Dukungan Keluarga, Efikasi Diri, dan Keseimbangan Kehidupan Kerja pada Ibu Bekerja dengan Anak Usia Prasekolah di Era Digital

Illustration by Ai

FORMOSA NEWS- Surabaya

Dukungan Keluarga Jadi Kunci Work-Life Balance Ibu Bekerja di Era Digital

Penelitian terbaru oleh Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengungkap bahwa dukungan keluarga menjadi faktor paling menentukan dalam menjaga keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) ibu bekerja yang memiliki anak usia dini. Studi yang dilakukan oleh Elfa Khorifa Izlia Aqnuri, Amanda Pasca Rini, dan Andik Matulessy ini dipublikasikan pada 2026 dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), dan dinilai penting karena menjawab tantangan nyata ibu di era digital yang semakin kompleks.

Penelitian ini berfokus pada ibu bekerja dengan anak usia 0–6 tahun—fase yang dikenal sebagai masa “golden age”—di mana kebutuhan pengasuhan anak sangat tinggi. Di tengah tuntutan pekerjaan dan kemajuan teknologi yang membuat batas kerja semakin kabur, kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi isu krusial.

Tekanan Ganda Ibu Bekerja di Era Digital

Perkembangan teknologi digital memang memberi fleksibilitas kerja, namun di sisi lain juga memperpanjang jam kerja secara tidak langsung. Banyak ibu harus tetap responsif terhadap pekerjaan bahkan di luar jam kantor. Kondisi ini membuat peran ganda sebagai pekerja dan pengasuh anak semakin menantang.

Dalam konteks ini, dukungan dari keluarga—baik pasangan, orang tua, maupun anggota keluarga lain—menjadi faktor yang diduga mampu membantu ibu mengelola peran tersebut. Selain itu, faktor psikologis seperti self-efficacy atau keyakinan diri juga diyakini berperan dalam menghadapi tekanan tersebut.

Libatkan 268 Ibu, Gunakan Pendekatan Kuantitatif

Penelitian ini melibatkan 268 ibu bekerja yang memiliki anak usia dini. Para responden diminta mengisi kuesioner yang mengukur tiga aspek utama:

  • Dukungan keluarga
  • Self-efficacy (keyakinan diri dalam mengelola peran)
  • Work-life balance

Seluruh instrumen telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan metode statistik jalur (path analysis) dengan bantuan perangkat lunak JASP.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antar variabel.

Temuan Utama: Dukungan Keluarga Paling Berpengaruh

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:

  • Dukungan keluarga memiliki hubungan langsung dan signifikan dengan work-life balance (p < 0,001).
  • Self-efficacy juga berpengaruh terhadap work-life balance, meskipun dengan tingkat signifikansi lebih rendah (p = 0,033).
  • Dukungan keluarga tidak terbukti berhubungan signifikan dengan self-efficacy (p = 0,168).
  • Self-efficacy tidak berperan sebagai mediator antara dukungan keluarga dan work-life balance.

Artinya, meskipun rasa percaya diri penting, faktor utama yang menentukan keseimbangan hidup ibu bekerja tetap berasal dari lingkungan keluarga.

Peneliti menegaskan bahwa “dukungan keluarga menjadi prediktor utama dalam pencapaian work-life balance ibu bekerja di era digital,” sementara peran self-efficacy sebagai penghubung tidak terbukti secara statistik.

Mengapa Dukungan Keluarga Sangat Penting?

Dukungan keluarga tidak hanya berupa bantuan fisik seperti menjaga anak, tetapi juga mencakup dukungan emosional, komunikasi yang baik, serta pembagian peran yang adil dalam rumah tangga.

Ketika ibu merasa didukung, tekanan psikologis dapat berkurang, sehingga mereka lebih mampu mengelola waktu, energi, dan tanggung jawab secara seimbang.

Sebaliknya, tanpa dukungan tersebut, ibu berisiko mengalami kelelahan, stres, bahkan konflik antara pekerjaan dan keluarga.

Dampak bagi Dunia Kerja dan Kebijakan

Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi:

1. Dunia kerja
Perusahaan perlu memahami bahwa keseimbangan hidup karyawan perempuan tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga lingkungan sosialnya. Kebijakan seperti kerja fleksibel, cuti keluarga, dan dukungan parenting dapat membantu.

2. Keluarga
Pasangan dan anggota keluarga lain perlu lebih aktif terlibat dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

3. Pemerintah dan pembuat kebijakan
Hasil ini dapat menjadi dasar untuk merancang kebijakan ramah keluarga, termasuk fasilitas penitipan anak dan edukasi parenting.

4. Pendidikan dan masyarakat
Kesadaran tentang pentingnya peran kolektif dalam mendukung ibu bekerja perlu terus ditingkatkan.

Self-Efficacy Tetap Penting, Tapi Bukan Penentu Utama

Meski tidak menjadi mediator, self-efficacy tetap memiliki peran langsung dalam meningkatkan work-life balance. Ibu yang percaya pada kemampuannya cenderung lebih mampu menghadapi tekanan dan mengatur peran.

Namun, penelitian ini menegaskan bahwa keyakinan diri saja tidak cukup tanpa dukungan nyata dari lingkungan terdekat.

Profil Penulis

Elfa Khorifa Izlia Aqnuri, S.Psi., M.Psi.
Dosen dan peneliti di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus pada psikologi keluarga dan perempuan.

Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Psi.
Akademisi di bidang psikologi perkembangan yang meneliti dinamika keluarga dan pengasuhan anak usia dini.

Andik Matulessy, S.Psi., M.Si., Psikolog
Pakar psikologi sosial dan industri yang banyak meneliti perilaku kerja dan kesejahteraan psikologis.

Sumber Penelitian

Aqnuri, E. K. I., Rini, A. P., & Matulessy, A. (2026). Family Support, Self-Efficacy, and Work–Life Balance in Working Mothers of Preschool-Aged Children in the Digital Era
Vol. 6 No. 8, hlm. 329–340.

Posting Komentar

0 Komentar