Artikel ilmiah tersebut ditulis oleh Valka Mahendra Nurzain, Nisa Lathifah, Shinta Hartini Putri, dan Nugraha Sugiarta dari Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia, dan dipublikasikan dalam International Journal of Advanced Social Sciences and Education (IJASSE) Vol. 4 No. 2 tahun 2026. Studi ini menyoroti bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi sarana komunikasi lingkungan yang efektif, khususnya dalam menyampaikan persoalan energi berbasis batu bara dan dampaknya terhadap masyarakat.
Penelitian ini berangkat dari meningkatnya kesadaran publik terhadap krisis iklim, terutama di sektor energi. Berbagai kampanye lingkungan mulai bermunculan di Indonesia, termasuk gerakan “Fun Walk Generasi Iklim” yang melibatkan anak muda sebagai agen perubahan. Namun, pendekatan berbasis seni dinilai memiliki kekuatan berbeda karena mampu menyentuh emosi dan membangun refleksi sosial secara lebih mendalam.
Dalam festival “Suara Marabahaya” bertema Climate Change – Climate Action, beberapa kelompok kabaret di Bandung menampilkan isu lingkungan seperti sampah, deforestasi, hingga krisis energi. Salah satu yang paling menonjol adalah Fourtastic Cabaret dengan pertunjukan Kemelut Nafash Tirani, yang menggambarkan kehidupan sebuah desa yang bergantung pada energi batu bara dan menghadapi kerusakan lingkungan serta konflik sosial akibatnya. Sebagai solusi, pertunjukan ini juga memperkenalkan biomassa sebagai alternatif energi yang lebih ramah lingkungan.
Menurut peneliti, kekuatan utama pertunjukan ini terletak pada penggunaan komunikasi simbolik. Tidak hanya melalui dialog, tetapi juga melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, kostum, efek suara, hingga properti panggung seperti cerobong asap besar dan visual asap buatan.
Lirik seperti “Selamatkan Nafas Kami” menjadi simbol verbal yang menggambarkan penderitaan masyarakat akibat polusi industri. Sementara itu, suara batuk dan efek audio industrial menggambarkan sesak napas dan ancaman polusi udara yang tidak terlihat namun nyata. Kostum jas yang dikenakan tokoh politisi digambarkan sebagai simbol “tikus berdasi”, mewakili pejabat korup yang mengeksploitasi sumber daya alam demi kepentingan pribadi.
Salah satu simbol paling kuat adalah tokoh Ibu Pertiwi yang diperankan sebagai perempuan hamil. Ia merepresentasikan Indonesia yang sedang “mengandung masa depan”, namun terancam oleh kerusakan lingkungan. Gestur kesakitan dan sesak napas yang diperlihatkan tokoh ini memperkuat pesan bahwa krisis iklim bukan sekadar isu alam, tetapi ancaman langsung bagi generasi mendatang.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori interaksionisme simbolik dari George Herbert Mead. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sutradara, pelatih, dan para pemain Fourtastic Cabaret, serta observasi non-partisipatif selama pertunjukan berlangsung. Analisis dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman untuk melihat bagaimana makna dibangun melalui interaksi sosial.
Hasilnya menunjukkan bahwa makna tidak muncul dari simbol itu sendiri, melainkan dari proses interaksi antara sutradara dan pemain. Para aktor tidak sekadar memerankan karakter, tetapi juga memahami dan menginternalisasi pesan lingkungan yang mereka bawa.
Pemeran tokoh Presiden, misalnya, memaknai perannya sebagai refleksi tanggung jawab politik terhadap kerusakan lingkungan. Sementara pemeran tokoh rakyat mengekspresikan penderitaan masyarakat secara emosional dan fisik agar penonton dapat merasakan dampaknya secara lebih nyata. Proses ini membuat pesan krisis iklim lebih mudah diterima dibandingkan penyampaian formal berbasis data semata.
Nugraha Sugiarta dan tim peneliti menjelaskan bahwa kabaret tidak lagi hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang pendidikan lingkungan dan refleksi moral. Pertunjukan menjadi medium yang menjembatani seni, etika, dan aktivisme sosial.
“Makna dibentuk melalui interaksi antara sutradara dan pemain, sehingga kabaret menjadi media pendidikan lingkungan, refleksi, dan mendorong perubahan perilaku,” tulis penulis dalam abstraknya.
Temuan ini membuka peluang besar bagi dunia pendidikan dan komunikasi publik. Institusi pendidikan dapat memanfaatkan seni pertunjukan sebagai strategi komunikasi lingkungan yang lebih menarik bagi generasi muda. Di sisi lain, komunitas seni juga dapat mengambil peran lebih aktif dalam menyuarakan isu sosial dan ekologis.
Penelitian ini juga merekomendasikan agar seniman pertunjukan menggunakan komunikasi simbolik secara lebih strategis dalam mengangkat isu sosial yang kompleks. Dengan cara ini, topik abstrak seperti perubahan iklim bisa menjadi lebih dekat, emosional, dan mudah dipahami masyarakat luas.
Meski demikian, peneliti mengakui studi ini masih terbatas pada satu kelompok kabaret, yaitu Fourtastic Cabaret. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak komunitas seni pertunjukan dan juga meneliti bagaimana penonton menafsirkan pesan-pesan simbolik tersebut.
Profil Penulis
Valka Mahendra Nurzain adalah peneliti di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia, dengan fokus pada komunikasi simbolik dan seni pertunjukan.
Nisa Lathifah merupakan akademisi di bidang komunikasi yang menaruh perhatian pada media kreatif dan komunikasi sosial.
Shinta Hartini Putri aktif dalam kajian komunikasi budaya dan representasi sosial dalam seni pertunjukan.
Nugraha Sugiarta, sebagai penulis korespondensi, adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia yang memiliki keahlian dalam komunikasi publik, media budaya, dan symbolic interaction.
Sumber Penelitian
Nurzain, V. M., Lathifah, N., Putri, S. H., & Sugiarta, N. (2026). Symbolic Interaction in Conveying Climate Crisis Messages through Bandung Cabaret “Kemelut Nafash Tirani”. International Journal of Advanced Social Sciences and Education (IJASSE), Vol. 4, No. 2, 123–132.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijasse.v4i2.392
Jurnal resmi: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijasse
0 Komentar