Mataram — Penelitian Rudy Fermana, M. Junaidi, dan Markum dari Universitas Mataram yang dipublikasikan tahun 2026 menunjukkan bahwa kombinasi algoritma Random Forest dan indeks vegetasi NDVI dari citra satelit Sentinel-2 mampu memetakan cadangan karbon mangrove secara akurat di kawasan Taman Wisata Perairan Gili Lawang–Gili Sulat, Lombok Timur. Temuan ini penting karena menyediakan dasar ilmiah untuk mendukung konservasi mangrove, perdagangan karbon, dan kebijakan mitigasi perubahan iklim berbasis data spasial.
Perubahan iklim global semakin nyata akibat peningkatan emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, termasuk perubahan penggunaan lahan dan degradasi hutan. Di Indonesia, sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi salah satu penyumbang utama emisi nasional. Dalam konteks ini, ekosistem mangrove memiliki peran strategis karena kemampuannya menyimpan karbon jauh lebih besar dibandingkan banyak ekosistem daratan lainnya.
Kawasan Gili Lawang–Gili Sulat di Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu wilayah konservasi mangrove penting di Nusa Tenggara Barat dengan tutupan mangrove mencapai sekitar 80 persen dari luas kawasan. Selain berfungsi sebagai pelindung pesisir dari abrasi dan habitat keanekaragaman hayati, kawasan ini juga berpotensi besar sebagai penyerap karbon biru yang bernilai ekonomi dalam skema perdagangan karbon global.
Penelitian yang dilakukan tim Universitas Mataram menggunakan pendekatan integratif antara teknologi penginderaan jauh dan pengukuran lapangan. Data utama berasal dari citra satelit Sentinel-2 tahun 2025 yang dianalisis menggunakan algoritma Random Forest untuk mengklasifikasikan tutupan mangrove. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan pengukuran biomassa dari 35 plot lapangan berukuran 20×20 meter yang mewakili berbagai tingkat kerapatan vegetasi mangrove.
Pengukuran diameter batang pohon digunakan untuk menghitung biomassa atas permukaan dan bawah permukaan tanah melalui persamaan allometrik spesifik jenis mangrove. Selanjutnya, data biomassa dikaitkan dengan nilai NDVI untuk membangun model estimasi cadangan karbon secara spasial di seluruh kawasan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma Random Forest mampu memetakan tutupan mangrove dengan tingkat akurasi sangat tinggi. Nilai akurasi klasifikasi mencapai 95,87 persen dengan koefisien Kappa sebesar 0,9175. Angka ini menunjukkan tingkat kesesuaian yang sangat kuat antara hasil klasifikasi citra satelit dan kondisi lapangan sebenarnya.
Analisis spasial juga memperlihatkan bahwa tutupan mangrove mendominasi sekitar 974,94 hektare atau sekitar 85,4 persen wilayah penelitian. Dominasi vegetasi mangrove tersebut menegaskan posisi kawasan Gili Lawang–Gili Sulat sebagai salah satu penyimpan karbon pesisir penting di Indonesia.
Hubungan antara nilai NDVI dan cadangan karbon mangrove terbukti sangat kuat secara statistik. Model regresi menunjukkan bahwa sekitar 76,7 persen variasi cadangan karbon dapat dijelaskan oleh perubahan nilai NDVI. Temuan ini memperkuat penggunaan NDVI sebagai indikator yang andal untuk memperkirakan cadangan karbon mangrove secara luas tanpa harus melakukan pengukuran lapangan di seluruh area.
Secara keseluruhan, kawasan mangrove Gili Lawang–Gili Sulat diperkirakan menyimpan cadangan karbon sebesar 73.513,84 ton karbon atau setara dengan 269.553,20 ton karbon dioksida ekuivalen. Dari jumlah tersebut, wilayah Gili Lawang menyumbang sekitar 28.738,78 ton karbon, sedangkan Gili Sulat menyumbang sekitar 44.775,06 ton karbon.
Distribusi cadangan karbon bervariasi berdasarkan tingkat kerapatan vegetasi. Area dengan kerapatan sangat tinggi mampu menyimpan lebih dari 120 ton karbon per hektare, sedangkan area dengan kerapatan rendah memiliki cadangan karbon jauh lebih kecil. Variasi ini dipengaruhi oleh diameter batang pohon, jenis spesies mangrove, serta struktur tegakan vegetasi di setiap lokasi.
Selain nilai ekologisnya, penelitian ini juga mengungkap potensi ekonomi cadangan karbon mangrove di kawasan tersebut. Dengan asumsi harga karbon sukarela sekitar 3,61 dolar Amerika per ton karbon dioksida ekuivalen, nilai ekonomi karbon mangrove di wilayah penelitian diperkirakan mencapai sekitar 970 ribu dolar Amerika atau setara lebih dari Rp15 miliar. Nilai ini menunjukkan peluang besar pengembangan skema karbon biru berbasis konservasi mangrove di Lombok Timur.
Menurut Rudy Fermana dari Universitas Mataram, penggunaan citra satelit Sentinel-2 yang dipadukan dengan algoritma Random Forest memungkinkan pemetaan cadangan karbon dilakukan secara lebih cepat dan efisien dibandingkan metode konvensional berbasis survei lapangan saja. Pendekatan ini membuka peluang pengembangan sistem pemantauan karbon mangrove secara berkelanjutan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Markum dari Universitas Mataram menjelaskan bahwa integrasi data penginderaan jauh dengan pengukuran biomassa lapangan menghasilkan estimasi cadangan karbon yang lebih representatif terhadap kondisi ekosistem sebenarnya. Model ini dapat digunakan sebagai dasar perencanaan konservasi mangrove sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional.
Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, dan perancang kebijakan lingkungan dalam menyusun strategi mitigasi perubahan iklim berbasis ekosistem pesisir. Data cadangan karbon spasial memungkinkan penentuan prioritas rehabilitasi mangrove dilakukan secara lebih tepat sasaran serta mendukung pengembangan perdagangan karbon berbasis sumber daya lokal.
Rudy Fermana merupakan peneliti dari Universitas Mataram. M. Junaidi merupakan peneliti dari Universitas Mataram. Markum merupakan peneliti dari Universitas Mataram.
0 Komentar