Bahasa Indonesia Dinilai Berpeluang Menjadi Bahasa Regional ASEAN

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS- Medan- Bahasa Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi bahasa regional di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu disampaikan dalam penelitian yang ditulis oleh Sulaiman Ahmad, Syahrudin Marpaung, Raina Rosanti, dan Heddy dari Politeknik Negeri Medan. Penelitian tersebut diterbitkan dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) tahun 2026.

Kajian ini menjadi penting karena hingga kini ASEAN belum memiliki satu bahasa regional yang benar-benar mewakili identitas bersama negara-negara Asia Tenggara. Selama ini, bahasa Inggris masih mendominasi komunikasi resmi antarnegara. Namun, dominasi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan budaya dan identitas kawasan.

Para peneliti melihat Bahasa Indonesia memiliki modal kuat untuk mengambil peran yang lebih besar. Selain digunakan oleh lebih dari 270 juta penduduk Indonesia, Bahasa Indonesia juga memiliki kedekatan dengan bahasa Melayu yang digunakan di sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan sebagian masyarakat Singapura.

Menurut tim peneliti dari Politeknik Negeri Medan, kedekatan budaya dan bahasa tersebut membuat Bahasa Indonesia lebih mudah diterima di kawasan Asia Tenggara dibandingkan bahasa asing lain yang berasal dari luar kawasan.

Bahasa Indonesia Mudah Dipelajari

Salah satu alasan utama Bahasa Indonesia dianggap berpotensi menjadi bahasa regional ASEAN adalah karena strukturnya relatif sederhana. Bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata kerja yang rumit seperti dalam bahasa Inggris atau bahasa lain.

Kemudahan itu membuat Bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari oleh penutur asing. Faktor ini dinilai dapat mempercepat penyebaran Bahasa Indonesia di negara-negara ASEAN.

Penelitian juga menyoroti sejarah Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa sejak Sumpah Pemuda 1928. Bahasa Indonesia berhasil menyatukan beragam suku, budaya, dan bahasa daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut dianggap dapat menjadi contoh bahwa Bahasa Indonesia juga berpotensi menjadi alat integrasi di tingkat regional.

Selain itu, minat dunia internasional terhadap Bahasa Indonesia terus meningkat. Banyak universitas di luar negeri telah membuka program studi atau mata kuliah Bahasa Indonesia. Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA juga berkembang di berbagai negara.

Program BIPA disebut sebagai salah satu instrumen utama untuk memperluas penggunaan Bahasa Indonesia di tingkat internasional. Melalui program ini, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat asing dapat mempelajari Bahasa Indonesia secara formal.

Tantangan dari Bahasa Inggris dan Mandarin

Meski memiliki potensi besar, jalan Bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa ASEAN masih menghadapi banyak hambatan. Tantangan terbesar datang dari dominasi bahasa Inggris yang telah lama digunakan dalam komunikasi resmi ASEAN.

Bahasa Inggris dianggap lebih mapan karena telah digunakan dalam dunia diplomasi, bisnis, pendidikan, dan teknologi. Selain bahasa Inggris, Mandarin juga mulai menjadi pesaing kuat seiring meningkatnya pengaruh ekonomi China di Asia Tenggara.

Penelitian ini menyebut banyak negara ASEAN cenderung mempertimbangkan manfaat ekonomi ketika memilih bahasa asing yang dipelajari masyarakatnya. Karena itu, Bahasa Indonesia harus mampu menunjukkan nilai tambah agar dapat bersaing dengan bahasa lain.

Hambatan lain datang dari belum adanya kebijakan bersama di tingkat ASEAN mengenai penggunaan bahasa regional. Setiap negara masih mempertahankan kebijakan bahasa nasional masing-masing sehingga sulit untuk membangun standar bahasa bersama.

Di sisi internal, promosi Bahasa Indonesia juga dinilai belum maksimal. Program internasionalisasi bahasa belum merata di seluruh negara ASEAN. Keterbatasan tenaga pengajar, anggaran, dan materi pembelajaran masih menjadi kendala.

