Edukasi Skrining Hipotiroid Tingkatkan Pengetahuan Ibu Hamil Secara Signifikan

Ilustrasi by AI

Penelitian yang dilakukan oleh Diana Aries Riani bersama Fevi Isnawati, Marisa, Refalinsa Da Costa, Maria Bernardo, Ana Maria, dan Yulia Nur Khayati dari Universitas Muhammadiyah Luwuk pada 2025 menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tentang skrining hipotiroid kongenital (SHK) secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu hamil. Kegiatan ini penting karena rendahnya pemahaman ibu hamil masih menjadi hambatan dalam deteksi dini gangguan tumbuh kembang bayi.

Skrining hipotiroid kongenital merupakan program penting untuk mendeteksi gangguan hormon tiroid sejak bayi baru lahir. Namun, di lapangan masih banyak ibu hamil yang belum memahami manfaat, prosedur, dan urgensi skrining ini. Keterbatasan akses informasi serta metode edukasi yang kurang interaktif menjadi penyebab utama rendahnya kesadaran tersebut.

Program edukasi dilaksanakan pada 4 Desember 2025 secara serentak di tiga fasilitas kesehatan, yaitu Puskesmas Tanjung Selor, RS dr. Soemarno Sosroatmodjo, dan Puskesmas Vera-Cruz. Sebanyak 60 ibu hamil terlibat dalam kegiatan ini. Edukasi dilakukan melalui penyuluhan langsung, penggunaan media visual, serta diskusi interaktif yang memungkinkan peserta bertanya dan berdialog dengan tenaga kesehatan.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan ibu hamil:

  • Rata-rata skor pretest meningkat dari 7,62 menjadi 10,80 pada posttest
  • Nilai signifikansi uji statistik < 0,001, menunjukkan perubahan yang sangat bermakna

Data pada tabel di halaman 6–7 juga menunjukkan bahwa nilai minimum meningkat dari 3 menjadi 6, sementara nilai maksimum meningkat dari 11 menjadi 15 setelah edukasi. Hal ini menandakan peningkatan pemahaman yang merata di hampir seluruh peserta.

Selama kegiatan, peserta terlihat aktif dan antusias. Metode edukasi yang menggabungkan penjelasan visual dan komunikasi interpersonal membuat materi lebih mudah dipahami. Ibu hamil tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi sehingga mampu memahami risiko jika skrining tidak dilakukan.

Diana Aries Riani dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menjelaskan bahwa pendekatan edukasi yang interaktif dan berbasis kebutuhan peserta terbukti efektif meningkatkan pemahaman. Ia menekankan bahwa peningkatan pengetahuan ini diharapkan dapat mendorong kesadaran dan kepatuhan ibu hamil dalam mengikuti skrining untuk kesehatan bayi mereka.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Edukasi kesehatan yang inovatif dapat menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Jika diterapkan secara berkelanjutan, pendekatan ini berpotensi menekan risiko gangguan tumbuh kembang bayi melalui deteksi dini yang lebih optimal.

Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua peserta mencapai pemahaman maksimal. Hal ini menegaskan perlunya edukasi berulang, dukungan keluarga, serta kolaborasi antara tenaga kesehatan dan institusi pendidikan agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.

Profil Penulis

  • Diana Aries Riani - Universitas Ngudi Waluyo
  • Fevi Isnawati- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Marisa- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Refalinsa Da Costa- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Maria Bernardo- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Ana Maria- Universitas Ngudi Waluyo
  • Yulia Nur Khayati - Universitas Ngudi Waluyo

Sumber Penelitian
Riani, D. A., Isnawati, F., Marisa, M., Da Costa, R., Bernardo, M., Maria, A., & Khayati, Y. N. (2026). Improving Pregnant Women's Knowledge Through Health Education About Congenital Hypothyroid Screening (CHS). Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 3, 201–210.

URL : https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i3.4

URL : https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

Posting Komentar

0 Komentar