Etika Bisnis Islam Dorong Persaingan Sehat Pedagang Sembako di Nabire

Ilustrasi By AI

Penelitian tahun 2026 oleh Rawi Allan Iriandi dari IAIN Parepare mengungkap bahwa pedagang sembako di Nabire telah menerapkan budaya persaingan usaha yang sehat berdasarkan prinsip etika bisnis Islam. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa praktik bisnis yang etis mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat harmoni sosial di tengah persaingan pasar.

Sektor perdagangan sembako merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat, tetapi juga rentan terhadap praktik tidak sehat seperti perang harga, penimbunan barang, dan kecurangan. Di banyak daerah, tekanan pasar sering mendorong pelaku usaha mengutamakan keuntungan semata. Namun, kondisi berbeda terlihat di Nabire, Papua Tengah, di mana hubungan sosial yang kuat antar pedagang membentuk pola persaingan yang lebih terkendali dan beretika.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi di pasar-pasar utama Nabire. Peneliti terlibat langsung dalam aktivitas pasar untuk memahami interaksi antar pedagang, strategi bisnis, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam praktik jual beli sehari-hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya persaingan usaha di Nabire cenderung sehat dan kolaboratif:

  • Pedagang menghindari perang harga yang merugikan sesama
  • Tidak ditemukan praktik penimbunan barang (ihtikar)
  • Tidak ada kecurangan dalam timbangan atau kualitas barang (tadlis)
  • Persaingan lebih berfokus pada pelayanan, variasi produk, dan hubungan pelanggan

Temuan di halaman 7–8 juga menunjukkan bahwa pedagang sering saling membantu, misalnya dengan saling meminjam stok barang ketika terjadi kekurangan. Praktik ini mencerminkan nilai ta’awun (tolong-menolong) yang jarang ditemukan dalam model persaingan bisnis modern.

Dari perspektif etika bisnis Islam, praktik ini sejalan dengan prinsip utama seperti kejujuran (siddiq), keadilan (‘adl), dan transparansi. Pedagang terbuka mengenai kualitas barang dan menetapkan harga secara wajar tanpa memanfaatkan ketidaktahuan konsumen. Bahkan, menurut penelitian ini, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari keberkahan (barakah) dan hubungan sosial yang harmonis.

Rawi Allan Iriandi dari IAIN Parepare menegaskan bahwa nilai-nilai religius menjadi faktor kunci dalam membentuk budaya bisnis yang sehat. Ia menjelaskan bahwa pedagang di Nabire tidak melihat pesaing sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra dalam menjaga keberlangsungan pasar dan keseimbangan ekonomi.

Dampak dari praktik ini sangat luas. Stabilitas harga lebih terjaga, distribusi barang berjalan lancar, dan kesejahteraan pedagang lebih merata. Selain itu, model persaingan berbasis etika ini juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal dan mencegah dominasi pasar oleh segelintir pelaku usaha besar.

Dalam jangka panjang, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi nilai etika dan praktik bisnis modern dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun ekosistem perdagangan yang sehat dan inklusif.

Profil Penulis

Rawi Allan Iriandi - IAIN Parepare

Sumber Penelitian

Iriandi, R. A. (2026). Culture of Healthy Business Competition from the Perspective of Islamic Business Ethics in the Grocery Trading Community in Nabire. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 3, 289–298.

DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i3.148

URL: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas

Posting Komentar

0 Komentar