonsumsi minuman tinggi gula setidaknya tiga kali per minggu selama enam bulan terakhir. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami makna subjektif di balik kebiasaan konsumsi yang bertahan lama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman konsumsi minuman manis tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga berfungsi sebagai sumber kenyamanan emosional. Banyak responden menggambarkan rasa manis sebagai bentuk pemulihan psikologis setelah aktivitas kuliah atau pekerjaan yang melelahkan. Minuman manis menjadi bagian dari ritual harian yang memberi struktur waktu dan rasa stabilitas dalam rutinitas hidup.
Selain itu, merek minuman juga memiliki peran penting sebagai “pendamping emosional”. Konsumen menggambarkan merek tertentu sebagai pilihan yang dapat diandalkan dan konsisten memberikan pengalaman yang diharapkan. Dalam konteks kelompok sosial, pilihan merek juga berfungsi sebagai simbol identitas dan rasa kebersamaan dengan teman sebaya.
Penelitian ini juga menemukan adanya konflik antara kesadaran kesehatan dan keinginan menikmati minuman manis. Responden umumnya memahami risiko konsumsi gula berlebih, tetapi menggunakan berbagai strategi pembenaran seperti berolahraga setelahnya, menganggap konsumsi masih dalam batas wajar, atau menunda kekhawatiran kesehatan ke masa depan.
Temuan lain menunjukkan bahwa konsumsi minuman tinggi gula sering kali berlangsung secara otomatis sebagai kebiasaan tubuh. Beberapa responden menyatakan bahwa keinginan membeli minuman tertentu muncul tanpa pertimbangan sadar karena telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang tertanam.
Dalam banyak kasus, konsumsi minuman manis juga berkaitan dengan identitas diri. Sebagian responden merasa bahwa minuman favorit mereka merupakan bagian dari gaya hidup yang tidak mudah ditinggalkan. Bahkan ada yang menganggap berhenti mengonsumsi minuman tersebut sama dengan kehilangan bagian dari dirinya.
Faktor sosial turut memperkuat pola konsumsi ini. Aktivitas berkumpul bersama teman sering kali disertai pembelian minuman manis secara kolektif. Dalam situasi tersebut, menolak minuman dapat menimbulkan rasa tidak nyaman secara sosial.
Menurut Achmad Ridha dari Universitas Negeri Makassar, konsumsi minuman tinggi gula perlu dipahami sebagai pengalaman emosional dan sosial, bukan sekadar keputusan rasional terkait kesehatan. Ia menekankan bahwa pendekatan edukasi kesehatan perlu mempertimbangkan dimensi psikologis dan kebiasaan sehari-hari konsumen.
Leny Yuliana dari STIE Nusantara Makassar menjelaskan bahwa strategi komunikasi kesehatan yang hanya menekankan risiko sering kali kurang efektif karena tidak menyentuh pengalaman nyata konsumen. Pendekatan yang mempertimbangkan aspek emosional dinilai lebih berpotensi mengubah perilaku.
Lidya Anastasya dari STIE Nusantara Makassar menambahkan bahwa merek minuman memiliki peran besar dalam membentuk keterikatan konsumen melalui pengalaman visual, rasa, dan interaksi sosial.
Muhammad Anugrah Prabowo Putra dari STIE Nusantara Makassar menekankan pentingnya tanggung jawab etis industri minuman dalam merancang strategi pemasaran yang tidak memperkuat konsumsi berlebihan.
Fitriani dari STIE Nusantara Makassar menyatakan bahwa kebijakan kesehatan publik perlu mempertimbangkan peran kebiasaan sosial dalam membentuk pola konsumsi minuman tinggi gula di kalangan generasi muda.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi konsumsi gula berlebih memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor emosional, sosial, dan identitas konsumen.
Achmad Ridha merupakan peneliti dari Universitas Negeri Makassar. Leny Yuliana, Lidya Anastasya, Muhammad Anugrah Prabowo Putra, dan Fitriani merupakan peneliti dari STIE Nusantara Makassar.
0 Komentar