Media Massa Bentuk Persepsi Positif Publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis di Kuningan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jawa Barat - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah Indonesia mendapat respons positif dari masyarakat Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Tiara Inayatul Maula dan Farida Nurfalah dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Swadaya Gunung Jati, dan dipublikasikan pada 2026. Studi ini menyoroti bagaimana pemberitaan media massa berperan penting dalam membentuk pemahaman dan sikap publik terhadap program tersebut, yang menjadi salah satu strategi nasional dalam mengatasi masalah gizi dan stunting.

Program MBG sendiri diluncurkan pada awal 2025 sebagai respons terhadap tingginya angka stunting di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi stunting masih berada di angka 21,5 persen, jauh dari target nasional sebesar 14 persen. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk menghadirkan intervensi langsung berupa penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok rentan lainnya. Namun, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada implementasi teknis, tetapi juga pada bagaimana masyarakat memahami dan menerima kebijakan tersebut.

Di tengah derasnya arus informasi, media massa menjadi sumber utama masyarakat dalam memperoleh informasi terkait program MBG. Namun, survei sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman publik masih terbatas—hanya sekitar 21 persen masyarakat yang menyatakan setuju terhadap program ini, sementara sebagian lainnya belum memiliki informasi yang cukup. Hal ini menegaskan pentingnya peran komunikasi publik dalam keberhasilan kebijakan.

Penelitian Maula dan Nurfalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi penelitian di Kabupaten Kuningan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi terhadap tiga informan yang dipilih secara purposif, yaitu masyarakat umum dan seorang guru. Data kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memiliki persepsi positif terhadap program MBG. Persepsi ini terbentuk melalui paparan informasi dari media massa, terutama televisi dan media sosial. Informasi yang disampaikan secara jelas, disertai visual dan contoh konkret di lapangan, membantu masyarakat memahami tujuan dan manfaat program.

Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:

  • Pemahaman publik cukup baik terhadap tujuan, sasaran, dan manfaat program MBG.
  • Media massa menjadi sumber informasi utama, khususnya melalui televisi dan platform digital.
  • Respons masyarakat cenderung positif, meskipun tetap disertai sikap kritis terhadap implementasi di lapangan.
  • Lingkungan sosial memperkuat persepsi, di mana dukungan keluarga dan teman meningkatkan kepercayaan terhadap program.

Salah satu informan, seorang warga bernama Novi, mengungkapkan bahwa ia tertarik mengikuti berita terkait bantuan dan pendidikan karena relevan dengan kebutuhannya. Sementara itu, seorang guru bernama Indri menyatakan bahwa ia memperhatikan berita MBG karena berkaitan langsung dengan dunia pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa relevansi informasi menjadi kunci dalam menarik perhatian publik.

Farida Nurfalah menjelaskan bahwa persepsi masyarakat tidak terbentuk secara pasif, melainkan melalui proses seleksi dan interpretasi informasi. “Masyarakat cenderung memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman mereka. Di sinilah media memainkan peran penting sebagai penyaring sekaligus penyampai pesan,” ujarnya.

Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa dukungan dari lingkungan sosial seperti keluarga dan teman turut memperkuat keyakinan masyarakat terhadap program. Ketika orang-orang terdekat memberikan respons positif, individu cenderung lebih percaya dan bersedia mendukung program tersebut.

Dari sisi media, pemberitaan yang konsisten, transparan, dan mudah dipahami terbukti mampu membangun optimisme publik. Informasi mengenai manfaat program, sasaran penerima, serta proses pelaksanaan membantu masyarakat melihat MBG sebagai kebijakan yang relevan dan bermanfaat. Media juga berperan sebagai agen edukasi yang mendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat terkait pentingnya gizi.

Namun demikian, masyarakat tetap menunjukkan sikap kritis. Mereka berharap program ini tidak hanya menjadi wacana di media, tetapi benar-benar dijalankan secara konsisten, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Pengalaman terhadap program pemerintah sebelumnya menjadi faktor yang memengaruhi sikap realistis ini.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Bagi pemerintah, hasil studi ini menegaskan pentingnya strategi komunikasi publik yang efektif dalam mendukung keberhasilan kebijakan. Informasi yang jelas dan transparan dapat meningkatkan kepercayaan dan partisipasi masyarakat. Bagi media, penelitian ini menjadi pengingat akan peran strategis dalam membentuk opini publik melalui pemberitaan yang akurat dan berimbang.

Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian komunikasi massa, khususnya terkait pengaruh media terhadap persepsi publik terhadap kebijakan pemerintah. Studi ini juga membuka peluang penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah dan jumlah informan yang lebih luas.

Profil Penulis
Tiara Inayatul Maula adalah peneliti di bidang Ilmu Komunikasi yang berfokus pada komunikasi publik dan media massa.
Farida Nurfalah, S.Sos., M.I.Kom., merupakan dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Swadaya Gunung Jati dengan keahlian di bidang komunikasi media dan strategi komunikasi publik.

Sumber Penelitian
Maula, T. I., & Nurfalah, F. (2026). The Perception of the People of Kuningan Regency Regarding the “Free Nutritious Meals Government Program” Through News in the Mass Media. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 4, hlm. 427–436.

Posting Komentar

0 Komentar