Dalam satu dekade terakhir, AI telah mengubah cara peneliti humaniora bekerja—mulai dari menganalisis teks kuno hingga mengelola arsip digital berskala besar. Namun, di dunia Arab, kemajuan ini tidak merata. Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah berinvestasi besar dalam teknologi AI, sementara banyak negara lain masih tertinggal akibat keterbatasan sumber daya dan konflik berkepanjangan.
Dari Arsip Manual ke Era AI
Penelitian ini menempatkan perkembangan humaniora dalam tiga fase besar: era manual, era digital, dan era AI. Pada masa lalu, peneliti mengandalkan arsip fisik dan catatan tulisan tangan. Revolusi digital kemudian membuka akses melalui digitalisasi dokumen. Kini, AI memungkinkan analisis data dalam skala yang jauh lebih besar, termasuk pemrosesan bahasa alami (NLP) dan pengenalan pola dalam teks maupun gambar.
Di kawasan Arab, potensi ini sangat besar mengingat kekayaan warisan budaya—mulai dari manuskrip Islam abad pertengahan hingga arsip kolonial dan sejarah lisan modern. Namun, kompleksitas bahasa Arab dengan berbagai dialek dan struktur morfologi menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan teknologi AI.
Metodologi: Analisis Literatur dan Data Sekunder
Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis literatur. Peneliti mengkaji berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, laporan UNESCO, hingga dokumen kebijakan internasional. Metode ini memungkinkan pemetaan komprehensif terhadap hambatan adopsi AI di berbagai negara Arab, baik dari sisi teknologi, institusi, budaya, maupun kebijakan.
Temuan Utama: Empat Hambatan Besar
Penelitian mengidentifikasi empat kategori utama hambatan yang saling berkaitan:
1. Hambatan Teknologi
- Minimnya infrastruktur komputasi canggih seperti server dan cloud.
- Kurangnya data humaniora berbahasa Arab yang terdigitalisasi dan terbuka.
2. Hambatan Institusional
- Kurangnya kolaborasi antara ilmuwan komputer dan peneliti humaniora.
- Struktur akademik yang masih terkotak-kotak dan tidak mendukung pendekatan lintas disiplin.
3. Hambatan Budaya dan Etika
- Skeptisisme terhadap penggunaan AI dalam penelitian humaniora.
- Kekhawatiran terkait sensitivitas data budaya, agama, dan politik.
4. Hambatan Kebijakan
- Belum adanya strategi nasional khusus untuk AI di bidang humaniora.
- Fokus kebijakan AI masih dominan pada sektor ekonomi dan pertahanan.
Selain itu, penelitian juga menyoroti kesenjangan regional yang tajam. Negara-negara Teluk memiliki infrastruktur lebih maju, sementara kawasan Levant dan Afrika Utara menghadapi keterbatasan pendanaan dan birokrasi. Negara konflik seperti Suriah, Yaman, dan Libya bahkan kesulitan melakukan digitalisasi dasar.
Dampak dan Implikasi
Jika hambatan ini tidak diatasi, dunia Arab berisiko tertinggal dalam revolusi digital global, khususnya dalam bidang humaniora. Padahal, AI berpotensi besar untuk:
- Melestarikan warisan budaya secara digital
- Memperluas akses terhadap literatur Arab
- Meningkatkan kolaborasi akademik internasional
Dr. Azeez menekankan bahwa tanpa investasi pada data lokal dan pengembangan teknologi berbasis bahasa Arab, kawasan ini akan terus bergantung pada sistem AI Barat yang belum tentu sesuai dengan konteks budaya lokal.
Rekomendasi: Menuju Adopsi AI yang Inklusif
Penelitian ini menawarkan sejumlah solusi strategis:
- Pengembangan AI berbasis bahasa Arab dan dialek lokal
- Peningkatan literasi digital di kalangan akademisi humaniora
- Pembentukan jaringan kolaborasi regional antar universitas
- Penyusunan kerangka etika AI yang sensitif budaya
- Peningkatan pendanaan untuk digitalisasi arsip dan penelitian
Kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, universitas, dan industri teknologi—juga dinilai penting untuk mempercepat adopsi AI secara merata.
Profil Penulis
Dr. Ismail Adaramola Abdul Azeez adalah akademisi di Riphah Institute of Public Policy, Riphah International University, Pakistan, dengan keahlian di bidang kebijakan publik dan teknologi.
Murad Bibi Tariq Ali merupakan peneliti di institusi yang sama dengan fokus pada inovasi teknologi dan kebijakan pendidikan.
Shuad Ismail Adaramola adalah akademisi di Passion International University, Amerika Serikat, yang meneliti integrasi teknologi dalam studi humaniora.
Sumber Penelitian
Azeez, I. A. A., Ali, M. B. T., & Adaramola, S. I. (2026). Barriers to Artificial Intelligence (AI) Implementation in Humanities Research Across Arab Countries. International Journal of Sustainable Applied Sciences, Vol. 4(2), 157–174.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i2.354
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas
Artikel ini menegaskan bahwa masa depan humaniora di dunia Arab sangat bergantung pada kemampuan mengatasi hambatan struktural dan memanfaatkan AI secara inklusif. Tanpa langkah strategis, revolusi AI berisiko memperlebar kesenjangan pengetahuan global.
0 Komentar