Peneliti juga menyoroti masih rendahnya eksposur Bahasa Indonesia di ruang digital global. Dibandingkan bahasa lain, jumlah konten digital berbahasa Indonesia yang mendunia masih relatif sedikit.

Strategi Memperkuat Posisi Bahasa Indonesia

Untuk memperkuat posisi Bahasa Indonesia di ASEAN, penelitian ini menawarkan beberapa strategi utama.

Pertama, pemerintah perlu memperluas dan memperkuat program BIPA di berbagai negara ASEAN. Jumlah pengajar harus ditambah dan kualitas pembelajaran perlu ditingkatkan.

Kedua, diplomasi bahasa harus menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Indonesia. Bahasa Indonesia dapat diperkenalkan melalui kegiatan budaya, kerja sama pendidikan, pertukaran pelajar, hingga forum-forum regional.

Ketiga, pemanfaatan teknologi digital harus ditingkatkan. Konten kreatif seperti film, musik, video, podcast, dan media sosial berbahasa Indonesia dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk menarik generasi muda ASEAN.

Peneliti menilai generasi muda memiliki peran penting dalam penyebaran bahasa. Semakin banyak anak muda ASEAN yang mengonsumsi konten berbahasa Indonesia, semakin besar peluang bahasa ini berkembang di kawasan.

Keempat, kerja sama antarnegara ASEAN perlu diperkuat. Indonesia dapat mendorong program pertukaran mahasiswa, dosen, guru, dan pelajar untuk memperluas penggunaan Bahasa Indonesia.

Pemerintah juga dinilai perlu menyediakan kebijakan yang lebih jelas dan anggaran yang lebih besar untuk mendukung internasionalisasi Bahasa Indonesia.

Dampak bagi Indonesia dan ASEAN

Jika Bahasa Indonesia berhasil berkembang menjadi bahasa regional ASEAN, dampaknya dinilai sangat besar. Dari sisi diplomasi, posisi Indonesia di kawasan akan semakin kuat.

Bahasa dapat menjadi bagian dari soft power atau kekuatan lunak Indonesia. Melalui bahasa, Indonesia dapat memperluas pengaruh budaya, pendidikan, dan hubungan internasional tanpa tekanan politik.

Di tingkat regional, penggunaan Bahasa Indonesia dapat membantu membangun identitas bersama ASEAN. Komunikasi antarnegara akan menjadi lebih mudah dan efektif.

Dari sisi ekonomi, penggunaan bahasa yang sama juga dapat memperkuat hubungan bisnis, perdagangan, dan investasi di kawasan. Dunia pendidikan pun diperkirakan akan ikut berkembang melalui pertukaran mahasiswa, dosen, dan penelitian antarnegara.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa proses internasionalisasi Bahasa Indonesia tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan strategi jangka panjang, komitmen politik, dan kerja sama yang konsisten dari seluruh negara ASEAN.

Sulaiman Ahmad dan tim peneliti dari Politeknik Negeri Medan menilai masa depan Bahasa Indonesia di ASEAN masih sangat terbuka. Dengan dukungan teknologi, pendidikan, diplomasi, dan budaya, Bahasa Indonesia dinilai mampu menjadi salah satu simbol identitas baru Asia Tenggara.

Profil Penulis

Sulaiman Ahmad merupakan akademisi dari Politeknik Negeri Medan yang memiliki perhatian pada isu bahasa, pendidikan, dan kebijakan regional. Penelitian ini juga ditulis bersama Syahrudin Marpaung, Raina Rosanti, dan Heddy yang berasal dari institusi yang sama.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Strategy for The Internationalization of Indonesian As an ASEAN Language
Penulis: Sulaiman Ahmad, Syahrudin Marpaung, Raina Rosanti, Heddy
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume 4, Nomor 3, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i3.366

URL:  https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar