BOSARA Dorong Digitalisasi UMKM Sulawesi Tenggara, Tapi Masih Hadapi Kendala SDM dan Infrastruktur

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sulawesi Tenggara - Kebijakan digitalisasi pengadaan barang dan jasa melalui aplikasi BOSARA di Sulawesi Tenggara menunjukkan hasil yang cukup efektif dalam mendorong daya saing UMKM. Studi yang dilakukan oleh Jabal, Andi Tenri, dan La Didi dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin pada 2026 mengungkap bahwa implementasi kebijakan ini telah berjalan dengan struktur organisasi yang jelas, meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan penting.

Penelitian ini menjadi penting karena digitalisasi UMKM merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam menghadapi ekonomi digital. Di luar Pulau Jawa, termasuk Sulawesi Tenggara, tingkat adopsi sistem belanja online pemerintah oleh UMKM masih tergolong rendah. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital, serta minimnya kepercayaan terhadap sistem digital.

Latar Belakang: Kesenjangan Digital UMKM Daerah

Transformasi digital di sektor publik, khususnya dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi UMKM untuk ikut serta dalam pasar pemerintah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan implementasi.

Data menunjukkan ratusan UMKM di Sulawesi Tenggara belum berhasil terlibat dalam sistem pengadaan digital pemerintah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebijakan yang secara teori mampu meningkatkan akses pasar justru belum sepenuhnya optimal dalam praktiknya.

Penelitian ini menyoroti bahwa keberhasilan kebijakan digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan organisasi pemerintah dan kemampuan pengguna, dalam hal ini UMKM.

Metodologi: Pendekatan Kualitatif Mendalam

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui:

  • Wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah dan pelaku UMKM
  • Observasi penggunaan aplikasi BOSARA
  • Analisis dokumen kebijakan dan laporan implementasi

Informan penelitian meliputi Biro Pengadaan Barang/Jasa, Dinas Koperasi dan UMKM, serta tim teknis pengelola aplikasi. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola implementasi kebijakan.

Temuan Utama: Struktur Kuat, Tantangan Nyata

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi BOSARA tergolong cukup efektif dari sisi organisasi. Beberapa temuan utama meliputi:

1. Struktur organisasi jelas dan terkoordinasi
Biro Pengadaan Barang/Jasa menjadi leading sector dengan pembagian tugas yang tegas antar instansi.

2. Pembagian peran fungsional berjalan baik

  • Biro Pengadaan mengelola kebijakan
  • Dinas UMKM membina pelaku usaha
  • Tim teknis mengelola sistem digital

3. Dukungan regulasi kuat
Adanya instruksi gubernur dan kebijakan formal memperkuat legitimasi implementasi.

Namun, penelitian juga menemukan sejumlah tantangan signifikan:

  • Keterbatasan sumber daya manusia, terutama tenaga teknis
  • Kapasitas infrastruktur IT yang belum optimal, seperti server dan jaringan
  • Koordinasi lintas instansi masih cenderung informal
  • Minimnya keterlibatan pihak eksternal, seperti swasta dan akademisi

Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan digital tidak hanya bergantung pada struktur birokrasi, tetapi juga kesiapan teknologi dan kolaborasi antar pihak.

Dampak dan Implikasi: Peluang Besar untuk UMKM

Implementasi BOSARA memberikan dampak positif dalam membuka akses UMKM terhadap pasar pengadaan pemerintah. Dengan sistem digital, proses menjadi lebih transparan, efisien, dan kompetitif.

Namun, tanpa perbaikan pada aspek SDM dan infrastruktur, potensi manfaat ini tidak akan maksimal. Penelitian ini menekankan pentingnya:

  • Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan berkelanjutan
  • Penguatan infrastruktur digital untuk mendukung pertumbuhan pengguna
  • Pembentukan mekanisme koordinasi formal antar instansi
  • Kolaborasi dengan sektor swasta dan perguruan tinggi

Menurut penulis, “keberhasilan implementasi kebijakan digital di daerah sangat ditentukan oleh kesiapan organisasi dan kemampuan membangun sinergi antar aktor,” ujar La Didi dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin.

Analisis: Digitalisasi Bukan Sekadar Teknologi

Studi ini memperkuat pandangan bahwa transformasi digital dalam sektor publik bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan organisasi dan budaya kerja. Tanpa kesiapan institusi, kebijakan digital berisiko berhenti pada level formalitas saja.

Selain itu, keterlibatan stakeholder eksternal menjadi kunci untuk mempercepat inovasi dan meningkatkan kualitas layanan publik. Pendekatan kolaboratif dinilai mampu menjembatani keterbatasan internal pemerintah.

Profil Penulis

Jabal
Peneliti di Universitas Dayanu Ikhsanuddin, fokus pada kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan.

Andi Tenri
Akademisi Universitas Dayanu Ikhsanuddin dengan keahlian di bidang administrasi publik dan pengembangan UMKM.

La Didi
Dosen dan peneliti Universitas Dayanu Ikhsanuddin, spesialis dalam kebijakan publik, digitalisasi pemerintahan, dan implementasi kebijakan.

Sumber Penelitian

Jabal, Andi Tenri, & La Didi. (2026). Organizing the Implementation of the BOSARA Policy to Enhance the Competitiveness of MSMEs within the Southeast Sulawesi Provincial Government. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 4, 1051–1064.

Posting Komentar

0 Komentar