Kesadaran Keselamatan Radiasi Mahasiswa Radiologi Tinggi, Namun Praktik Lapangan Belum Merata

Ilustrasi by AI

Makati — Studi yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research mengungkap bahwa mahasiswa Radiologic Technology memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap keselamatan radiasi, tetapi penerapannya di lapangan masih belum merata. Penelitian ini dilakukan oleh Neil N. Adaya, Thomas Joshua D. Bulag, Jappy Raphael V. Ociones, dan Asnar L. Aloro dari Medici Di Makati College, Filipina. Temuan ini menjadi penting karena meningkatnya penggunaan teknologi berbasis radiasi dalam layanan kesehatan menuntut tenaga profesional yang tidak hanya paham teori, tetapi juga disiplin dalam praktik keselamatan.

Di dunia medis modern, prosedur seperti X-ray dan CT scan semakin umum digunakan untuk diagnosis. Namun, di balik manfaatnya, radiasi pengion memiliki risiko kesehatan jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, mahasiswa radiologi sebagai calon tenaga kesehatan berada di garis depan dalam memastikan keselamatan pasien, diri sendiri, dan lingkungan kerja.

Penelitian ini menyoroti kondisi nyata di lapangan, di mana kesadaran yang tinggi belum selalu diikuti dengan praktik yang konsisten. Hal ini menjadi perhatian karena kesalahan kecil dalam prosedur keselamatan dapat berdampak jangka panjang, baik bagi tenaga medis maupun pasien.

Para peneliti mengumpulkan data melalui survei terhadap mahasiswa Radiologic Technology yang sedang menjalani pelatihan klinis. Survei tersebut mencakup pemahaman tentang prinsip keselamatan radiasi, penggunaan alat pelindung diri seperti apron timbal dan dosimeter, serta kepatuhan terhadap prosedur operasional standar di fasilitas kesehatan. Selain itu, data demografis seperti tingkat pendidikan dan pengalaman klinis juga dianalisis untuk melihat hubungan dengan perilaku keselamatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki pemahaman yang baik tentang risiko radiasi dan pentingnya langkah-langkah perlindungan. Mereka mengetahui prinsip dasar seperti pembatasan waktu paparan, menjaga jarak aman, dan penggunaan pelindung yang tepat. Namun, dalam praktiknya, penerapan prinsip tersebut tidak selalu konsisten.

Mahasiswa yang telah menjalani pelatihan klinis lebih lama menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang baru memulai. Demikian pula, mahasiswa pada tingkat akademik yang lebih tinggi cenderung lebih disiplin dalam mengikuti prosedur keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung memainkan peran penting dalam membentuk kebiasaan kerja yang aman.

Selain faktor individu, lingkungan kerja juga terbukti memengaruhi perilaku mahasiswa. Di fasilitas kesehatan yang menerapkan standar keselamatan secara ketat dan memiliki pembimbing aktif, mahasiswa cenderung lebih patuh terhadap prosedur. Sebaliknya, di lingkungan yang pengawasannya longgar, praktik keselamatan sering kali diabaikan atau dilakukan secara tidak konsisten.

Asnar L. Aloro dari Medici Di Makati College menegaskan bahwa kesadaran saja tidak cukup tanpa didukung oleh praktik nyata yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya integrasi pelatihan praktis sejak tahap awal pendidikan agar mahasiswa terbiasa menerapkan prinsip keselamatan dalam setiap tindakan klinis.

Temuan ini memberikan pesan kuat bagi institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan. Kurikulum pendidikan radiologi perlu diperkuat dengan pelatihan berbasis praktik yang lebih intensif. Simulasi laboratorium, pelatihan berbasis kasus, dan evaluasi berkala dapat membantu mahasiswa menginternalisasi prosedur keselamatan sejak dini.

Di sisi lain, rumah sakit dan fasilitas radiologi juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan budaya keselamatan. Pengawasan yang konsisten, pelatihan rutin, serta penerapan standar operasional yang ketat dapat meningkatkan kepatuhan mahasiswa selama menjalani praktik klinis.

Dari perspektif kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk memperbarui standar pendidikan radiologi agar lebih menekankan keseimbangan antara teori dan praktik. Hal ini sejalan dengan kebutuhan global akan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan kerja.

Dampak penelitian ini juga dirasakan oleh masyarakat luas. Tenaga radiologi yang terlatih dengan baik akan mampu memberikan layanan diagnostik yang aman dan berkualitas. Dengan demikian, risiko paparan radiasi yang tidak perlu dapat diminimalkan, dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dapat meningkat.

Profil Penulis
Neil N. Adaya — Medici Di Makati College, bidang radiologic technology
Thomas Joshua D. Bulag — Medici Di Makati College, bidang radiologic technology
Jappy Raphael V. Ociones — Medici Di Makati College, bidang radiologic technology
Asnar L. Aloro — Medici Di Makati College, bidang radiologic technology dan keselamatan radiasi

Sumber:
“Evaluating Student Level of Awareness of Radiation Safety in the Context of Ionizing Radiation Facilities”
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, 2026

Posting Komentar

0 Komentar