Memperkuat Pengawasan Maritim: Pemanfaatan Pesawat Tanpa Awak dari KRI Kelas Sigma untuk Mencegah Aktivitas Penangkapan Ikan Ilegal di Laut Sulawesi


Ilustrasi by AI 

Drone dari Kapal Perang KRI Sigma Perkuat Pengawasan Laut Sulawesi dan Tekan Illegal Fishing

Pemanfaatan pesawat tanpa awak (drone) dari kapal perang KRI Sigma Class terbukti mampu meningkatkan pengawasan laut dan menekan praktik illegal fishing di Laut Sulawesi. Temuan ini diungkap oleh Bagus Setiawan, Rizal Musa Karim, B. Yules Verne, dan Rudi Hartono Siregar dari Indonesian Naval Command and Staff College (Seskoal) dan Naval Technology College Bumimoro dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences (IJIS). Studi ini penting karena menawarkan solusi teknologi untuk mengatasi pencurian ikan yang merugikan Indonesia secara ekonomi dan mengancam kedaulatan laut.

Laut Sulawesi merupakan salah satu wilayah strategis Indonesia yang kaya sumber daya perikanan, namun juga rawan aktivitas illegal, unreported, and unregulated fishing (IUU fishing). Posisi geografisnya yang berbatasan dengan negara lain dan dilalui jalur pelayaran internasional membuat wilayah ini sulit diawasi secara optimal menggunakan metode patroli konvensional.

Tantangan Pengawasan Laut yang Kompleks

Selama ini, pengawasan laut mengandalkan kapal patroli seperti KRI Sigma Class yang memiliki radar dan sistem tempur modern. Namun, keterbatasan jangkauan sensor, luasnya wilayah operasi, serta taktik pelaku illegal fishing—seperti beroperasi malam hari dan berpindah cepat—membuat pengawasan sering tidak maksimal.

“Pelaku illegal fishing memanfaatkan celah pengawasan di laut yang luas dan dinamis,” tulis Bagus Setiawan dari Seskoal dalam kajiannya.

Kondisi ini menuntut inovasi dalam sistem pengawasan maritim yang lebih luas, cepat, dan efisien.

Metodologi: Analisis Dokumen dan Pengalaman Lapangan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tim peneliti menganalisis berbagai sumber, termasuk:

  • Dokumen resmi TNI Angkatan Laut
  • Kebijakan nasional terkait keamanan laut
  • Laporan operasi pengawasan laut
  • Literatur akademik dan pengalaman lapangan

Data kemudian dianalisis untuk melihat efektivitas penggunaan drone dalam mendukung operasi kapal perang.

Hasil Utama: Drone Tingkatkan Efektivitas Operasi

Penelitian menemukan bahwa integrasi drone dengan KRI Sigma Class memberikan dampak signifikan terhadap pengawasan laut. Beberapa temuan utama meliputi:

  • Jangkauan pengawasan lebih luas: Drone mampu memantau area di luar jangkauan radar kapal
  • Deteksi lebih cepat: Target mencurigakan dapat ditemukan lebih dini
  • Data real-time: Gambar dan video langsung dikirim ke pusat komando kapal
  • Efisiensi operasional: Kapal tidak perlu menyisir seluruh area secara fisik
  • Penghematan biaya: Mengurangi konsumsi bahan bakar dan keausan kapal

Drone juga mampu merekam aktivitas kapal secara visual, yang dapat digunakan sebagai bukti dalam penegakan hukum terhadap pelaku illegal fishing.

“Integrasi drone memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat di lapangan,” tulis tim peneliti.

Tantangan: Teknologi, Cuaca, dan SDM

Meski menjanjikan, penggunaan drone di laut tidak lepas dari kendala. Penelitian mengidentifikasi beberapa tantangan utama:

  • Keterbatasan teknis: Daya tahan terbang dan kapasitas sensor masih terbatas
  • Faktor cuaca: Angin kencang dan gelombang tinggi memengaruhi operasi drone
  • Kebutuhan SDM terlatih: Operator drone harus memiliki keahlian khusus
  • Regulasi belum lengkap: Status hukum data rekaman drone masih perlu diperjelas

Tanpa dukungan sistem yang matang, teknologi drone berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Implikasi: Strategi Baru Pengamanan Laut

Penelitian ini menegaskan bahwa drone dapat menjadi “force multiplier” atau pengganda kekuatan dalam operasi keamanan laut Indonesia. Namun, keberhasilan implementasinya membutuhkan pendekatan terintegrasi.

Penulis merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  • Standarisasi platform drone untuk operasi laut
  • Penguatan sistem komunikasi antar alat dan kapal
  • Pelatihan dan sertifikasi operator secara berkelanjutan
  • Penyusunan regulasi yang jelas terkait penggunaan drone

Jika diterapkan secara konsisten, teknologi ini dapat meningkatkan efektivitas pengawasan laut sekaligus menekan praktik illegal fishing yang merugikan negara.

Dampak Lebih Luas

Pemanfaatan drone dalam pengawasan laut tidak hanya berdampak pada sektor pertahanan, tetapi juga:

  • Ekonomi: Mengurangi kerugian akibat pencurian ikan
  • Lingkungan: Menjaga keberlanjutan sumber daya laut
  • Diplomasi: Mengurangi konflik lintas batas
  • Teknologi: Mendorong inovasi sistem pertahanan berbasis digital

Pendekatan ini juga dapat menjadi model bagi negara kepulauan lain dalam mengelola wilayah lautnya.

Profil Penulis

Bagus Setiawan adalah peneliti dari Indonesian Naval Command and Staff College (Seskoal) dengan fokus pada strategi maritim dan keamanan laut.

Rizal Musa Karim merupakan akademisi di Seskoal yang meneliti pengembangan kekuatan laut dan sistem pertahanan maritim.

B. Yules Verne adalah peneliti di bidang teknologi militer dan integrasi sistem pengawasan.

Rudi Hartono Siregar berasal dari Naval Technology College Bumimoro, dengan keahlian di bidang teknologi kelautan dan sistem pertahanan berbasis teknologi.

Sumber Penelitian

Judul: Strengthening Maritime Surveillance: The Utilization of Unmanned Aircraft from KRI Sigma Class to Prevent Illegal Fishing Activities in the Sulawesi Sea
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun: 2026
Penulis: Bagus Setiawan, Rizal Musa Karim, B. Yules Verne, Rudi Hartono Siregar
DOIhttps://doi.org/10.55927/ijis.v5i4.23
URL https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar