Ketergantungan Kognitif dalam Akuntansi yang Dibantu AI: Implikasi terhadap Kualitas Penilaian Profesional


Ilustrasi by AI 

Ketergantungan pada AI Turunkan Kualitas Penilaian Akuntan, Studi Ungkap Risiko Baru

Penelitian terbaru oleh Uswatun Khasanah, Ana Rusmardiana, Sulaiman, dan Abdilah dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Universitas Indraprasta PGRI, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Pertiwi mengungkap bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam akuntansi membawa dua dampak sekaligus: meningkatkan efisiensi, tetapi berisiko menurunkan kualitas penilaian profesional. Studi yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Asian Business and Management (IJABM) ini menyoroti fenomena “cognitive dependency” atau ketergantungan kognitif terhadap sistem AI, yang semakin relevan di era digitalisasi profesi akuntansi.

AI Mengubah Cara Kerja Akuntan

Perkembangan teknologi AI telah mengubah praktik akuntansi modern, terutama dalam audit, analisis data keuangan, dan pengambilan keputusan berbasis prediksi. Banyak kantor akuntan publik kini memanfaatkan AI untuk mempercepat pengolahan data dalam jumlah besar dan meningkatkan akurasi laporan keuangan.

Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru. Ketika akuntan terlalu bergantung pada sistem otomatis, kemampuan berpikir kritis dan skeptisisme profesional bisa menurun. Padahal, dua hal tersebut merupakan fondasi utama dalam menjaga integritas laporan keuangan.

Fenomena ini dikenal sebagai cognitive dependency, yaitu kondisi ketika pengguna menerima hasil AI tanpa evaluasi kritis yang memadai. Dalam konteks akuntansi, kondisi ini dapat berdampak langsung pada kualitas keputusan profesional.

Metodologi: Wawancara Mendalam Akuntan dan Auditor

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami interaksi antara manusia dan AI dalam praktik nyata.

Penelitian dilakukan melalui:

  • Wawancara mendalam dengan 10–15 akuntan dan auditor
  • Observasi terbatas dalam lingkungan kerja
  • Analisis data menggunakan pendekatan tematik

Seluruh responden berasal dari Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang telah menggunakan teknologi AI dalam proses audit dan pelaporan keuangan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman langsung, pola pikir, serta cara pengambilan keputusan para profesional.

Temuan Utama: Efisiensi vs Risiko Ketergantungan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam akuntansi tidak bersifat tunggal, melainkan memiliki dampak ganda.

1. AI meningkatkan efisiensi dan akurasi

  • Mempercepat analisis data dalam jumlah besar
  • Membantu mendeteksi anomali transaksi
  • Mempermudah identifikasi pola keuangan

2. Ketergantungan berlebihan menurunkan kualitas penilaian

  • Akuntan cenderung langsung menerima hasil AI
  • Skeptisisme profesional menurun
  • Evaluasi kritis menjadi lebih lemah

3. Muncul tiga pola penggunaan AI

  • Sebagai alat bantu analisis
  • Sebagai pemberi rekomendasi utama
  • Sebagai pengambil keputusan dominan

Semakin tinggi peran AI dalam keputusan, semakin besar risiko penurunan kualitas judgment.

4. Faktor pengalaman sangat menentukan

  • Akuntan senior lebih kritis terhadap hasil AI
  • Akuntan junior cenderung lebih percaya pada sistem
  • Pemahaman teknologi memengaruhi tingkat kehati-hatian

5. Tekanan waktu memperkuat ketergantungan

  • Deadline ketat membuat akuntan lebih cepat menerima hasil AI
  • Efisiensi sering mengalahkan proses evaluasi

Dampak bagi Dunia Profesi dan Industri

Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi profesi akuntansi dan sektor bisnis:

  • Kantor akuntan publik perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas
  • Perusahaan harus memastikan keputusan tetap berbasis analisis manusia
  • Pendidikan akuntansi perlu menekankan literasi AI dan berpikir kritis
  • Regulator dapat mempertimbangkan standar etika penggunaan AI

AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti akuntan, melainkan sebagai alat pendukung. Jika tidak dikelola dengan baik, teknologi justru dapat menggeser proses pengambilan keputusan dari reflektif menjadi otomatis.

Pandangan Peneliti

Uswatun Khasanah dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya menegaskan bahwa keseimbangan menjadi kunci dalam penggunaan AI.

Ia menjelaskan bahwa AI dapat memperkuat kualitas keputusan jika digunakan secara moderat, tetapi dapat melemahkan jika dijadikan sumber utama tanpa evaluasi kritis.

Tim peneliti dari Universitas Indraprasta PGRI, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Pertiwi juga menekankan pentingnya “calibrated trust”, yaitu kepercayaan yang disertai pemahaman dan verifikasi, bukan kepercayaan buta terhadap sistem.

Menuju Penggunaan AI yang Lebih Bertanggung Jawab

Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan akuntansi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengelolanya.

Beberapa rekomendasi utama yang dihasilkan:

  • Penguatan kompetensi dan literasi AI bagi akuntan
  • Pengembangan sistem AI yang transparan dan mudah dijelaskan
  • Peningkatan budaya skeptisisme profesional
  • Penyusunan regulasi penggunaan AI dalam akuntansi

Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi “augmentative intelligence” yang memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

Profil Penulis

  • Uswatun Khasanah, M.Ak. – Dosen dan peneliti bidang akuntansi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
  • Ana Rusmardiana, M.Ak. – Akademisi bidang akuntansi dan pendidikan, Universitas Indraprasta PGRI
  • Sulaiman, M.Ak. – Peneliti akuntansi dan auditing, Universitas Muhammadiyah Kupang
  • Abdilah, M.Ak. – Akademisi bidang akuntansi dan sistem keuangan, Universitas Pertiwi

Sumber

Judul: Cognitive Dependency in AI-Assisted Accounting: Implications for Professional Judgment Quality
Jurnal: International Journal of Asian Business and Management (IJABM)
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijabm.v5i2.8
URLhttps://journalijabm.my.id/index.php/ijabm/index

Posting Komentar

0 Komentar