Kemiskinan dan Pengangguran Tekan Penyerapan Tenaga Kerja di Jawa Timur, Investasi Domestik Jadi Kunci

Ilustrasi by AI

Surabaya — Penelitian terbaru oleh Bagas Ezar Aflah dan Aprillia Nilasari dari Universitas Negeri Surabaya tahun 2026 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur, sementara investasi domestik justru berperan meningkatkan kesempatan kerja. Studi yang dipublikasikan di East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menegaskan bahwa penguatan investasi dalam negeri menjadi faktor penting untuk memperluas lapangan kerja di tengah dinamika pemulihan ekonomi pascapandemi.

Penyerapan tenaga kerja masih menjadi tantangan pembangunan ekonomi di berbagai daerah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Provinsi ini memang menunjukkan tren peningkatan jumlah tenaga kerja terserap dari sekitar 20,9 juta orang pada 2020 menjadi 23,3 juta orang pada 2024. Namun di balik tren positif tersebut, masih terdapat persoalan struktural seperti tingginya jumlah penduduk miskin dan ketidakseimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan karena Jawa Timur merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika penyerapan tenaga kerja tidak optimal, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi regional secara keseluruhan.

Penelitian yang dilakukan Bagas Ezar Aflah dan Aprillia Nilasari menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data panel dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur selama periode 2020–2024. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Badan Koordinasi Penanaman Modal, lalu dianalisis menggunakan model regresi panel untuk melihat hubungan antara jumlah penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka, dan investasi domestik terhadap penyerapan tenaga kerja.

Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 69,68 persen variasi perubahan penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur selama periode penelitian.

Secara lebih rinci, peningkatan jumlah penduduk miskin terbukti menurunkan kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja. Setiap kenaikan satu persen jumlah penduduk miskin berkorelasi dengan penurunan penyerapan tenaga kerja sekitar 0,13 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam memperluas kesempatan kerja.

Tingkat pengangguran terbuka juga memiliki dampak negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Setiap kenaikan satu persen tingkat pengangguran berkaitan dengan penurunan penyerapan tenaga kerja sekitar 0,02 persen. Temuan ini menggambarkan bahwa tingginya jumlah pencari kerja yang belum terserap mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai.

Sebaliknya, investasi domestik menunjukkan pengaruh positif terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja. Setiap kenaikan satu persen investasi dalam negeri berkontribusi pada peningkatan penyerapan tenaga kerja sekitar 0,01 persen. Meskipun dampaknya relatif kecil, investasi tetap menjadi faktor strategis dalam memperluas peluang kerja di berbagai sektor ekonomi.

Menurut Bagas Ezar Aflah dari Universitas Negeri Surabaya, peningkatan investasi domestik dapat mendorong aktivitas produksi dan membuka peluang kerja baru, terutama di sektor industri, perdagangan, dan jasa. Ia menjelaskan bahwa investasi yang diarahkan pada sektor padat karya akan memberikan dampak lebih besar terhadap peningkatan kesempatan kerja masyarakat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan hambatan struktural dalam pembangunan ketenagakerjaan. Keterbatasan akses pendidikan, pelatihan kerja, dan keterampilan membuat sebagian masyarakat sulit bersaing di pasar kerja modern. Akibatnya, banyak tenaga kerja yang terserap hanya di sektor informal dengan produktivitas rendah.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi jangka pendek, tetapi juga oleh ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Malang, jumlah lulusan pendidikan menengah dan tinggi terus meningkat, namun tidak selalu diikuti ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.

Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa investasi domestik memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur ekonomi daerah. Pertumbuhan investasi mendorong ekspansi industri dan menciptakan efek berganda pada sektor lain yang saling terkait. Dampak lanjutan dari proses ini adalah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi.

Aprillia Nilasari dari Universitas Negeri Surabaya menjelaskan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja tidak dapat dicapai hanya melalui satu kebijakan tunggal. Upaya pengurangan kemiskinan, pengendalian pengangguran, dan peningkatan investasi domestik harus dilakukan secara terpadu agar mampu memperkuat daya serap tenaga kerja secara berkelanjutan.

Hasil penelitian ini menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pembangunan ketenagakerjaan yang lebih efektif. Program peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan kerja, serta penguatan iklim investasi daerah dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan dan penelitian ekonomi regional dalam memahami hubungan antara kemiskinan, pengangguran, dan investasi terhadap dinamika pasar kerja di tingkat provinsi. Pendekatan berbasis data panel memungkinkan analisis yang lebih akurat terhadap perubahan kondisi ketenagakerjaan dalam periode pemulihan ekonomi setelah pandemi.

Bagas Ezar Aflah merupakan peneliti dari Universitas Negeri Surabaya. Aprillia Nilasari merupakan peneliti dari Universitas Negeri Surabaya.

Sumber penelitian:
The Effect of Poor Population, Open Unemployment Rate, and Domestic Investment on Labor Absorption in East Java in 2020–2024
East Asian Journal of Multidisciplinary Research, 2026

Posting Komentar

0 Komentar