Edukasi Pernikahan Dini dan Pelatihan Green Tea Tekan Risiko Stunting di Palu

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Palu - Program pengabdian masyarakat yang digagas Sitti Rahmawati bersama tim dari Universitas Tadulako dan Universitas Gadjah Mada menyoroti peningkatan kasus pernikahan dini di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada 2024 ini menekankan edukasi hukum, kesehatan reproduksi, serta pelatihan soft skills sebagai upaya mencegah stunting dan kematian ibu. Hasilnya dinilai penting karena menyasar remaja sekolah dan kelompok perempuan yang rentan terhadap praktik pernikahan usia anak.

Pernikahan dini masih menjadi persoalan serius di berbagai daerah Indonesia. Di Palu, tren menunjukkan peningkatan jumlah pernikahan anak dari 100 kasus pada 2018 menjadi 150 kasus pada 2019. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial, tetapi juga berisiko tinggi terhadap kesehatan reproduksi perempuan, termasuk komplikasi kehamilan, kematian ibu, hingga stunting pada anak.

Secara hukum, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 menetapkan batas usia minimal menikah adalah 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Namun, praktik di lapangan masih menunjukkan adanya pelanggaran akibat faktor sosial, ekonomi, budaya, dan rendahnya tingkat pendidikan. Banyak keluarga menikahkan anak lebih cepat karena tekanan ekonomi atau norma sosial yang berkembang di masyarakat.

Edukasi dan Pendekatan Komunitas

Tim peneliti melakukan kegiatan sosialisasi selama dua hari di Kelurahan Silae, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Program ini menyasar siswa SMP dan SMA, orang tua, serta tokoh masyarakat. Materi yang disampaikan meliputi:

  • Dampak pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi
  • Perspektif hukum dan hak anak
  • Faktor sosial ekonomi penyebab pernikahan dini
  • Pencegahan stunting melalui kesiapan reproduksi

Metode yang digunakan cukup sederhana namun efektif, yaitu penyuluhan langsung, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab. Pada gambar kegiatan di halaman 9, terlihat antusiasme peserta yang mengikuti sosialisasi di aula kelurahan.

Pendekatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya kesiapan fisik dan mental sebelum menikah. Selain itu, orang tua juga diberikan pemahaman agar tidak menikahkan anak di usia dini.

Pelatihan Soft Skills sebagai Solusi

Hal yang membedakan program ini dari edukasi biasa adalah adanya pelatihan keterampilan ekonomi, yaitu pembuatan minuman green tea dan Thai tea. Pelatihan ini ditujukan khusus bagi perempuan muda sebagai alternatif pemberdayaan ekonomi.

Pada gambar di halaman 11, terlihat proses pelatihan pembuatan green tea yang dilakukan langsung oleh tim pengabdian. Produk ini dinilai mudah dibuat, bahan bakunya tersedia, dan memiliki nilai jual.

Pendekatan ini menjadi strategi penting. Dengan memiliki keterampilan dan peluang usaha, perempuan tidak lagi melihat pernikahan sebagai satu-satunya jalan keluar dari tekanan ekonomi. Ini sekaligus membantu memutus rantai kemiskinan yang sering menjadi penyebab pernikahan dini.

Temuan Utama di Lapangan

Program ini menemukan beberapa faktor utama yang mendorong pernikahan dini:

  • Tekanan ekonomi keluarga
  • Rendahnya pendidikan
  • Norma sosial dan budaya
  • Kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi
  • Minimnya akses pekerjaan

Selain itu, dampak pernikahan dini juga sangat luas, antara lain:

  • Risiko tinggi kematian ibu dan bayi
  • Stunting dan gizi buruk pada anak
  • Putus sekolah
  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Tingkat perceraian yang tinggi

Data ini menunjukkan bahwa pernikahan dini bukan hanya masalah individu, tetapi juga persoalan struktural yang membutuhkan intervensi lintas sektor.

Dampak dan Implikasi

Program ini memberikan dampak langsung berupa peningkatan pengetahuan peserta mengenai risiko pernikahan dini. Remaja menjadi lebih sadar pentingnya pendidikan dan kesehatan reproduksi. Orang tua juga mulai memahami bahwa menikahkan anak di usia dini dapat membawa risiko jangka panjang.

Dari sisi kebijakan, program ini menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mengawasi implementasi Undang-Undang Perkawinan. Selain itu, integrasi edukasi kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum sekolah menjadi langkah strategis yang perlu diperluas.

Secara ekonomi, pelatihan green tea membuka peluang usaha kecil yang dapat membantu meningkatkan kemandirian perempuan. Ini menjadi salah satu solusi nyata untuk mengurangi tekanan ekonomi keluarga.

Sitti Rahmawati dari Universitas Tadulako menekankan bahwa pencegahan pernikahan dini harus dilakukan secara komprehensif. “Edukasi saja tidak cukup, perlu ada pemberdayaan ekonomi agar remaja memiliki pilihan masa depan yang lebih baik,” tulisnya dalam laporan penelitian.

Profil Penulis

Sitti Rahmawati adalah dosen di Departemen Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tadulako, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan ekonomi pembangunan.
Mudrajad Kuncoro merupakan akademisi dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada yang memiliki keahlian dalam ekonomi regional dan kebijakan publik.
Yohan, Nurnaningsih, dan Muhammad Akbar adalah peneliti dari Universitas Tadulako yang aktif dalam program pengabdian masyarakat dan isu sosial-ekonomi.

Sumber Penelitian

Artikel ini disusun berdasarkan jurnal:
“Gender-Responsive Empowerment through Green Tea Soft Skills Training as Part of Efforts to Prevent Stunting among Students in Early Marriages in Palu City, Central Sulawesi, Indonesia”
Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5 No. 1, 2026

Posting Komentar

0 Komentar